Setelah PD II pecah di Eropa, Churchill kembali menjabat sebagai First Lord of the Admiralty dan delapan bulan kemudian, ia ditunjuk sebagai perdana menteri Inggris menggantikan Neville Chamberlain.
“Jika Kerajaan Inggris ditakdirkan untuk melewati kehidupan ke dalam sejarah, kita harus berharap itu tidak melalui proses lambatnya dispersi dan pembusukan, tetapi melalui pengerahan tenaga tertinggi untuk kebebasan, hak dan kebenaran,” Churhill di Canada Club, London pada 1939.
Pada awal kepemimpinannya, Churchill menghadapi sebuah rintangan yang besar. Pasalnya, Inggris berdiri sendiri menghadapi pasukan Nazi yang semakin meluaskan pengaruhnya di benua Eropa. Namun sang perdana menteri bersumpah bahwa kepada negaranya dan dunia bahwa Britania Raya tidak akan menyerah.
Churchill akhirnya berhasil mengukuhkan pembentukan Sekutu bersama Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt dan pimpinan Uni Soviet Joseph Stalin. Dengan pembentukan ini, Churchill dianggap sebagai tokoh penting yang mengakhiri PD II.
Setelah PD II, Churchill kembali ditunjuk menjadi perdana menteri pada 1951 dan dua tahun kemudian ia diberi gelar ksatria oleh Ratu Elizabeth II. Ia mengundurkan diri dari jabatannya pada 5 April 1955.
(Emirald Julio)