Pemandangan anak laki-laki hanya mengenakan pakaian dalam sambil bermain, seling terlihat di daerah. "Di kampung, anak bermain air di sungai bertelanjang dada hal yang biasa terjadi," terangnya lagi.
Masih ada yang janggal, sambung Angglea, buku dengan sampul anak laki-laki di bawah air terjun sambil memegang bendera, merupakan cetakan dua tahun lalu dan sudah tersebar lama. Namun baru belakangan ini dipermasalahkan.
"Sedangkan untuk gambar Garuda itu juga merupakan cetakan kami satu tahun lalu dan sudah tak dicetak lagi. Jika saat ini ditemukan berarti buku itu berasal dari agen kami," ujarnya.
Protes terhadap buku LKS yang dinilai melecehkan simbol negara pertama kali muncul di Mojokerto, Jawa Timur.
(Risna Nur Rahayu)