Tradisi Natal di Berbagai Negara, Enggak Jauh Beda dengan Indonesia

Hotlas Mora Sinaga, Jurnalis
Senin 25 Desember 2017 06:31 WIB
Perayaan Natal. (Foto: Getty Images)
Share :

TRADISI merayakan Natal telah terjadi selama bertahun-tahun di berbagai negara. Perayaan hari kelahiran Yesus Kristus itu identik dengan pohon beringin beserta hiasan-hiasannya, makanan-makanan, lonceng, bahkan tokoh berbaju merah bernama Sinterklas.

Namun faktanya, setiap negara punya cara masing-masing di luar semua hal tersebut. Kebanyakan mereka punya keunikan masing-masing karena faktor tradisi hingga sejarah setempat. Berikut tradisi Natal di 9 negara seperti dirangkum Okezone dari whychristmas.com:

1. Indonesia

Masyarakat Kristen di Indonesia biasanya beribadah terlebih dahulu sebelum merayakan Natal. Setelah beribadah, biasanya gereja juga menampilkan drama bertema 'Kelahiran Yesus' untuk disaksikan. Drama tidak hanya berpaku pada kisah Alkitab melainkan juga masalah kehidupan masa kini.

(Foto: Getty Images)

Sementara di rumah-rumah, beragam kue menjadi sajian wajib untuk para saudara atau tetangga. Beberapa jenis kue yang disajikan biasanya nastar, kastengel, dan Putri Salju.

2. Argentina

Masyarakat di Argentina biasanya telah bersiap untuk Natal sejak awal Desember, bahkan November. Hal itu karena rata-rata mereka beragama Katolik dan Adven.

Saat itu rumah-rumah terdekorasi begitu meriah dengan lampu warna-warni dan karangan bunga berwarna hijau, emas, merah, putih yang menghiasi pintu masuknya. Tidak lupa juga 'Pesebre' atau hiasan patung Maria, Yusuf, dan bayi Yesus yang ditaruh di dekat pohon natal.

Satu tradisi malam Natal yang khas di negara Leonel Messi itu ialah 'Globos'. Yaitu tradisi menerbangkan kertas yang berisi cahaya api di dalamnya ke langit. Wujudnya mirip lampu lampion, namun berwarna putih dan berbentuk silinder.

3. Palestina

Natal menjadi perayaan yang sangat penting di Palestina. Karena di sana ada Betlehem, kota tempat Yesus dilahirkan. Betlehem berjarak sekira enam mil (10 kilometer) dari selatan Yerusalem.

Parade keliling kota yang diiringi alunan musik band bagpipe pun digelar di sana. Padahal tradisi memainkan bagpipe sempat ditinggalkan sejak tentara Inggris menduduki daerah tersebut antara 1920 dan 1948.

Di sisi lain, Gereja Ortodoks Yunani dan Gereja Apostolik Armenia tidak merayakan Natal pada 25 Desember, melainkan pada 6-7 Januari. Hal itu karena mereka menggunakan kalender Julian dan ada juga kalender Gregorian.

4. Zimbabwe

Setelah beribadah di Gereja pada malam Natal, masyarakat Zimbabwe biasanya menggelar pesta di rumahnya masing-masing. Kerabat sampai famili diundang untuk makan dan minum bersama. Pesta ini bisa dilakukan sejak malam hingga pagi menjelang.

Makanan spesial yang dikonsumsi saat Natal di sana ialah ayam dengan nasi. Hal itu karena ayam adalah bahan makanan yang sangat mahal di Zimbabwe.

Musik-musik bervolume kencang biasa terdengar dari speaker stereo yang ditaruh di depan rumah mereka. Tidak hanya lagu natal, tapi juga lagu pop terbaru hingga lawas dari benua Afrika.

Kartu Natal yang digunakan di Zimbabwe juga sangat khas Afrika. Salah satunya dihiasi gambar binatang-binatang liar.

5. Korea Selatan

Sangat berbeda dengan Korea Utara yang melarang keras Natal dan menggantikannya dengan perayaan kelahiran nenek Kim Jong Un, Korea Selatan justru menjadikan Hari Natal sebagai libur nasional. Saat itu, lampu-lampu akan menghiasi jalanan hingga mal-mal di Ibu Kota Seoul.

Di sana, Sinterklas atau Santa Claus dipanggil Santa Kollosu. Jika biasanya Sinterklas memakai baju merah dan putih, di Korsel para santa memakai biru atau merah.

 

(Foto: Getty Images)

Tradisi bertukar hadiah adalah hal populer di sana. Namun memberi uang yang paling sering dilakukan.

Dalam bahasa Korea, selamat Natal di sana berarti 'Seongtanjeol jal bonaeyo' atau 'Jeulgaeun krismas doeseyo'. Sementara untuk orang Kristen, memakai 'Sungtan chukhahaeyo' untuk mengucapkan selamat atas lahirnya Yesus.

6. Selandia Baru

Kebanyakan masyarakat di Selandia Baru merayakan Natal di pantai. Rata-rata mereka berkemah di sana, namun ada juga yang memesan kamar penginapan.

Sejak pertengahan November, di negara tetangga Australia itu ada rentetan tradisi parade Sinterklas dengan iringan marching band. Karena cuaca di sana panas, para Sinterklas biasanya menggunakan 'jandals' (sandal).

Jandals sendiri berasal dari dua kata yakni 'Japanese Sandals' atau Sandal Jepang. Alas kaki itu sudah populer di Selandia Baru sejak akhir 1950-an dan menjadi hadiah Natal yang populer di sana.

Tidak hanya cemara, pohon Kiwi juga bisa jadi pohon Natal tersendiri bagi mereka sejak pertengahan 1800-an. Dinamai Pōhutukawa, pohon kiwi yang tumbuh sangat besar dan berbunga merah cerah bisa menjadi dekorasi dan desain pada kartu Natal.

7. Spanyol

Di Spanyol, malam Natal biasa disebut 'La Misa Del Gallo' atau Misa Ayam. Hal itu karena mereka yakin, seekor ayam jantan seharusnya berkokok pada malam hari sebelum Yesus lahir.

Sebelum kebaktian, masyarakat di sana biasanya menikmati 'Pavo Trufado de Navidad' atau kalkun dengan truffle (jamur). Sementara di wilayah barat laut Spanyol yang dikelilingi air, makanan laut menjadi pilihan.

(Foto: Getty Images)

'Feliz Navidad' adalah kata yang paling familiar di sana untuk mengucapkan Selamat Natal. Selain itu juga ada beberapa kata lainnya seperti 'Bon Nadal' untuk di Catalunya, 'Bo Nadal' di Galician, dan 'Eguberri on' di Basque.

Selain Natal, ada festival lain yang dirayakan pada 6 Januari di Spanyol yang masih berhubungan dengan kelahiran Yesus. Ini disebut Epiphany atau 'Fiesta de Los tres Reyes Mages', yang berarti Festival dari Tiga Raja Ajaib. Epiphany sendiri tentang kedatangan tiga para Raja Bijak yang membawa hadiah untuk bayi Yesus.

Dalam parade itu, tiga raja digambarkan semirip mungkin dengan kisah aslinya yakni datang menaiki unta. Ada unta tiruan, ada juga yang memakai unta sungguhan.

8. Finlandia

Orang Finlandia percaya bahwa Sinterklas tinggal di bagian utara Finlandia yang disebut Korvatunturi (atau Lapland). Surat-surat dari seluruh dunia untuk Sinterklas pun berdatangan ke wilayah sebelah utara Lingkaran Arktik itu.

Di sana, Sinterklas dipanggil Joulupukki yang berarti 'Kambing Natal'. Nama itu berasal dari kisah Kambing Yule yang bertobat dari tingkah jahat mencuri semua hadiah natal. Kambing Yule berubah nama jadi Joulupukki dan terus membagikan hadiah natal hingga posisinya digantikan Sinterklas.

Tidak hanya manusia, hewan-hewan di sana juga merayakan Natal. Seperti burung, merayakannya dengan memakan gandum yang digantung para petani.

Kebersihan rumah juga sangat diperhatikan saat tiga hari suci Natal pada 23-26 Desember. Yaitu Malam Natal, Hari Natal, dan Hari setelah Natal (Boxing Day).

9. Kanada

Karena begitu luas, Kanada dihuni banyak orang-orang dari berbagai latar budaya yang berbeda. Akibatnya, tradisi Natal juga campur aduk mulai dari pengaruh Prancis, Inggris, Irlandia, Skotlandia, Jerman, Norwegia, hingga Ukraina.

Meski begitu, satu tradisi yang umum dimiliki masyarakat di sana yaitu pesta kue kering. Setiap keluarga akan bertukar kue dengan saudara-saudaranya. Kue jahe dan kue keju biasanya yang paling diminati di sana.

Selain itu, orang-orang Kanada juga akan memakan permen 'Barley Candy' dan permen tulang ayam. Barley Candy biasanya berbentuk Sinterklas, rusa kutub, manusia salju, pohon dan simbol Natal lainnya. Sementara tulang ayam, berbentuk silinder seperti tulang ayam dengan rasa seperti kayu manis. Isinya akan meleleh di mulut dengan rasa cokelat susu krim.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya