Charis Mission House, Secercah Harapan untuk Anak-Anak di Danau Sentani Papua

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis
Senin 09 April 2018 22:01 WIB
Aktivitas anak-anak di sekitaran Danau Sentani (Foto: Ist)
Share :

JAYAPURA - Dengan luas 9.360 hektare dan melintasi Kota dan Kabupaten Jayapura, Danau Sentani memiliki banyak keaneragaman budaya milik masyarakat yang ada di sekitarnya.

Danau Sentani, yang juga didapuk menjadi salah satu tempat wisata, nyatanya masih menyimpan banyak pekerjaan rumah untuk kesejahteraan masyarakat. Terutama bagi anak-anak yang memerlukan perhatian lebih.

Adalah Charis Mission House (CMH), sebuah organisasi nonprofit yang memiliki misi mencerdaskan masyarakat Sentani menjadi lebih baik dengan kebudayaan dan rohani yang mumpuni.

CMH sendiri kini telah tersebar di 27 titik di sekitar Danau Sentani dan menaungi sekira 2004 anak di sana. Pelajaran tulis menulis, bimbingan konseling, hingga kegiatan kerohaniawan dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh sekira delapan tenaga tetap organisasi ini.

Kehadiran organisasi ini bisa menjadi titik cerah bagi masyarakat Sentani yang sempat tertinggal. Terlebih beragam fasilitas, seperti perpustakaan, ambulans gratis berupa speed boat, hingga ruang belajar meningkatkan semangat anak-anak untuk bisa meraih pendidikan.

Namun, dibalik kesuksesan tersebut, terselip perjuangan tak kenal lelah para relawan untuk membantu sesama. Medan yang sulit jadi tantangan pertama. Meski melintang 25 kilometer dan membelah Kota dan Kabupaten Jayapura, letak Danau sentani yang masih pegunungan membuat akses menuju rumah warga menjadi sulit bukan main.

Jalanan curam yang masih berlapiskan tanah membuat kendaraan yang melintas harus "tersiksa". Terlebih jika situasi hujan, jalanan bubur bisa menjadi hambatan yang serius dalam menempuh ke pemukiman warga.

Diceritakan Panitia CMH, Corry Ohee, medan yang sulit bukan satu-satunya hambatan untuk bertemu dengan warga sekitar. Pada zaman awal masuknya ajaran Kristen di tempat ini, masyarakat yang masih kental dengan aroma budaya membuat misi mereka menebarkan kebaikan melalui ajaran Kristen sempat ditolak oleh masyarakat.

"Awalnya masyarakat di sini menolak akan kebudayaan baru. Bahkan ada seperti kekuatan magis yang langsung menolak pendatang yang hendak membawa sebuah pemahaman baru," jelas Ohee saat diwawancara.

Ohee melanjutkan, masyarakat sekitar dulunya memuja Dewa Pomei sebagai suatu zat tertinggi. Namun ajaran dalam pemujaan itu bertolak belakang dengan ajaran agama Kristen yang penuh kasih.

"Dulu ajaran Dewa Pomei ini harus membunuh dan merampok untuk mencapai kejayaan, itu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan dalam Injil, setelah berjuang, akhirnya Dewa Pomei dikalahkan dan masyarakat menerima Injil sebagai sebuah ajaran baru," terang Ohee.

Menurut Ohee, masuknya ajaran Injil ke Danau Sentani terjadi pada 1918. Namun, masyarakat baru benar-benar menerima pada tahun 1928 yang ditandai dengan dibangunnya prasasti keberhasilan.

"Prasasti ini dibangun sebagai penanda bahwa masyarakat itu sudah bisa membaca dan menulis, dan ajaran Injil masuk dengan baik di wilayah ini," papar Ohee.

Kini, aktivitas di 27 tempat CMH di Danau Sentani yang mulai dibentuk secara resmi pada tahun 2012 banyak diisi dengan kegiatan positif. Dari mulai melakukan kegiatan rohani, konseling, hingga diajarkannya pendidikan seperti membaca dan menulis kepada warga, terutama anak-anak.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya