ORANG Jakarta, siapa nyang kagak kenal ame yang namenye Si Pitung? Namanya begitu melegenda dan dipuja di berbagai sudut Ibu Kota oleh orang-orang Betawi dan mangkanye, wajib kita tahu ketokohannya.
Apalagi sejak tahun 1970-1989, terilis lima film nasional tentangnya yang diperankan artis legendaris Dicky Zulkarnaen. Ketokohannya begitu dijunjung hingga acap disebut “Robin Hood” Betawi dari Rawa Belong.
Tapi menyusuri jejaknya, ada baiknya menengok ke situs “Rumah Si Pitung”. Ditemani kawan penggiat sejarah Beny Rusmawan, penulis dipandu menuju kawasan Marunda, Jakarta Utara.
Tempatnya sedianya tidak jauh dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda yang belum lama ini, geger lagi setelah ada salah satu taruna yang tewas dihajar senior-seniornya.
Letak “Rumah Si Pitung” tepatnya berada di Jalan Kampung Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Bagi yang menggunakan kendaraan mobil, disediakan lahan parkir yang berjarak sekira 150-200 meter dari lokasi yang bertarif Rp10 ribu per mobil.
Saat tiba di lokasi, terpampanglah plang nama dari kayu bertuliskan “Rumah Si Pitung”. Untuk bisa masuk ke dalam, kita diharuskan bayar karcis dulu yang enggak mahal-mahal amat kok. Cuma Rp5 ribu per kepala.
“Ini yang katanya Rumah Si Pitung. Tapi sebenarnya ini rumah orang kaya yang dirampok Si Pitung. Haji Syaifuddin namanya, orang kaya pemilik tambak sekitar sini dulu,” terang Beny kepada Okezone.
Tentu penulis tertarik masuk ke dalam rumah yang berbentuk rumah panggung layaknya di Kalimantan atau Sulawesi itu. Rumah panggung dari kayu-kayu jati yang terpelihara apik hingga kini.
Sesaat setelah naik anak tangga, kita sudah akan melihat beberapa perabotan antik di serambi depan, plus sebuah manekin yang dipakaikan baju khas jawara Betawi.
Total terhitung ada enam ruangan di rumah besar ini. Selain serambi depan, ada ruang tamu, ruang tidur, ruang makan dan dapur, serta serambi belakang. Beberapa di antara perabotan itu ada yang tertulis “sumbangan (budayawan Betawi) Ridwan Saidi”, serta beberapa pihak lainnya.
Rumah panggung besar ini berdiri di atas lahan 700 hektare dan berdasarkan Perda DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999, ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB), di bawah naungan Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Dinas Pariwisata dan Budaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Di salah satu ruangan rumah itu juga terdapat silsilah dan “biografi singkat” Si Pitung itu sendiri. Disebutkan bahwa Si Pitung sendiri bukan orang Marunda, melainkan asalnya dari Rawa Belong (kini Jakarta Barat).
Sejak kecil, Si Pitung belajar ngaji dan silat dari H Naipin. Penyebutan Si Pitung itu pahlawan dan suka menolong, sedianya dianggap Beny sedikit berlebihan.
“Yang dirampok Pitung itu bukan hanya orang Belanda. Lha ini buktinya rumah orang pribumi juga yang dirampok. Memang agak unik soal cerita Pitung ngerampok rumah ini, pake siasat segala. Dia kerjasama sama teman-temannya, di mana temannya yang merampok, terus Si Pitung menyamar jadi polisi Belanda saat itu,” sambung Beny.
“Dengan begitu, dia bisa menyita sementara barang-barang yang dirampok sebagai barang bukti. Nah, yang punya rumah disuruh urus ke kantor polisi di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Tapi pas didatangi ke kantor polisi, enggak ada barang-barangnya, ternyata ditipu. Begitu salah satu caranya Pitung,” imbuhnya.
Sedikit kisah lagi tentang ketokohan Si Pitung yang dijadikan ikon. Saat Gubernur DKI Jakarta masih dijabat Ali Sadikin, Pemprov sempat kesulitan mencari figur asli Betawi yang dikenal semua orang.
“Dulu zamannya Ali Sadikin, Pemprov cari ikon Betawi. Dari beberapa kisah tokoh Betawi, ternyata banyak yang sebenarnya tokoh fiktif. Nah, waktu itu cuma ketemu tokoh Si Pitung yang memang tokoh nyata. Makanya dijadikanlah Si Pitung ikon Betawi,” tandasnya.