BALIKPAPAN - Gerimis turun di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sejak pagi hari itu. Jalanan menuju rumah Abel Anyeq (59) di RT 41 Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota, tampak basah. Abel Anyeq merupakan perajin sapeq, alat musik petik khas Suku Dayak Bahau.
Saat itu Abel Anyeq sedang asyik mengukir kayu plantang yang merupakan bahan pembuatan sapeq, dengan sebilah pisau cutter. Agak berbeda memang, karena biasanya para perajin menggunakan pahat untuk mengukir kayu.
"Saya tidak mahir menggunakan alat pahat, jadi pakai pisau cutter untuk mengukir kayu plantang yang sudah mulus ini. Tapi harus hati-hati karena jari bisa terluka," kata Abel Anyeq.
Plantang merupakan jenis kayu dari pohon randu yang tekstur seratnya cukup lunak sehingga mudah diukir. Kayu itu khusus ia pesan dari seorang pemilik kebun karet di kawasan Waduk Manggar. Jaraknya berkisar 23 kilometer dari Klandasan Ulu yang berada di pusat kota Balikpapan.
Ukiran yang tentunya tidak asal-asalan. "Kalau ukiran Dayak itu sumbernya dari alam seperti daun pakis yang bentuknya melengkung. Ada juga ukiran asoq lejao pada ujung kepala sapeq ini," ucapnya sembari mengukir secara teliti.
Asoq lejao merupakan ukiran berbentuk kepala anjing. Dia menambahkan, hampir di setiap rumah di desanya pasti ada ukuran asoq lejau. Kemudian ukiran kepala burung enggang juga biasa menghiasi sapeq.
"Kalau sudah selesai diukir, dihaluskan lagi pakai amplas baru diberi varnish supaya mengilat dan tidak mudah basah, baru setelahnya dipasang freet, senar termasuk nut, tuner dan bridge-nya," kata Abel yang sesekali menyeruput kopi hitam yang disuguhkan istrinya.