“ULAR naga panjangnya bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Ini dianya yang terbelakang.” Familierkah Anda dengan lirik legendaris ini?
Buat anak-anak di era 1990 ke belakang mungkin sangat teringat dengan lagu yang tentunya berasal dari satu permainan tradisional yang juga tak kalah legendaris. Ya, permainan ular naga.
Permainan yang selayaknya petak umpet dan petak jongkok karena tak butuh biaya ini, hanya butuh sekelompok anak untuk dimainkan. Biasanya akan ada dua orang yang saling menyatukan dua tangan membentuk sebuah gerbang kecil.
Nantinya, para pemain lain dan membentuk satu barisan, akan ada yang jadi kepala dan buntut ular naga dengan diramaikan anak-anak lain di tengah-tengahnya. Beriringan, satu barisan layaknya ular naga itu akan berkeliling keluar-masuk “gerbang”.
Sepanjang permainan saat keluar-masuk itulah dinyanyikan bersama lirik lagu ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibjo alias Ibu Soed itu. Saat lagu berakhir, anak yang berada tepat di bawah “gerbang” akan terkunci.
Nantinya, anak yang “terkunci” di gerbang itu akan disuruh memilih, mau ikut “gerbang” yang kanan atau kiri sebagai pengikut. Begitu terus sampai rangkaian ular naga itu kehabisan pemain atau ya kalau anak-anak itu dipanggil pulang orangtuanya.
Biasanya di beberapa versi di daerah di Indonesia, terdapat pula dialog bantah-bantahan antara “gerbang” dan kepala atau induk ular naga, setiap kali seorang anak ditangkap. Dialog seperti:
Induk (I) : "Mengapa anak saya ditangkap ?"
Gerbang (G) : "Karena menginjak-injak pohon jagung.. "
I : "Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?"