KALAU boleh dibilang, setidaknya hanya dua bunyi suara yang paling ‘dikangenin’ umat muslim di negara kita di bulan suci Ramadan, yakni suara bedug dan adzan Maghrib. Seketika suara bedug bertalu di masjid-masjid dan tayangan televisi, sontak hati mengucap kalimat Hamdallah dan kemudian membatalkan puasanya.
Tapi apa benar kalau suara bedug sebagai penanda suatu waktu hanya ada di Indonesia? Baiknya kita telisik dulu sejarahnya:
Menilik berbagai sumber arkeologi, ternyata bedug sudah eksis dari zaman manusia belum terikat peradaban alias prasejarah. Tentu namanya dulu bukan bedug dan bentuknya tidak seperti yang ada di masjid-masjid sekarang.
Bentuknya masih berupa mirip dandang dari bahan perunggu dan beragam peninggalan-peninggalan prasejarah itu tersebar dari Sumatra hingga Kepulauan Kei di timur Indonesia (Maluku). Bicara kegunaan, dulu belum diperuntukkan penanda waktu, melainkan khusus untuk beraneka ritual.
Seiring berkembangnya zaman, di masa banyak kerajaan Hindu, benda tabuh seperti bedug fungsinya mirip kentongan di desa-desa sekarang. Yakni sebagai alarm buat masyarakat terhadap berbagai keadaan, mulai dari bencana hingga peperangan.
Ketika Islam belum lama masuk ke nusantara, alat musik serupa bedug justru bukan diperkenalkan masyarakat pribumi. Melainkan oleh pendatang tenar dari Negeri China, siapa lagi kalau bukan Laksamana Zheng He alias Cheng Ho.
Penjelajah yang juga muslim kelahiran China di masa Dinasti Ming itu, konon menghadiahkan sebuah alat tabuh besar seperti bedug kepada raja lokal di Semarang, untuk ditaruh di masjid sebagai tempat ibadah, sebagaimana yang ada di sejumlah kuil di Asia Timur (Jepang, China, Korea).
Sementara menurut kutipan sumber ‘Masa Lalu dalam Masa Kini’ oleh Kees van Dijk dalam artikel bertajuk ‘Perubahan Kontur Masjid’, bedug baru dikenal luas oleh masyarakat di Hindia Belanda (nama lama Indonesia di zaman kolonialisme Belanda), baru pada abad ke-20.
Meski begitu, sebelumnya di abad 14-16, bedug memang sudah ada walau belum dikenal luas dan tersebar di berbagai masjid. Di era itu, tepatnya di “Zaman Wali Songo”, bedug setidaknya baru banyak terdapat di masjid-masjid di wilayah Banten.
Fungsinya khusus sebagai penanda salat lima waktu yang dibunyikan sebelum adzan. Termasuk sebagai penanda berbuka puasa di waktu Salat Maghrib.
Jadilah sekarang bedug seperti yang kita kenal sekarang, meski tidak semua umat muslim “merestui” eksistensi bedug.
Keberadaannya masih ada di masjid-masjid yang ramai masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), tapi tidak bagi warga Muhammadiyah yang dianggap bid’ah, atau berbagai hal yang tidak sesuai ketetapan ajaran agama.
<iframe width="480" height="340" src="https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wNi8xNC8yOC83NjkxNC8zLw==" sandbox="allow-scripts allow-same-origin" layout="responsive"></iframe>