Tidak lama lagi Mulyadi bebas dari bui. April nanti dia menghirup udara bebas. Alumnus fakultas pertanian yang bergelar insinyur pertanian itu telah menuntaskan masa pidananya selama lebih dari dua tahun. Saat ini dia terus mencari napi baru yang mau “mewarisi’’ produksi kompos di penjara. “Sudah ada tiga orang yang mau belajar,’’ ucap Mulyadi.
Dia menegaskan, pembuat kompos harus bermental baja. Tidak jijik dengan sampah atau bahan organik lain yang menjadi bahan dasar kompos. ’’Kalau memotong sisa sayuran saja, gampang. Tapi, ngaduk-aduk (kompos yang bau, Red), itu agak susah kelihatannya,’’ ungkapnya.
Namun, dia yakin tantangan itu bisa dilewati warga binaan yang benar-benar peduli lingkungan.
Sejak di luar bui, Mulyadi memang peduli lingkungan. Dia juga aktif membuat kompos. Bahkan, dia sering memberikan pelatihan di sekolah-sekolah tentang pembuatan pupuk organik tersebut. Kecintaannya pada lingkungan menumbuhkan cita-citanya untuk tetap menjadi praktisi pertanian selepas dari bui. (Maya Apriliani)
(Hessy Trishandiani)