Peredaran LKS yang diduga melecehkan lambang negara peredaraanya di Mojokerto ungkap Anggela hanya ada 100 eksemplar saja. "Silahkan saja jika mau ditarik dan dikembalikan kami siap menerima," pungkas Anggela.
Sementara itu dia nambahkan, setiap LKS yang diproduksi pihaknya melalui tahap seleksi sebelum disebar ke distributor. "Semua cetakan LKS di CV kami sudah melalui seleksi apakah layak keluar apa tidak," papar Anggela.
Proses produksi LKS cukup panjang sebelum masuk cetak. Baik dari segi isi bukunya yang harus sesuai standar, pilihan desain gambar sampul depan juga melewati tim pengujian. "Jadi tidak gampang. Jika sudah naik cetak berarti buku itu memang layak edar," pungkasnya.
LKS keluaran perusahaan ini dianggap melecehkan simbol negara, karena sampulnya berisi gambar Garuda dengan sayap patah. Kemudian sampul lainnya berisi gambar anak laki-laki hanya dengan mengenakan pakaian dalam, sambil membawa bendera Merah Putih.
(Risna Nur Rahayu)