Pembangunan wilayah di Nan Madol cukup adil. Mayoritas pulau kecil di sana digunakan untuk keperluan perumahan, kamar mayat, sampai tempat makanan. Adapun di tengahnya, berdiri Royal Mortuary, atau kuburan bagi keluarga kerajaan yang dikelilingi oleh tembok setinggi 26 kaki.
Menurut para ilmuwan, ada kurang dari seribu warga yang tinggal di sana. Populasi utama terdiri dari penduduk desa dan sejumlah besar kepala suku.
Selama bertahun-tahun, Nan Madol telah membangkitkan banyak legenda, mitos, dan kontroversi tentang Atlantis yang dibicarakan Plato. Hal ini dibandingkan dengan mitos yang telah lama hilang dari Mu, dimana peradaban manusia dikatakan telah lahir.
Batu besar itu menginspirasi teori konspirasi dan penulis seperti David Hatcher Childress dan Erich von Daeniken. Dalam bukunya "Evidence of the Gods", von Daeniken menuliskan bahwa sarkofagus yang mengandung platinum bar ditemukan di perairan Nan Madol. "Peti mati platina" ini juga yang konon ditemukan oleh orang Jepang setelah Perang Dunia I. Sayangnya, benda itu sudah tidak diketahui di mana saat ini.
Setelah mengalami kemunduran besar pada abad ke-15, tempat itu ditinggalkan penghuninya sampai awal abad ke-19. Sudah banyak peneliti dan ilmuwan yang mengunjunginya untuk mencoba memahami sejarah dan konstruksinya.
Nan Madol juga telah menginspirasi H.P. Lovecraft, untuk menggambarkan , R’lyeh, sebuah kota fiktif yang pertama kali muncul dalam buku terkenal "The Call of Cthulhu". (Hotlas Mora Sinaga/Magang).
(Rahman Asmardika)