Renungan Presiden Soekarno di Pohon Sukun Lahirkan Butir-butir Pancasila

Adi Rianghepat, Jurnalis
Jum'at 01 Juni 2018 12:03 WIB
Rumah penahanan Presiden Soekarno (foto: Adi/Okezone)
Share :

Pada 1970 setelah sekian lama hidup, pohon sukun yang menjadi pohon inspirasi Soekarno menemukan Pancasila itu mati seturut usianya. Kemudian Pemerinitah Kabupaten Ende menggantinya dengan anakan pohon yang sama di lokasi yang sama dan saat ini disebut sebagai Pohon Pancasila dan dibangun Taman Soekarno. Tak sekadar pohon dan taman, Pancasila harus dihayati di tengah kehidupan nyata masyarakat.

"Kalau sekadar peringatan seremonial di setiap 1 Juni, saya kira hanya sebuah pepesan kosong," kata Seorang Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Nusa Tenggara Timur, Yopi Lati.

Menurut dia, di tengah karut-marut kondisi kebangsaan saat ini dimana paham radikal dan gerakan intoleransi mulai tumbuh, tak ada cara lain yang bisa kembali merekatkan dan menetralkan kondisi itu jika tidak melalui semangat dan kehidupan bernafas Pancasila.

Nasionalisme yang dimiliki setiap anak bangsa, harus benar-benar terpatri dalam setiap sanubari dan gagasan perjuangan generasi muda dan anak bangsa lainnya. Dengan begitu pandangan kebhinekaan akan diperkuat sebagai satu kekayaan yang tak bisa dicerai beraikan untuk satu kepentingan suku, agama dan kelompok tertentu. Nilai luhur yang ada di dalam Pancasila itu sudah menjadi perekat yang sempurna bagi setiap anak bangsa di NKRI yang berbasis kepulauan ini.

"Pancasila sudah harga mati dan tidak bisa diutak-atik sekehendak kelompok manapun," katanya tegas.

Sebagai kaum muda, lanjut dia, nasionalisme berkebangsaan harus tetap berada di aras persatuan bangsa dalam nilai dasar Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai azasnya.

"Kita tak mungkin bisa terus bersatu sejak kemerdakaan 17 Agustus 1945 dengan kondisi keragaman suku, agama, adat, budaya dan bahasa yang ada, hanya Pancasila yang sanggup merekatkan kita sebagai anak bangsa yang satu di bawah merah putih dan ibu pertiwi," katanya.

Di konteks itulah, kaum muda diajak untuk terus mengembangkan cara pandangnya sebagai anak bangsa agar tidak terkotak-kotak dalam paham yang mencelakakan persatuan dan kesatuan. Dengan begitu kerekatan dan persaudaraan itu bisa terus dijaga. 

Kini Kota Ende menjadi sejarah kisah tempat Bung Karno menemukan Pancasila sebagai dasar hidup dan falsafah bangsa Indonesia yang bisa mempersatukan keanekaragaman suku, bahasa, adat, agama dan budaya yang ada di nusantara ini.

"Karena itulah setiap menjelang 1 Juni Alumni GMNI selalu melakukan sejumlah aksi sosial, renungan dan diskusi tematik berkaitan dengan Pancasila dan nilai-nilainya untuk terus mengingatkan kita akan manifestasi nilai luhur dasar negara itu di tengah masyarakat dan kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Yopi Lati.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya