Al Chaidar: Operasi Tinombala Lebih Efektif Dilakukan TNI, Bukan oleh Polisi

Chyntia Sami Bhayangkara, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 18:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872787 al-chaidar-operasi-tinombala-lebih-efektif-dilakukan-tni-bukan-oleh-polisi-09OnDc58DH.jpg Pengamat terorisme Al Chaidar (Antara)

JAKARTA – Polri tetap melanjutkan Operasi Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah karena diklaim masih tersisa 10 orang lagi anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (TIM) pengikut Santoso. Pengamat terorisme, Al Chaidar menilai operasi tersebut akan efektif jika dilakukan oleh TNI.

Operasi Tinombala memburu kelompok Santoso digulirkan sejak 2016 dan sudah sembilan kali diperpanjang.

Al Chaidar mengatakan, untuk melanjutkan Operasi Tinombala di Poso maka kepolisian harus kembali meminta bantuan TNI agar operasi lebih efektif, karena wilayahnya berada di hutan.

"Sebenarnya Operasi Tinombala itu lebih efektif kalau dilakukan oleh tentara. Jadi bukan lagi oleh polisi. Karena mereka adanya di satu lokasi dan terikat hanya di satu teritorial saja atau disebut teroris tamkin," ujar Chaidar kepada Okezone, Rabu (14/3/2018).

Sementara, jika teroris tersebut berada permukiman atau perkotaan, berpindah-pindah menyebarkan pemahaman radikali, maka kepolisian memiliki peran besar dan efektif untuk menumpasnya.

Menurut Chaidar, beberapa kali TNI telah memberikan kode kepada kepolisian dan membuka peluang untuk mengerahkan pasukannya membantu Operasi Tinombola.

(Baca juga: Teroris Kelompok Santoso Tersisa 10 Orang, Operasi Tinombala Dilanjutkan)

Hanya saja, polisi hingga kini masih bergeming dan tampak sangat berhati-hati dalam menentukan keputusan. Terlebih, Chaidar juga melihat peristiwa yang terjadi di kawasan Poso dijadikan sebagai arena latihan bagi para anggota kepolisian.

"Pihak tentara menunggu permintaan bantuan. Jadi, kalo ada permintaan bantuan dari polisi baru membantu. Dulu polisi sudah minta dan keliatannya untuk kelanjutannya operasi itu harus diminta lagi. Saya kira ini karena belum adanya revisi UU Antiteror tahun 2003 itu makanya ditahan-tahan terus supaya enggak ada keterlibatan TNI di situ, jadi polisi lebih berhati-hati," paparnya.

Proses penumpasan paham terorisme yang memakan waktu lama pun diyakini dijadikan celah bagi para anggota MIT di bawah komando Ali Kalora untuk merekrut beberapa anggota baru.

Semakin lama proses penyelesaian kasus tersebut maka peluang untuk merekrut anggota baru pun akan semakin besar. "Jelas ada (rekrutmen), ini sebenernya jumlah 10 itu sudah diprediksi ada beberapa orang yang ditarik dari Toli Toli ini orang baru, dari Mindanao datang juga, saya enggak tau cara mereka bisa bertemu atau direkrut," ungkapnya.

Chaidar pun berharap pemerintah dapat mempertimbangkan lebih matang lagi untuk mengambil langkah persuasif untuk menciptakan perdamaian agar tidak ada lagi nyawa yang menjadi taruhannya. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui membangun komunikasi dengan kelompok radikal yang menjadi refren atau perantara yang dapat dipercaya.

"Bisa dengan membangun negosiasi dengan Darul Islam. Mereka itu kan dekat dengan MIT dan tau betul seperti apa MIT. Dengan diambil langkah itu akan lebih langgeng upaya perdamaiannya. Dan yang perlu diketahui, meraka adalah orang yang tunduk, patuh, dan taat pada perjanjian. Sikap ideologis teroris seperti itu, sehingga kemungkinan menjaga perjanjian perdamaian besar," tutupnya.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini