Pengungsi Rohingya di Bangladesh Dihantui Ancaman Pembunuh Bertopeng

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis
Jum'at 14 Juli 2017 19:30 WIB
Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (Foto: Reuters)
Share :

KUTUPALONG - Tepat ketika Ramadan berakhir pada Juni 2017, seorang pengungsi Rohingya di Bangladesh, Noor Ankis, ditinggalkan oleh sang suami untuk selama-lamanya. Pada hari besar agama Islam yang dianut Ankis tersebut, ia justru harus menguburkan suaminya dengan dibantu para tetangga.

Suami Ankis, Mohammed Ayum, tewas dengan tragis karena dibunuh. Ia meninggal setelah digorok di bagian leher. Jasad pria berusia 30 tahu itu ditemukan seminggu pasca-terbunuh dalam kondisi tubuh penuh luka dan tangan terikat. Sebelum dibunuh Ankis mengaku suaminya diculik oleh sekelompok orang tak dikenal.

"Mereka memukuli saya dan saudara perempuan saya dan menyeretnya keluar rumah. Para penculik menghubungi saya melalui sambungan telefon dan juga mengancam akan membunuh saya. Saya juga mendapat ancaman atas nama al-Yaqin," jelas Ankis sebagaimana dinukil dari Strait Times, Jumat (14/7/2017).

Seorang pengungsi lainnya mengaku melihat orang bertopeng berkeliaran di sekitar kamp pengungsian di Kutupalong pada malam hari sebelum insiden pembunuhan terjadi. Sementara itu, al-Yaqin sendiri diketahui merupakan sebuah kelompok miltan yang sempat melakukan serangan terhadap pos polisi perbatasan Myanmar pada Oktober 2016 dan menyebabkan bentrok antara Rohingya dan pihak kepolisian.

Ankis menambahkan, sebelum meninggal, suaminya terlibat dalam sebuah perselisihan dengan sekelompok pengguna narkoba sebelum diculik dari kamp darurat di Kutupalong. Pemerintah Bangladesh sebelumnya pernah menyampaikan pernyataan yang menyebut bahwa masuknya Rohingya ke negara mereka telah meningkatkan penggunaan obat-obatan terlarang.

Jasad Ayub ditemukan di sebuah lahan tandus di antara dua bukit di Kutupalong. Sebelum Ayub, jasad pengungsi Rohingnya lainnya atas nama Mohammed Selim juga ditemukan di lokasi yang sama seminggu sebelumnya. Polisi kini telah menangkap tiga orang terkait kematian Ayub, namun masih menolak memberikan keterangan lebih lanjut.

Sementara itu para pengungsi kini diterpa ketakutan dengan aktivitas sekelompok orang bertopeng yang kerap berkeliling di sekitar kamp pada malam hari. Mereka bahkan kerap meminta para pengungsi untuk keluar menemui mereka.

"Saya sedang tidur dengan istri dan kedua anak saya ketika mereka datang lalu meminta sata keluar. Mereka berada di luar selama satu jam di luar rumah dan itu menjadi satu jam paling panjang dan menegangkan dalam hidupku," terang seorang pengungsi yang mengaku telah dua kali didekati oleh kelompok misterius tersebut.

Pengungsi yang tak disebutkan namanya itu mengaku, orang-orang bertopeng yang berkeliling di pengungsian jumlahnya mencapai 10 sampai dengan 12 orang.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya