KISAH: Saat Mona Lisa Dicuri, Pablo Picasso Jadi Tersangka

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis
Senin 27 Februari 2017 08:10 WIB
Mona Lisa saat dipamerkan di Galeri Uffizi di Italia. (Foto: Vintage News)
Share :

MONA Lisa alias La Gioconda, sejauh ini menjadi karya seni "paling dikenal, paling dikunjungi, paling banyak ditulis, paling banyak dinyanyikan, dan paling banyak diparodikan di dunia". Titik.

Potret setengah badan Lisa Gherardini tersebut dikerjakan oleh seniman Reinassance Italia, Leonardo da Vinci. Sepanjang sejarah, banyak cerita tentang lukisan ini.

Salah satunya, kisah tentang dicurinya Mona Lisa pada 21 Agustus 1911.

Kala itu, pelukis Prancis, Louis Béroud, sedang mengunjungi Museum Louvre dan menyadari bahwa lukisan tersebut menghilang. Berhubung ia butuh membuat sketsa Mona Lisa, Louis pun memintanya ke petugas museum. Tetapi, mereka mengira lukisan tersebut sedang difoto untuk materi iklan museum.

Louis kembali ke bagian pameran Mona Lisa beberapa jam kemudian. Namun, masih tak berada di tempatnya. Jelas, Mona Lisa dicuri. Museum Louvre kemudian ditutup selama sepekan. Polisi langsung menginvestigasi kasus ini.

Tersangka pertama adalah seniman bernama Géry Piéret yang punya sejarah mencuri di Louvre. Para penyelidik tak dapat menemukan Piéret di kota, jadi mereka menemui bosnya, Guillaume Apollinaire.

Penyair Prancis dan salah satu perintis aliran surealisme itu menjadi tersangka karena berulang kali menyatakan bahwa Louvre harus dibakar habis. Apollinaire lalu ditangkap dan dipenjarakan. Temannya, Pablo Picasso, pun turut dianggap bertanggung jawab.

Sang pelukis kenamaan dari Spanyol ini turut dicurigai karena ia pernah membeli patung kepala Iberian dari Pieret. Picasso tidak menyadari, karya seni tersebut dicuri Pieret dari Louvre. Picasso dan Apollinaire kemudian dilepaskan karena terbukti tidak bersalah.

Pencuri sesungguhnya ditemukan dua tahun kemudian; ia adalah Vincenzo Peruggia, salah seorang pegawai Louvre. Kini, pria kelahiran Italia itu dianggap sebagai salah satu pencuri karya seni terhebat sepanjang abad ke-20.

Kejadiannya ibarat film aksi menegangkan, mengingat Peruggia mencuri masterpiece Da Vinci pada jam sibuk museum. Ia menyembunyikan Mona Lisa di ruang penyimpanan sapu hingga usai jam operasional museum, lalu melangkah keluar Louvre dengan lukisan itu tersembunyi di bawah jaketnya.

Sebagai patriot Italia sejati, Peruggia meyakini bahwa lukisan itu harus kembali dipajang di museum Italia. Vintage News, Senin (27/2/2017) melansir, para penyelidik menyebut, motivasi Perruggia mencuri Mona Lisa adalah ada temannya yang memiliki salinan lukisan tersebut. Mereka berspekulasi, harga lukisan tiruan Mona Lisa akan naik jika karya aslinya menghilang.

Pada 1932, sebuah laporan di harian Saturday Evening Post mengklaim bahwa otak pencurian Mona Lisa adalah warga Argentina, Eduardo de Valfierno. Ia dikabarkan membayar sejumlah orang, termasuk Peruggia, untuk mencuri lukisan berharga tersebut. Menurut laporan itu, Valfierno telah meminta ahli restorasi dan pemalsu karya seni Prancis, Yves Chaudron, untuk membuat enam tiruan Mona Lisa, yang akan dikirim serta dijual di berbagai negara.

 

Vincenzo Peruggia. (Foto: Vintage News)

Bagaimanapun, karya asli Mona Lisa tetap tinggal di Eropa, tersimpan aman di apartemen Peruggia. Ia tertangkap saat mencoba menjual Mona Lisa ke direktur Galeri Uffizi di Florence. Lukisan itu pun sempat dipamerkan di galeri Italia itu untuk sekira dua minggu. Kemudian, Mona Lisa pulang ke Louvre pada 4 Januari 1914.

Peruggia divonis enam bulan kurungan penjara, namun mendapat kredit atas sikap patriotiknya dari orang-orang Italia. Bahkan, berkat aksinya, Mona Lisa menjadi lebih tenar. Sebelumnya, karya Renaissance itu hanya diketahui segelintir orang selain pemerhati dunia seni.

Sepanjang sejarah, banyak upaya pencurian dan atau perusakan terhadap Mona Lisa.

Pada 1956, sebagian Mona Lisa rusak setelah seorang vandal melemparkan cairan asam padanya. Sebuah titik di dekat siku kiri Mona Lisa juga rusak pada 30 Desember di tahun yang sama. Penyebabnya, seseorang melempar batu ke lukisan itu. Namun, kerusakan tersebut dapat segera diperbaiki.

Pada 1974, ketika Mona Lisa dipajang pada pameran di Tokyo National Museum, seorang perempuan yang kesal dengan kebijakan museum atas para penyandang disabilitas menyemprot lukisan itu dengan cat merah.

Dan pada 2009, seorang perempuan Rusia kesal karena tidak mendapatkan kewarganegaraan Prancis. Ia melempar secangkir teh yang dibelinya di Louvre ke lukisan Mona Lisa. Beruntung, kedua insiden terakhir tidak membuat Mona Lisa rusak mengingat ia aman terlindungi di balik kaca antipeluru.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya