TOP FILES: Mengenal Gus Dur dalam Kilas Ingatan

Randy Wirayudha, Jurnalis
Jum'at 23 Desember 2016 16:59 WIB
Mendiang KH Abdurrachman Wahid alias Gus Dur (Foto: Heru Haryono/OKEZONE)
Share :

Pendidikannya pernah dirajut di SD KRIS di Jakarta dan sempat pindah ke SD Matraman Perwari, kala sang ayah menjadi Menteri Agama. Pendidikanya kemudian dilanjutkan di jenjang SMP sembari ‘nyantri’ di Pondok Pesantren (Ponpes) Krapyak, Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Maksum.

Kemudian selepas jenjang SMP, Gus Dur lanjut ke jenjang berikutnya di Pesantren Tegalrejo di Magelang, kemudian kembali ke Jombang di Pesantren Tambakberas. Selepas sekolah, Gus Dur sempat jadi guru dan kepala sekolah yang “disambi” dengan pekerjaan jurnalis di majalah ‘Horizon’ dan ‘Budaya Jaya’.

Setelah mendapat beasiswa Kementerian Agama pada 1963, Gus Dur keluar negeri untuk kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan sempat kerja di Kedutaan Besar RI di Kairo. Kehidupannya kuliah dan kerja di KBRI itu sempat terganggu peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).

Gus Dur kemudian memilih kehidupan bari di Irak dengan masuk Universitas Baghdad yang lagi-lagi karena beasiswa dan baru kembali ke Indonesia pada 1971. Pekerjaannya di Indonesia diawali dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), sekaligus melanjutkan karier sebelumnya sebagai wartawan.

Sempat pula jadi dosen di Universitas Hasyim Asyari, sebelum akhirnya aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU). Politik juga jadi bidang khusus yang dimasuki Gus Dur dengan bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Di ranah politik, Gus Dur terkenal keras dan lantang jika bicara soal rezim pemerintahan Soeharto. Tapi tak seperti para aktivis lainnya, Gus Dur acap luput dari penangkapan lantaran punya kedekatan dengan Panglima ABRI (Pangab) Jenderal Leonardus Benyamin ‘Benny’ Moerdani.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya