TIDAK hanya Indonesia yang kaya akan budaya dari ratusan suku bangsa, setiap negara di dunia juga memiliki tradisi unik yang berbeda-beda. Di antara banyak tradisi budaya itu, sebagian besar berkaitan dengan ritual kepercayaan.
Ritual-ritual itu tentu dilakukan dengan berbagai tujuan. Ada yang dimaksudkan sebagai upaya penebusan dosa, memperingati suatu kejadian hingga ajang pembuktian diri. Tak jarang, ritual itu dilakukan dengan cara ekstrem dan membahayakan nyawa.
Beberapa ritual yang membuat bulu kuduk merinding itu memang telah lama ditinggalkan, namun ada juga yang masih mempraktikannya sampai sekarang.
Berikut ini 6 ritual mengerikan di dunia yang dikutip dari buku Kisah 1001 Serba Menyeramkan di Dunia.
1. Ritual Penyaliban-Filipina
Ritual penyaliban di Filipina. (Foto: Reuters)
Masyarakat Katolik Roma melakukan ritual ekstrem dengan cara memaku tubuh mereka di kayu salib. Meski terdengar mengerikan, aksi ekstrem ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata Filipina. Ritual ini dilakukan setiap Perayaan Jumat Agung dan di hari-hari keagamaan lain sebagai upaya penebusan dosa.
Atraksi dilakukan di depan ribuan penonton. Para penebus dosa menggunakan kostum layaknya Yesus dan mereka dipaku di sebuah salib kayu. Paku-paku tersebut menembus tangan dan kaki mereka, namun tak cukup kuat untuk menahan beban tubuh. Para penebus dosa itu diobati dan diberikan perawatan setelah selesai. Meski mendapat kecaman dari beberapa pihak, tradisi yang telah berlangsung selama 30 tahun ini masih dilakukan sampai sekarang.
2. Ritual Tindik-India
Ritual tindik yang dilakuan umat Hindu India di Malaysia. (Foto: AFP)
India terkenal sebagai negara yang kaya akan budaya. Mereka amat baik menjaga tradisi-tradisinya dengan cara rutin melakukan perayaan maupun ritual adat dari yang unik hingga menyeramkan. Salah satu ritual yang terkenal mengerikan adalah ritual tindik.
Umat Hindu di Tamil Nadu menindik seluruh tubuh mereka sebagai peringatan kelahiran Dewa Murugan. Ritual ini juga menjadi pengingat atas kematian roh pendendam, Soorapadman, yang mati tertombak.
Seiring berjalannya waktu, ritual ini mengalami beberapa perubahan yang semakin ekstrem. Tak hanya menindik, masyarakat Tamil juga memasang tombak berkail di wajah dan badan mereka.
3. Tradisi Lipat Kaki-Cina
Efek dari ritual lipat kaki. (Foto: Reuters)
Setiap negara memiliki standar kecantikan yang berbeda-beda. Di China Kuno, wanita dianggap cantik jika mereka memiliki kaki yang kecil. Karena itulah, para wanita China beramai-ramai mengikat kaki mereka agar tampak kecil.
Namun, tak semua wanita China bisa melakukan tradisi ini. Hanya wanita bangsawan dan kelas menengah yang boleh melakukan pelipatan kaki.
Proses pelipatan kaki ini dilakukan saat usia mereka 5-8 tahun oleh ibu maupun para dayang. Empat jari mereka akan dilipat ke bawah dan jempol mereka ditarik mendekati tumit. Setelah itu, kaki mereka diikat dengan kain sepanjang 3 meter. Mereka mengenakan sepatu khusus yang ukurannya setengah dari ukuran kaki wanita dewasa pada umumnya.
Akibat dilipat bertahun-tahun, bentuk kaki para wanita ini pun menjadi abnormal. Banyak di antara mereka harus memakai tongkat sebagai alat bantu jalan.
4. Ritual Sun Dance-Suku Plains, Amerika
Ritual Sun Dance. (Foto: Crystalink)
Jauh sebelum Amerika menjadi negara modern, negara tersebut didiami oleh suku-suku asli yang kerap melakukan ritual keagamaan atau festival yang mengerikan. Konon, suku Plains di Amerika Utara melakukan ritual Sun Dance atau yang lebih dikenal Thirsting dance.
Selama ritual, para wanita menari tanpa istirahat, makan, dan minum. Ritual itu dilakukan selama empat hari empat malam. Acara ini juga menjadi ajang pembuktian diri kaum lelaki karena mereka akan menancapkan sebuah tusuk besi ke dadanya dan mengikat ujungnya ke sebuah tiang. Aksi tersebut dilakukan untuk membuktikan kekuatan dan ketahanan tubuh mereka.
5. Tradisi Sokushinbutsu-Jepang
Sokushinbutsu
Praktik Sokushinbutsu atau memumifikasi diri sendiri dilakukan di sekitar Prefektur Yamagata, Jepang Utara, pada seribu tahun lalu. Sokushinbutsu dirintis oleh kepala biara bernama Kuukai di komplek kuil dekat Gunung Koya di Prefektur Wakayama. Aksi ini dilakukan sebagai pencerahan dengan hukuman fisik di Agama Budha aliran Shingon yang didirikan Kuukai.
Proses itu dimulai dengan melakukan diet khusus dan aktivitas fisik untuk meluruhkan lemak dari tubuh mereka. Selama seribu hari, mereka hanya memakan kacang dan biji-bijian. Seribu hari berikutnya mereka makan ranting dan akar dan mulai meminum teh beracun yang dibuat dari getah dan pohon urushi. Teh beracun itu membuat mereka muntah dan otomatis membuat tubuh mereka terlalu beracun untuk dimakan belatung.
6. Ritual Seppuku-Jepang
Ritual Seppuku. (Foto: Wikipedia)
Seppuku adalah ritual bunuh diri yang dilakukan para samurai setelah gagal dalam melakukan tugas. Seppuku dilakukan dengan cara menusukkan pedang kecil ke dalam perut kemudian merobek dan mengeluarkan isi perutnya. Aksi bunuh diri ini dilakukan secara sukarela oleh para samurai yan menginginkan mati dengan cara terhormat daripada mati di tangan musuh.
Dalam praktiknya, seorang samurai harus bisa menahan rasa sakit tersebut. Jika ia menangis dan berteriak kesakitan, maka hal itu akan sangat memalukan baginya. Untuk menghindari hal itu, orang kepercayaan sang samurai akan berdiri di belakangnya untuk memenggal kepalanya jika proses seppuku tak berjalan lancar.