Kisah Nelayan Padang Puluhan Tahun Jadi Pemburu Hiu

Rus Akbar, Jurnalis
Sabtu 01 April 2017 08:45 WIB
Papan promosi milik Asrul Acin (foto: Rus Akbar/Okezone)
Share :

Acin memutuskan menjadi pemburu hiu sejak 1968 lantaran tergiur keuntungan besar. Harga jual minyak hiu mencapai 200 libu per botol ukuran kecil tadi. Kadang minyak hiu yang olahannya dibeli turis Jepang dan tentu harganya jadi lebih mahal. "Kalau untuk kita-kita ukuran sekitar 10 mililiter, harganya Rp200 ribu," ujarnya.

Penghasilannya sebagai pedagang minyak hiu mampu menutupi kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, juga modal usaha warung. Penghasilan besar pun sejalan dengan resiko besar yang Acin hadapi. Yakni melawan cuaca yang tak menentu dan tak menutup kemungkinan jadi sasaran predator yang diburu.

Perburuan hiu pun memakan waktu paling singkat sebulan, terhitung mulai dari berangkat hingga kembali ke rumah. “Kalau sudah menemukan lokasi yang dirasa banyak terdapat ikan hiu, mulailah menebar 700 mata pancing dengan umpan ikan yang besar juga,” ceritanya.

Acin dan teman-temannya tak punya waktu pasti dalam memburu hiu, tergantung kondisi cuaca. Bulan ini sebenarnya ia berencana pergi namun istrinya melarang. "Istri saya enggak mengizinkan ke laut karena cuaca kurang bagus katanya," kisah Acin.

Menurut pria yang memiliki tujuh anak ini, ada dua jenis hiu penghasil minyak berkualitas, yakni hiu cucut botol dan hiu mata kucing (hiu macan). Hiu jenis ini sulit dijumpai dan hanya berada di laut yang kedalamannya mencapai 300 meter.

Sedangkan untuk khasiat, Asrul menjamin minyak hiu olahannya, mampu mengobati berbagai macam penyakit seperti penyakit kulit, asma, kolesterol dan alergi. Minyak hiu bisa dioleskan atau diminum dengan takaran yang sudah ditentukan.

“Biasanya dalam sebulan itu kami bisa menghasilkan 30 liter minyak hiu yang berasal dari 30 ekor hiu. Minyak hiu tersebut disimpan dalam jeriken barulah kami pulang,” terangnya.

Bagian hiu yang diolah menjadi minyak adalah hati dan jantungnya. Caranya, dua bagian itu diremas-remas, lalu hasil remasan dimasukkan ke jeriken. Selanjutnya jeriken diletakkan pada tempat yang terjangkau panas matahari.

“Di jeriken akan berpisah antara ampas hati dan minyaknya. Minyak naik dan ampas hati ke bawah. Ampas tetap bisa diolah dengan cara dimasak untuk dijadikan minyak yang baru,” jelasnya.

Acin menerangkan, setelah jantung dan hati hiu diambil bukan berarti tubuhnya di buang begitu saja ke laut. Acin bersama teman-temannya akan mengiris-iris tipis daging hiu kemudian menjemurnya hingga kering. “Daging ini nanti akan kami jual di pasar karena juga berfungsi untuk makanan dan obat,” terangnya.

Sebelum melakukan perjalanan memburui hiu, biasanya Acin meminjam uang dari pengepul minyak hiu. Nominalnya bisa mencapai Rp4 juta untuk membeli BBM dan logisitik selama melaut. “Nanti pembayaran dari hasil minyak hiu yang didapat,” ujarnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya