KARMA itu ada. Setidaknya demikian yang terjadi kepada mantan diktator Somalia, Muhammad Siad Barre. Pada 1969, ia memimpin kudeta militer terhadap Presiden Abd-i-rashid Ali Shermarke hingga sang presiden terbunuh. Siad Barre lantas naik jabatan sebagai Presiden Somalia hingga 1991.
Somalia di bawah Siad Barre membangun hubungan yang kuat dengan Uni Soviet (USSR) serta beberapa negara yang masuk dalam blok tersebut pada dekade 1970. Akan tetapi, Soviet lantas mencabut dukungan setelah Somalia menginvasi Ethiopia pada 1978.
Serangan ke Ethiopia mampu digagalkan dalam waktu satu tahun. Namun, perang gerilya terus berlangsung hingga dekade 1980 ketika Amerika Serikat (AS) turut membantu Somalia. Ratusan ribu orang mengungsi dari Ethiopia ke Somalia hingga berakibat pada depresi ekonomi yang berujung Perang Sipil berkepanjangan.
Melansir dari History, Sabtu (27/1/2018), setelah melewati konflik berdarah yang intens, pasukan pemberontak akhirnya berhasil mengudeta Muhammad Siad Barre dari jabatan Presiden Somalia. Ibu Kota Mogadishu jatuh ke tangan pemberontak hingga Siad Barre terpaksa melarikan diri dari Mogadishu pada 27 Januari 1991.
Ali Mahdi Muhammad dari Kongres Somalia Bersatu mengambil alih Ibu Kota Mogadishu dan wilayah selatan Somalia. Sementara itu, Gerakan Nasional Somalia merebut wilayah utara dan memproklamasikan berdirinya negara merdeka Republik Somalia. Siad Barre mengasingkan diri dan kembali membangun kekuatan demi kembali ke Ibu Kota Mogadishu.