PADA 21 Desember 1988, sejarah mencatat suatu tragedi yang menewaskan ratusan orang di mana tragedi tersebut dipicu oleh dendam. Hari ini pada 28 tahun yang lalu, pesawat Pan Am nomor penerbangan 103 dari London menuju New York mendadak meledak ketika pesawat tersebut berada di wilayah udara Lockerbie, Skotlandia.
Ledakan ini menewaskan 243 penumpang dan 16 kru pesawat serta 11 warga Lockerbie. Sebuah bom yang disembunyikan di dalam pemutar kaset yang berada di ruangan kargo disebut sebagai penyebab ledakan tersebut. Tragedi ini juga memicu penyelidikkan besar-besaran yang dilakukan Inggris dan diduga serangan ini ditujukan terhadap Amerika Serikat (AS) mengingat 198 korban pada tragedi itu merupakan warga AS.
Kelompok teroris dituding meletakkan bom tersebut ketika pesawah nahas itu berada di Frankfurt, Jerman. Para penyidik mencurigai tragedi ini memiliki hubungan dengan dua insiden yang terjadi pada 1986 dan 1988.
Insiden pertama yang diduga memicu tragedi ini adalah serangan AS ke Libya pada 1986 dan menyebabkan puluhan orang tewas, termasuk putri dari Muammar al- Qaddafi. Sedangkan insiden kedua adalah pada 1988 ketika AS secara tidak sengaja menembak pesawat Iran Air di atas wilayah Teluk Persia dan menewaskan 290 orang.
Sebelum tragedi Pan Am terjadi, Kedutaan Besar AS di Helsinki, Finlandia, menerima telefon peringatan mengenai bom yang disembunyikan di pesawat Pan Am di Frankfurt. Namun, para pejabat menyebut hubungan peringatan dengan tragedi Pan Am di Skotlandia hanyalah kebetulan semata.