JAKARTA - Anggapan bahwa gembong teroris Santoso mati syahid patut dipertanyakan. Klaim pengikut dan simpatisan Santoso yang didukung pemberitaan media non mainsteam merupakan bentuk perang opini. Masyarakat diharapkan tidak terjebak dengan propaganda terorisme tersebut dan harus jeli melihat konteks persoalan.
“Ini perang opini melalui media yang dihembuskan kalangan tertentu. Mereka menyebarkan bahwa ada spanduk dukungan yang meriah dari masyarakat dan menyebut Santoso itu syuhada, padahal bukan. Dia teroris,” kata pengamat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, DR Iswandi Syahputra, MSi, kepada media, Selasa (26/7/2016).
Seperti diketahui Satuan Tugas Operasi Tinombala gabungan TNI dan Kepolisian RI berhasil melumpuhkan Komandan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah. Santoso tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala, dalam hal ini tim Alfa 29 Batalion 515 Jember, di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah, Senin 18 Juli 2016.
Setelah dilakukan dilakukan identifikasi dengan tes DNA, jenazah Santoso langsung dimakamkan keluarganya di Poso. Pada pemakaman itu, simpatisan dan pendukung Santoso mengklaim mati syahid. Klaim itu juga tersebar di media radikal dan media sosial kelompok teroris.
Menurut Iswandi, ini bukan hal baru. Dia mengingatkan bahwa pada 2000-an ketika pelaku bom Bali , Amrozi dihukum mati, beredar dari mulut ke mulut bahwa Amrozi mati syahid, karena bersamaan dengan adanya lafal Allah dalam Bahasa Arab di langit, disertai angin yang bertiup ketika pemakaman, dan burung-burung yang berkicau.