NEWS STORY RAWAGEDE: Kisah Adul & Atung Berangkulan saat Dijemput Ajal

Randy Wirayudha, Jurnalis
Minggu 27 November 2016 08:27 WIB
Patung berwarna emas sebagai pengingat kisah tragis Ibu Martem dan kedua anaknya, Adul dan Atung (Foto: Randy Wirayudha)
Share :

DI pedalaman Karawang, Jawa Barat, tepatnya Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, berdiri dengan gagahnya sebuah monumen peristiwa memilukan di masa revolusi fisik (1945-1949). Peristiwa dibantainya sekira 431 warga desa oleh serdadu Belanda.

Kampung Rawagede di Karawang yang kini terpecah jadi empat desa, pada suatu pagi ba’da Subuh 9 Desember 1947, mendadak mencekam. Hujan besar yang pagi itu jadi momen ratusan warga desa lelaki yang berusia 15 tahun ke atas, direnggut nyawanya secara paksa oleh pasukan Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Mayor Alphons Wijman.

Mereka menggeruduk Rawagede demi memburu para petarung republik. Terutamanya Kapten Lukas Kustaryo, salah satu perwira tentara republik dari Divisi Siliwangi yang sebelumnya, acap bikin ulah terhadap konvoi Belanda.

Kebetulan sebenarnya sehari sebelum Belanda menyerbu ke Rawagede dari arah Karawang Kota dengan menelusuri rel, beberapa gerilyawan mengadakan rapat di salah satu rumah di Rawagede. Selain ada Kapten Lukas Kustaryo, ada pula pimpinan Laskar Hisbullah-Sabilillah KH Noer Ali.

Tapi saat kejadian tentara Belanda masuk Rawagede, mereka sudah kembali ke pos-pos gerilya masing-masing. Satu per satu rumah-rumah warga digedor tentara Belanda.

Satu per satu pula warga desa yang laki-laki diinterogasi. Saat tak ditemui jawaban yang dikehendaki tentang di mana tentara republik bersembunyi, nyawa warga desa pun melayang.

Dua di antaranya adalah Adul dan Atung. Dua kakak beradik yang rumahnya sempat dibakar dan ayahnya juga ditembak Belanda. Mayat mereka sempat dikuburkan ibunya yang bernama Ibu Martem dekat rumah, tapi kemudian dipindah ke Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga di belakang Monumen Rawagede.

Kisah ini didapat Okezone ketika menelusuri Monumen Rawagede belum lama ini dan bertemu Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede di lokasi. Kisah itu juga diabadikan dengan patung berwarna emas di lantai dua monumen yang ‘kelar’ dibangun pada 1995 itu.

“Dulu yang mengajukan dibuatnya patung berwarna emas menggambarkan seorang ibu merangkul anaknya (di lantai) itu, berdasarkan kisah keluarga Ibu Martem. 9 Desember 1947, rumah Bapak dan Ibu Martem digedor sama Belanda, seperti rumah-rumah yang lain,” terang Sukarman kepada Okezone.

“Digedor Belanda, sekira satu jam enggak keluar-keluar mereka. Rumahnya pun dibakar dan ketika hampir habis (hangus) semua rumahnya, baru bapaknya lari keluar diikuti ibunya. Nah, Atung dan Adul juga kemudian lari saat Belanda mengejar bapaknya,” imbuhnya.

Ditambahkan Sukarman, kala itu dua anak baru gede (ABG) itu ikut diuber Belanda, setelah Belanda menembak mati ayahnya. Adul yang saat itu baru 17 tahun dan Atung dua tahun lebih muda, ikut tertangkap di tepian sungai.

“Setelah membunuh ayahnya, Belanda mengejar Adul dan Atung. Pas dipinggir kali ditangkap dan pas mau dibantai, mereka berangkulan. Meninggallah keduanya, dihanyutkan Belanda ke kali,” sambung Sukarman.

Ibu Martem yang selamat dari pembantaian itu, mengerahkan keluarganya yang tersisa untuk mencari kedua anaknya. Baru empat hari berselang, Adul dan Atung ditemukan di sebuah tepian sungai.

“Pas diangkat (dari sungai), ternyata mereka masih berangkulan. Makanya diabadikan (dengan patung), ada ibu yang merangkul kedua anaknya,” lanjutnya lagi.

Itu hanya secuplik kisah korban peristiwa Rawagede, di mana 431 orang jadi korban. Pun begitu, hanya 181 makam yang ada di belakang monumen.

“Makam di sini ada 181 dari 431 korban. Yang dimakamkan di sini justru yang sebelumnya dikubur dekat rumah keluarga masing-masing. Sementara yang dibantai di pinggir kali, ya dikuburkan dekat situ. Enggak dipindahkan juga, karena tidak ada yang tahu nama-namanya,” papar Sukarman.

“Setelah peristiwa, banyak yang menguburkan sendiri dari keluarganya. Dikubur pakai bedog (golok), cuma setengah meter (liangnya). Dibungkusnya pakai kain seprai, pakai kelambu, (penutup) jendela, tapi enggak ada yang nyembayangin (menyalati). Dikubur begitu aja,” tandasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya