FARMVILLE – Persoalan di Suriah tidak hanya soal pengungsi. Lebih dalam lagi, ada unsur kepentingan politik dan perang berkepanjangan yang mengakibatkan perpindahan orang dalam jumlah besar keluar dari negara tersebut.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika Serikat dan Rusia menjadi dua kutub kekuatan dunia yang terlibat di baliknya. Bersama-sama ingin memberangus teroris, keduanya saling memunggungi tatkala membicarakan kedudukan Presiden Suriah Bashar al Assad. Satu pihak ingin menggulingkan, sedangkan satu lagi mempertahankan.
“Tentu kita akan mendesak Rusia. Bernegosiasi dengan Rusia, termasuk meminta mereka mengurangi persediaan nuklirnya. Hillary Clinton memiliki pengalaman untuk itu, dia sudah pernah bertemu dengan (Presiden Rusia, Vladimir) Putin untuk membahasnya,” jawab Kaine mantap dalam Debat Cawapres AS di Longwood University, Farmville, Virginia, Selasa 4 Oktober waktu AS atau Rabu (5/10/2016) waktu Indonesia.
Masih dalam kapasitasnya memuji Hillary, Kaine menambahkan, “Tahukah Anda bahwa Iran gencar mengembangkan senjata nuklir dan Rusia yang jadi pemasoknya? Di bawah kepemimpinan Menlu Hillary Clinton, dia menjadi bagian dari tim keamanan publik nasional yang pergi menegosiasikan hal ini. Sampai akhirnya bisa melenyapkan Osama bin Laden dari muka bumi.”
“Dia bekerja sama dengan Rusia waktu itu untuk mengurangi persediaan senjata kimianya. Hillary juga yang bekerja keras mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk mengeliminasi program senjata nuklir Iran tanpa harus berperang, benar-benar tidak ada tembak-menembak,” sambung dia.
Memanfaatkan waktu dua menit untuk menjawab, tak lupa Senator Virginia itu melancarkan serangan lagi kepada capres Republik Donald Trump. “Berbeda halnya dengan Trump, kalau dia negosiasi nantinya dengan uang. Semua jadi urusan bisnis,” sindirnya.
Mendengar jawaban penutup lawan, Pence gatal ingin membalas. Meski begitu, dia menahan diri dan tetap tenang. Membiarkan sampai Kaine selesai lalu menyampaikan sanggahannya.
“Kata-kata Anda salah total. Warga AS tahu itu. Hillary Clinton sewaktu menjabat menlu pernah mengupayakan ‘pengaturan ulang’, semacam jalan pintas perbaikan hubungan antara AS dan Rusia, tetapi hasilnya adalah invasi terhadap Ukraina di Krimea,” paparnya.
Sementara mengenai hubungan antara AS dan Rusia, Gubernur Indiana itu menyerukan kepemimpinan yang kuat sebagai solusinya. “Amerika Serikat lebih hebat dari Rusia. Perekonomian kita enam kali lipat lebih maju dari negara kecil itu. Jadi mengapa kita harus mau didikte oleh mereka?” tukasnya merujuk kepada Presiden Barack Obama dan Hillary yang dinilainya membuat AS lemah di mata dunia.
Lebih lanjut, politisi Republik yang pernah menjadi penyiar radio itu menegaskan, AS harus lebih kuat untuk bisa melindungi hak-hak warga Suriah. Menurut Pence, sudah saatnya Negeri Paman Sam merasakan kepemimpinan yang kuat yang didukung militer yang kuat pula.
Ia juga mengusulkan, satu-satunya jalan keluar bagi rakyat Suriah yang terjebak di antara perang ini adalah membangun zona aman, serta bekerja sama dengan negara-negara sekutu di Arab. Terkait usulan ini, Kaine mengaku sepakat. Namun soal kepempinan Trump, dia sangsi berat.
“Kalau kau tidak bisa membedakan kepemimpinan dan kediktatoran, sebaiknya kembali saja ke bangku sekolah. Putin jelas diktator. Trump juga bilang kalau dunia akan lebih baik jika (Presiden Mesir Moammar) Khadafi dan (Presiden Irak) Saddam Hussein masih berkuasa,” ucap Kaine sambil menggeleng-gelang dan tersenyum mengejek.
(Silviana Dharma)