JAKARTA – Peneliti dan pengamat terorisme, Al Chaidar, menyebut kelompok teroris saat ini kebanyakan merupakan pemain baru yang bisa belajar merakit bom dan meledakkan bom hanya dari media sosial atau video-video yang dikirimkan Bahrun Naim.
Bahrun Naim diduga berada di balik aksi sejumlah teror bom di Indonesia seperti kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, awal 2016. Sejumlah tersangka ataupun terduga teroris yang diciduk tim Detasemen Khusus 88 Polri menyebut merupakan bagian dari kelompok teror Bahrun Naim, yang saat ini berada di Suriah.
"Memang beberapa kelompok ini masih baru dan anak-anak baru. Mereka belajar dari media sosial yang dikirim Bahrun Naim," jelas Chaidar saat dihubungi Okezone, Selasa (27/12/2016).
Menurut Chaidar, posisi Bahrun Naim yang berada di Suriah membuatnya leluasa mengatur pergerakannya anggotanya di Indonesia. Hal in berbeda dengan pola yang dilakukan kelompok terorisme terdahulu seperti Jamaah Islamiyah. Pemimpinnya kelompok teror terdahulu seperti Abu Bakar Ba'asyir berada di Indonesia sehingga sulit mengatur pergerakan anggotanya.
"Nah ini bedanya dengan pemimpin teroris yang dulu-dulu. Kalau dulu medio tahun 2000-2010, contohnya Jamaah Islamiyah pemimpinnya ada di Indonesia. Jadi, karena ada di Indonesia, gampang sekali ditangkap," ucap Chaidar.
Akibat kerap kali berproses dengan aparat penegak hukum, pemimpin kelompok teroris pada periode sebelumnya sulit memberikan perintah kepada anak buahnya dengan leluasa.
"Kalau sekarang lebih leluasa karena enggak ada batasan lagi kan," tegasnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)