TOP FILES: Hitam Putih Kerajaan Arab Saudi, Simak Rangkumannya!

Randy Wirayudha, Jurnalis
Rabu 01 Maret 2017 07:21 WIB
Silsilah penguasa Kerajaan Arab Saudi (Foto: The Telegraph)
Share :

KERAJAAN Arab Saudi. Negara monarki ini jadi salah satu negara dengan kedudukan strategis yang penting bagi dunia. Selain terkait berbagai hal tentang hubungan internasional, Saudi juga berperan penting bagi perekonomian dunia dengan kekayaan minyak mentahnya.

Sebelum berbentuk kerajaan dengan dikuasai Dinasi Al-Saud, negeri ini masih terpecah oleh beberapa kerajaan. Seperti Kerajaan Hejaz yang berpusat di Makkah dan Kesultanan Nejd di Riyadh.

Dua kerajaan itu eksis tak lepas setelah Jazirah Arab merdeka dari cengkeraman Kekaisaran Ottoman. Dinasti yang paling memegang peranan tak lain adalah Dinasi Al-Saud.

Dinasti ini sudah ada sejak 1744 di Diriyah (pinggiran Kota Riyad) dan sempat diambil alih Dinasti Rashidi pada 1824. Perebutan kekuasaan kembali terjadi dan berhasil dilakukan Dinasi Al-Saud pada 1902.

Tapi baru tiga dekade (30 tahun berselang), Al-Saud berhasil menyatukan dinastinya dan mendirikan Kerajaan Arab Saudi dengan raja pertamanya Abdulaziz bin Abdul Rahman al-Saud. Pada 1938 jadi titik balik Saudi karena ditemukan minyak bumi.

Sejak saat itu, Saudi “menggelar karpet merah” buat perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) dan “kawan-kawannya”, untuk menyedot ladang-ladang minyak di Saudi. Saudi sendiri jadi salah satu negara terkaya dunia sebagai dampaknya.

Mengenai silsisah para rajanya, Raja Abdulaziz al-Saud bertahta hingga 1953 dan digantikan putra keduanya, Saud bin Abdulaziz. Dia dijadikan raja kedua untuk periode 1953-1964 karena kakaknya atau putra sulung Raja Abdulaziz, yakni Turki al-Awwal bin Abdulaziz al-Saud, meninggal sebelum naik takhta pada 1919.

Setelah Saud bin Abdulaziz, takhta Kerajaan Saudi diteruskan Faisal yang sempat berseteru dengan Raja Saud. Raja Faisal yang juga putra ketiga Raja Abdulaziz itu dikenal sebagai raja yang bijak dan menegakkan Syariah Islam di negaranya sepanjang masa jabatannya pada 1964-1975.

Sayangnya, raja yang pernah melawat ke Indonesia pada 1970 itu, dibunuh pada 1975 oleh salah satu keponakannya sendiri, Faisal bin Musa’id bin Abdulaziz al-Saud. Tampuk Kerajaan Saudi kemudian dilanjutkan Raja Khalid yang merupakan putra kelima Abdulaziz al-Saud.

Raja Khalid naik takhta secara kontroversial. Tapi dia dikenal sebagai pendukung revolusi Iran dan bersahabat dengan pemimpin Suriah Hafiz al-Assad.

Setelah menjabat pada periode 1975-1982, Raja Khalid digantikan Fahd bin Abdulaziz al-Saud. Raja yang memerintah di periode 1982-2005 ini, dikenal gemar foya-foya, tapi punya perhatian besar terhadap Palestina dan disebutkan benci setengah mati pada Israel.

Raja Fahd lantas lengser dan digantikan Raja Abdullah yang bertakhta di periode 2005-2015. Selama 10 dekade, Raja Abdullah termasuk raja yang modern terhadap berbagai urusan negara, namun sulit “disentuh” media massa.

Baru pada 2015, Raja Salman jadi penggantinya setelah Abdullah meninggal akibat penyakit pneumonia. Salman merupakan putra ke-25 Abdulaziz al-Saud dari istri kedelapan, Hussa binti Ahmed al-Sudairi.

Raja Salman dikenal sangat mendukung reformasi dan perubahan sosial di Kerajaan Saudi. Meski juga dikenal visioner, Raja Salman juga punya pandangan yang konservatif terhadap beberapa hal.

(Randy Wirayudha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya