NEWS STORY: Goresan Sejarah Kelam Keberingasan si Macan Sidoarjo di "Periode Bersiap"

Randy Wirayudha, Jurnalis
Sabtu 29 April 2017 16:09 WIB
Mayor Zainal Sabaruddin Nasution (Foto: Capture buku Harry A Poeze)
Share :

“Ayahnya dia (Wieteke van Dort) administrateur di pabrik gula candi. Ikut jadi korbannya Sabaruddin. Dia ikut juga dibawa ke Alun-Alun Sidoarjo. Ditembak 7 orang dalam regu tembak. Tembakan terakhir diarahkan ke lehernya pakai pistol revolver,” sambung Ady.

“Selain suka nyulik wanita-wanita Belanda, kekejaman Sabaruddin juga pernah menyeret orang pakai truk dari Surabaya sampai Sidoarjo. Karena kebrutalannya itu, dia juga diburu sama TNI. Tapi sempat ditangkap, lalu dilepas lagi karena terjadi Agresi II,” lanjut penulis buku Benteng-Benteng Surabaya tersebut.

Meski begitu, jangan sangka Sabaruddin takut dengan sesama tentara. Apalagi polisi macam M Jasin yang pernah protes, lantaran Kepala Biro Kepolisian Surabaya Basuki, pernah jadi korban salah tangkap Sabaruddin.

Sesama tentara pun pernah dibunuhnya hanya karena berebut wanita yang juga putri Bupati Sidoarjo bernama Indriyati. Korbannya bernama Soerjo, mantan atasan Sabaruddin semasa di PETA.

Soerjo juga ikut melanjutkan karier di tentara republik sebagai kepala keuangan dan perlengkapan TKR. Karena Soerjo berasal dari keluarga priyai, jelas putri bupati yang terkenal cantik itu memilih Soerjo ketimbang Sabaruddin. Tapi belakangan, leher Soerjo ditebas pedang gunto Sabaruddin.

Pantang Takut Sesama Tentara termasuk Jenderal

Tindak-tanduk Sabaruddin sebagai Komandan PTKR yang seenak perut bahkan tak jarang ikut menjaring beberapa tokoh dari matra lainnya sebagai korban salah tangkap. Seperti Iswahyudi (salah satu perintis Angkatan Udara Republik Indonesia/AURI), seorang perwira Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Mayor Iskak, hingga seorang jenderal yang untuk kasus ini sengaja dia culik dan tangkap.

Jenderal Mayor Mohamad Mangundiprodjo medio Januari 1946, pernah jadi korban penculikan Sabaruddin, meski lebih beruntung nasibnya tak semalang Soerjo. Sabaruddin mengincar sang jenderal karena sudah mencium gelagat pelaporan Mohammad soal aksi-aksi Sabaruddin ke Markas Besar Tentara (MBT) di Gondomanan, Yogyakarta.

Mohammad mengirim surat kepada Kepala Staf Tentara Letjen Oerip Soemojardjo untuk menangkap Sabaruddin. Mohammad juga kemudian berangkat ke Gondomanan untuk menuju MBT demi bisa bertemu Letjen Oerip langsung.

Tapi nahas, ternyata Sabaruddin sudah lebih dulu “menguasai” MBT. Kebetulan, ketika itu Letjen Oerip tengah rapat bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman di sebuah ruangan yang jauh dari ruangan, tempat di mana Mohamad tengah menunggu Letjen Oerip.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya