TOP FILES: Benteng Vredeburg Bangunan Tertua di Malioboro?

Randy Wirayudha, Jurnalis
Minggu 12 Maret 2017 08:22 WIB
Benteng Vredeburg (Foto: Randy Wirayudha)
Share :

ADA rasa penasaran mengapa titik nol kilometer Kota Yogyakarta letaknya di antara Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, gedung tua Bank BNI 46, Bank Indonesia, dan Kantor Pos. Apa karena bangunan pertama di kawasan itu adalah Benteng Vredeburg yang letaknya hanya beberapa langkah di belakang Monumen Serangan Umum 1 Maret?

Setidaknya yang diyakini penggiat sejarah Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi demikian. Bahwa benteng yang kini dijadikan Museum Benteng Vredeburg itu adalah bangunan tertua yang ada di kawasan Malioboro.

Benteng Vredeburg saat ini memang berada di kawasan Malioboro. Tapi kalau mau menengok catatan administrasinya, letaknya berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani. Jalan yang juga dikembalikan nama aslinya jadi Jalan Margo Mulyo.

Jadi, seperti yang sebelumnya pernah dikupas, bahwa kalau bicara “Jalan Malioboro” hanya terbentang dari Stasiun Tugu Yogyakarta sampai Kepatihan atau kini Gedung Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Namun kalau bicara kawasan Malioboro, ya membentangnya dari Tugu Yogya (Tugu Pal Putih, Jalan Pangeran Mangkubumi/Jalan Margo Utomo) sampai Alun-Alun Utara Keraton Yogya (Jalan Trikora/Jalan Pangurakan).

“Perkembangan kawasan Malioboro itu sendiri juga tak bisa dipisahkan sejarahnya dari zaman kolonial (Belanda). Vredeburg bisa dibilang bangunan tertua di (kawasan) Malioboro,” terang Erwin kepada Okezone.

“Karena jalan ini diduduki Belanda ketika pembangunan benteng pada 1756 yang pencanangannya didirikan setahun setelah keraton yang mulai dibangun 1755. Tapi pengerjaan baru dilakukan 1780-an,” imbuhnya.

Sedianya sebelum bernama Benteng Vredeburg atau yang artinya “Benteng Perdamaian” lokasi itu masih berupa parit-parit dan bunker yang dilengkapi meriam-meriam yang beberapa di antaranya mengarah ke keraton.

Dulu namanya masih Benteng Rastenburg (Benteng Peristirahatan) dan kemudian pembangunannya dibantu Sultan Hamengkubuwono I (HB I). Baru dinamai Benteng Vredeburg pascagempa dahsyat pada 1867 yang kemudian baru berbentuk seperti sekarang.

“Bahannya dulu masih kayu. Bahan (bangunannya) dari Sultan. Tenaga orangnya juga dari Sultan,” sambung Erwin.

“Saat keraton berdiri, belum ada permukiman lain setelah keraton. Setelah keraton, baru Vredeburg, kemudian Gedung Societet Militair yang jadi tempat dansa bangsa Belanda, lalu kantor residen yang jadi Gedung Agung di tahun 1820-an,” tuntasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
TOP
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya