AJANG olahraga seperti Olimpiade seharusnya tidak boleh diwarnai atau disusupi dengan kepentingan politik apapun. Insiden-insiden berbau politik di Olimpiade pun selalu diupayakan untuk dipisahkan karena ajang olahraga terbesar itu selalu mengedepankan sportivitas.
Sayangnya, ajang Olimpiade sempat diwarnai sejarah kelam pada 1972. Enam orang anggota kelompok teroris Black September (September Hitam) menyandera atlet-atlet asal Israel di Perkampungan Atlet, Munich, Jerman. Aksi tersebut dilancarkan pada 5 September 1972 dini hari waktu setempat.
Enam teroris itu menyamar dengan menggunakan jaket resmi kontingen dari negara-negara Arab. Mereka melompati pagar yang mengelilingi Perkampungan Atlet di Munich sambil membawa tas berisi senjata api. Satuan pengamanan (satpam) sempat melihat para teroris, tetapi dibiarkan begitu saja karena mengira mereka adalah atlet yang biasa memanjat pagar untuk kembali ke penginapan.
Setelah membongkar penyamaran, para teroris itu lalu mendobrak masuk apartemen sambil menyandang senjata. Mereka mengincar 21 orang atlet dan ofisial asal Israel. Black September berhasil menculik sembilan orang sandera dengan tebusan berupa pembebasan 234 orang tahanan.
Melansir dari History, Selasa (5/9/2017), permintaan tersebut secara teori ditolak. Akan tetapi kemudian terjalin kesepakatan bahwa teroris dan sandera akan dibawa ke Bandara Furstenfeldbruck dengan menggunakan helikopter. Para teroris itu akan diberikan pesawat untuk terbang dari Jerman.
Namun, Pemerintah Jerman merencanakan penyergapan di bandara. Mereka menyiagakan penembak jitu di sekitar landas pacu dan polisi di atas pesawat. Rencana sempat hampir batal karena polisi di atas pesawat mengaku kurang persiapan. Di sisi lain, penembak jitu juga tidak cukup untuk melumpuhkan teroris.
Penyergapan akhirnya tetap berlangsung. Tiga orang teroris berhasil dilumpuhkan dalam sekali gelombang tembakan. Namun, yang lain berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Satu orang teroris berhasil melempar granat ke helikopter di mana lima orang sandera masih ada di dalam sehingga semuanya tewas. Satu lagi menembak ke arah helikopter sehingga sandera lain turut meninggal.
Sekira 20 jam kemudian, diketahui satu orang polisi Jerman; lima orang teroris; dan 11 atlet Israel tewas. Tiga orang teroris yang masih hidup lantas dipenjara tetapi dibebaskan sebulan kemudian sebagai bagian dari kesepakatan setelah pesawat Lufthansa penerbangan 727 dibajak oleh teroris.
Beberapa hari setelah insiden tragis di Munich itu, Israel melakukan balas dendam dengan serangan udara ke Suriah dan Lebanon. Sedikitnya 66 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Israel juga mengirim tim pembunuh untuk memburu anggota September Hitam sementara tentara menerobos masuk perbatasan dengan Lebanon yang memicu pertempuran terbesar setelah Perang Enam Hari 1967.
(Wikanto Arungbudoyo)