Kondisi ini, sambung Mochtar, bisa saja dimanfaatkan pihak-pihak tertentu hingga bisa memicu Perang Paregreg di Pilgub nanti. Perang sesama anak kandung NU. Meskipun demikian, polarisasi pada Pilgub Jatim 2018 bakal kecil kemungkinan menyentuh wilayah SARA.
Polarisasi yang terjadi mungkin hanya sebatas antara NU struktural dengan NU kultural dalam hal dukungan ke kedua kandidat. Tetapi, jika perang ujaran itu berlarut bisa saja pertentangan akan melebar ke polarisasi antar wilayah, antar banom NU, antar pondok dan Kiai.
“Yang pada akhirnya akan melebar ke santri sebagai akar rumput pendukung. Jika sudah begini potensi konflik horizontal bisa semakin memuncak,” terang Direktur Surabaya Survey Centre tersebut.
Hal senada juga diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Senior asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo. Menurut Suko, terjunnya kiai dalam praktek politik dengan dua poros yang sudah ada yakni kader terbaik NU bisa memicu perpecahan ala Perang Paregreg.
“Walaupun peribaratannya agak sedikit salah, tapi ini yang paling mendekati. Karena perang Paregreg, Majapahit langsung mengalami kemunduran. Jangan sampai para kiai mulai melupakan khitahnya sebagai Begawan di tengah masyarakat,” tukas Suko.