Dokumen perjanjian persahabatan RI-Mesir itu ditandatangani H Agus Salim dan Menteri Luar Negeri/Perdana Menteri Mesir Nokrashi Pasha. Dokumen ini jadi bukti konkret tonggak pengakuan internasional dan kesuksesan diplomasi RI.
Nah, pas perjalanan pulang inilah AR Baswedan juga menemui berbagai rintangan yang bahkan, nyaris membuatnya tak bisa kembali ke Indonesia. AR Baswedan memulai perjalanan pulangnya dengan Pesawat BOAC dari Kairo pada 18 Juni 1947.
Saat hendak pulang, H Agus Salim berpesan: “Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah saudara sampai di tanah air atau tidak. Yang penting dokumen-dokumen itu harus sampai di Indonesia dengan selamat,” tegas H Agus Salim yang langsung dipahami maksudnya oleh AR Baswedan.
AR Baswedan terbang dari Kairo melewati tempat-tempat transit di Bahrain, Karachi (Pakistan), Kalkutta (India), Rangoon (Myanmar), baru kemudian Singapura. Saat di Kalkutta, seat AR Baswedan nyaris “dicabut” otoritas setempat untuk orang lain.
Alasannya, nama Indonesia tentu belum dikenal dan pastinya belum punya perwakilan diplomatik. Tapi bermodal “main gertak” dan berdebat, AR Baswedan bisa terus terbang hingga Singapura yang kala itu belum merdeka dan masih di bawah kendali Inggris.
Terdampar Sendirian di Negeri Singa