PADA 6 September 1976, terjadi sebuah insiden yang dianggap telah mencoreng nama dari Uni Soviet. Insiden itu terjadi ketika seorang pilot Angkatan Udara (AU) Soviet mendaratkan pesawat jet tempurnya di Jepang dan meminta suaka di Amerika Serikat (AS).
Sebagaimana dilansir History, Selasa (6/9/2016) ketika Soviet pertama kali memperlihatkan produksi pesawat MIG-25 pada 1960, hampir semua pejabat AS langsung terkejut. Sebab pesawat ini disebut sebagai pesawat jet tercepat, tercanggih dan paling mematikan di masanya.
Sehingga ketika diumumkan, AS merasa langsung tertinggal di perlombaan persenjataan yang menjadi tema utama Perang Dingin. Namun, bak mendapatkan durian runtuh, karena aksi pembelotan seorang pilot Soviet, para pejabat AS dapat mempelajari pesawat MIG-25 dari dekat.
Insiden pembelotan diawali ketika Letnan Viktor Belenko membawa MIG-25 miliknya keluar dari wilayah udara Soviet dan mendarat di landasan udara Jepang di Hakodate, Hokkaido. Polisi Jepang langsung menangkap Belenko. Buntutnya, sang pilot meminta diberikan suaka di Negeri Paman Sam.
Mendengar MIG-25 berada di wilayah Jepang, para ahli dari AS langsung datang ke lokasi untuk melihat dan meneliti pesawat jet buatan Uni Soviet itu. Setelah diinterogasi berkali-kali oleh otoritas Negeri Sakura dan Negeri Paman Sam, Belenko akhirnya diterbangkan ke AS serta mendapatkan suaka politik.
Bagi Soviet, hal itu dianggap insiden diplomatis besar dan mencoreng nama militer mereka. Pasalnya, salah satu pesawat paling maju mereka diberikan begitu saja oleh tentaranya ke tangan AS yang dianggap sebagai musuh dari Soviet. (emj)
(Rifa Nadia Nurfuadah)