NEWS STORY: Misteri Kamar Jenderal Ahmad Yani, Kalau Nekat Foto Tanggung Sendiri Akibatnya!

Randy Wirayudha, Jurnalis
Sabtu 18 Februari 2017 10:18 WIB
Salah satu kamar anak-anak (mendiang) Jenderal Ahmad Yani yang setidaknya diperbolehkan difoto (Foto: Randy Wirayudha)
Share :

ADA yang bikin penasaran di Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani. Di kamar pribadi sang mendiang jenderal, jangan sekali-kali berani ‘jeprat-jepret’ foto!

Ya, biasanya siapa pun yang hendak berkunjung ke museum yang ada di Jalan Lembang Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, itu akan lebih dulu diperingatkan secara halus oleh petugas museum. Diperingatkan untuk tidak mengambil foto di kamar Jenderal Yani.

(Baca: NEWS STORY: Lirih Keluarga Jenderal Yani di Sasmitaloka Tragedi Berdarah)

“Biasanya kita kasih tahu, mas. Bahwa kalau berkunjung, ya jangan memfoto kamar Bapak (alm Jenderal Yani). Kalau nekat ya tanggung sendiri akibatnya,” cetus Serma Wawan Sutrisno, salah satu penjaga museum, kepada Okezone.

Sebelum menggali alasannya, lebih baik penulis gambarkan dulu dalam tulisan tentang kamar Jenderal Yani. Kamarnya berada di area tengah rumah tak jauh dari dua kamar anak-anaknya dan ruang makan.

 

Melangkahkan kaki ke sebuah pintu geser dan masuk ke kamar Jenderal Yani, feel-nya memang sedikit beda jika dibandingkan dengan ruangan-ruangan lainnya di rumah itu. Nuansa dan suasananya justru sedianya sangat homey, enggak ada rasa-rasa mistis apa pun di situ.

Di dalam kamar tersebut terdapat satu tempat tidur berukuran “queen size”, dua lemari pakaian berisi jas-jas sipil dan militer serta beragam sepatu, beberapa bufet, dan satu lemari kaca tempat beberapa tanda jasa hingga keris disimpan.

Di dalam lemari kaca itu juga terdapat sejumlah lembar rupiah era lama yang ternyata jumlahnya merupakan gaji bulanan Jenderal Yani kala itu. “Jumlahnya ada Rp123 ribu gajinya Bapak,” imbuh Wawan.

Di kamar tersebut dekat jendela juga terdapat satu bufet kaca lainnya yang berisi beberapa pucuk senjata api, serta dua pakaian milik Jenderal Yani. Satunya kemeja putih, satunya lagi piyama Jenderal Yani.

Kemudian setidaknya ada empat pucuk senpi di situ yang dipakai gerombolan (oknum) Pasukan Tjakrabirawa saat menyatroni rumah Jenderal Yani pada 1 Oktober 1965. Yakni, dua senapan submesin Owen Gun dan M3 “Grease Gun”, sepucuk senapan laras panjang serta senapan mesin ringan VZ.52.

Di ujung kiri kamar tersebut juga terdapat kamar mandi yang di dalamnya masih berhias lantai kamar mandi era lama, serta satu bath tub, closet, serta wastafel yang terbilang modern untuk masa 1960-an.

Sementara di sisi kepala tempat tidur juga sejumlah catatan dan buku harian Jenderal Yani. Hal yang menarik, di salah satu sudut antara tembok dan eternit kamar terdapat gambar halilintar yang menyambar.

“Itu seminggu sebelum Pak Yani diangkat jadi Menpangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat pada 1964), ada petir menyambar ke rumah. Dulu ada bekasnya, tapi sekarang cuma dicat begitu sebagai penanda saja. Dulu itu sampai jebol itu genting rumah,” sambung Wawan.

Namun sekali lagi, Wawan menegaskan untuk tidak merekam atau mengambil foto di kamar Jenderal Yani. Begini alasannya.

 

“Sebenarnya ini masalah privasi lho, mas. Ini kan dulu kamar tidurnya Bapak (Jenderal Yani), ya pribadi sekali sifatnya. Ini yang kita tekankan ke pengunjung karena sebenarnya kita enggak mau mengungkit soal sisi mistisnya,” terangnya.

“Karena memang ada saja yang nekat foto-foto di kamar Bapak. Ya kalau nekat silakan, tanggung sendiri akibatnya. Kejadian ya ada saja. Seperti beberapa waktu lalu, ada satu pengunjung yang nekat foto, besoknya jatuh sakit. Tiga bulan enggak sembuh-sembuh, pas datang ke sini lagi baru sembuh,” lanjut Wawan.

Namun jangan menyangka dulu bahwa “ruh” Jenderal Yani yang menyebabkan begitu. Tidak. Wawan menjelaskan bahwa nuansa mistis di sana sudah tercipta lama karena ada oknum penjaga museum yang dulu, sering menebar melati dan menyediakan sesajen.

“Justru kita, penjaga-penjaga museum yang sekarang yang coba menghilangkan itu. Kita enggak ingin museum itu image-nya angker. Kalau memang enggak aneh-aneh, benar-benar ingin belajar sejarah, ya enggak akan apa-apa,” tandasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya