Mochtar Ngabalin soal 'Kutu Loncat' dan Tugasnya 'Membisiki Presiden'

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 15 Juni 2018 20:01 WIB
(Foto: BBC Indonesia)
Share :

DIWARNAI kontroversi karena masa lalunya yang anti-Jokowi, politikus Ali Mochtar Ngabalin mengakui peran barunya sebagai 'orang dekat' Jokowi dapat mendekatkan umat Islam dengan Istana Kepresidenan.

Sempat dicap sebagai 'kutu loncat', Ali Mochtar Ngabalin mengaku kesediaannya mengiyakan ajakan Presiden Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi di Kantor staf kepresidenan (KSP) adalah pilihan politik.

"Ini politik," tukas politikus Partai Golkar, kelahiran 1968, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Jakarta, Rabu (6/7).

Empat tahun silam, saat pilpres, pria yang selalu tampil bersurban ini bergabung dalam barisan pendukung capres Prabowo Subianto. Ali Mochtar mengklaim tidak ada yang salah dengan pilihan politiknya, apalagi menurutnya partai-partai pendukung Prabowo Subianto-yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih-membubarkan diri setelah kalah dalam Pilpres 2014 lalu.

"Perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis," katanya, dengan mencontohkan sikap partainya, Partai Golkar, yang kemudian mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar," tambah Ali Mochtar yang pernah berlabuh di Partai Bulan Bintang sebelum loncat ke Partai Golkar.

Sejumlah analis menyebutkan pria bersurban ini dipilih oleh Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi politik di Kantor Staf Kepresidenan, karena kedekatannya dengan kelompok Islam politik.

Walau menepis tuduhan yang menyebut pemerintahan Jokowi alergi terhadap kelompok Islam politik, Ali Mochtar tak memungkiri bahwa perannya saat ini dapat 'mendekatkan' umat Islam dengan pemerintah.

"Hari ini saya bisa berbisik kepada presiden," ungkapnya.

Apa komentar Ngabalin atas tuduhan 'kutu loncat' yang diarahkan kepadanya? Bagaimana hubungannya dengan Prabowo Subianto setelah dia 'membelot' mendukung Joko Widodo? Mengapa dia mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo memiliki "kualitas keimanan dan ibadah yang dahsyat"?

Berikut petikan wawancara khusus Heyder Affan dan Oki Budhi dengan Ali Mochtar Ngabalin untuk rubrik Bincang BBC News Indonesia:

Apa yang bisa Anda katakan ketika sebagian orang menganggap Anda sebagai'kutu loncat', karena dulu Anda mendukung kubu Prabowo Subianto dan sekarang masuk Kantor Staf Presiden?

Ketika orang berbicara kepentingan bangsa, negara dan masa depan rakyat Indonesia, dan umat di negeri ini, maka sehebat apapun Anda dengan sebuah ideologi besar yang Anda bawa, maka keinginan dan cita-cita itu harus segera dikuburkan.

Mungkin orang boleh bilang, bahwa saya kemarin bersama-sama dengan mas Bowo (Prabowo Subianto) di Koalisi Merah Putih.

Tapi seiring dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final, yang menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden, maka dengan perkembangan dinamika politik di parlemen dan politik secara umum di Indonesia, seiring sejalan, makin hari Koalisi Merah Putih (partai-partai pendukung calon presiden Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014) makin tidak solid, kemudian bubar.

Kemudian ada partai (dari Koalisi Merah Putih) yang memilih mendukung pemerintah. Karena itu, komitmen-komitmen terhadap koalisi itu -seperti yang terjadi di negara demokrasi- mulai terpecah.

Harus Anda ketahui, perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis. Sebagai kader Partai Golkar, saya kira, banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, bahwa fatsun politik itu merujuk kepada keputusan partai.

Ke mana partai memiliki pandangan dalam langkah-langkah politik eksternal dan internal, maka pada saat itulah sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar.

Itulah sebabnya, kenapa hari ini saya harus berada, bersama-sama dengan jajaran pemerintah, berada di dalam pemerintahan, untuk membackup (mendukung) pemerintah atas capaian-capaian kerja yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, yang saya menyaksikan, dan saya tahu, itu hampir tidak terdengar kerja-kerja dan sukses mereka kepada publik.

Dengan latar belakang dan pengalaman sedikit ilmu yang saya miliki, saya kira, menurut ketentuan ajaran agama, menjadi wajib untuk saya harus berada bersama-sama dengan pemerintah untuk menyampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa apa yang telah dilakukan, apa yang dipikirkan, apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah, itu menjadi sesuatu yang wajib hukumnya bagi saya.

Sebagian pendukung Jokowi menyambut keputusan Anda bergabung dalam Kantor staf Kepresidenan (KSP)...

Ya, Alhamdulillah.

Tapi ada pula yang mengkritik karena Anda dianggap kutu loncat dan mereka mempertanyakan kredibilitas Anda?

Saya sudah bertemu (mereka) dalam beberapa forum. Dan saya sampaikan kepada kawan-kawan, bahwa Anda boleh merasa 'marah' kepada saya, it's OK. No problem. Ini politik.

Saya harus bilang kepada mereka 'hari saya lakukan sesuatu, tidak mustahil besok Anda akan melakukan hal yang sama'. Tapi ingat, dalam tujuan dan pikiran yang sama, yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Jadi, apa yang salah dengan langkah saya. Apa yang membuat kalian marah dengan saya.

Tidak lama setelah nama Anda disebut masuk sebagai staf ahli bidang komunikasi politik, Anda langsung melakukan semacam counter terhadap narasi-narasi yang Anda anggap sebagai fitnah terhadap Presiden Joko Widodo, dan bahkan Anda menyebut nama Amien Rais. Apakah tugas-tugas seperti itu yang akan Anda lakukan?

Saya bertugas di bagian komunikasi politik. Jadi selain membuat analisa tentang sejumlah kebijakan politik, kemudian bagaimana membangun narasi politik dan komunikasi politik.

Tentu saja, saya ditugaskan bersama kawan-kawan yang lain lagi. Saya ditunjuk oleh bapak Presiden untuk dan atas nama pemerintah, untuk menyampaikan kepada publik tentang hasil capaian-capaian pemerintah.

Karena itulah ketika saya mendengar sejumlah pernyataan-pernyataan dari siapa saja, yang tidak sesuai dengan fakta dan data, maka sebagai orang yang diamanahkan untuk melakukan kerja-kerja komunikasi-komunikasi politik itu, saya ingin mengatakan bahwa harus meluruskan, dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan itu.

Karena, kalau melakukan kritik terhadap pemangku kekuasaan negara itu tanpa data dan fakta, itu adalah fitnah, itu bisa membuat penyesatan.

Jadi sebagai pejabat publik yang diangkat dari proses politik, apa yang salah kalau saya menyampaikan counter atau meluruskan, atau meminta fakta dan data.

Kembali lagi ke soal pemilihan Anda menjadi staf ahli KSP. Sebagian analis mengatakan pilihan jatuh kepada Anda karena latar belakang Anda dianggap sebagai simbol dari kelompok Islam. Apakah Anda tidak membantah kalau ada yang menilai Anda dipilih untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak memusuhi kelompok-kelompok Islam?

Tidak. Itu tidak benar. Karena pak Jusuf Kalla (Wakil Presiden) sendiri adalah simbol keberadaan umat (Islam) yang luar biasa. Pak Jusuf Kalla itu dari Pelajar Islam Indonesia (PII).

Pak Jusuf Kalla itu tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pak Jusuf Kalla itu ibunya dari Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ayahnya dari Nahdlatul Ulama (NU). Kurang apa Pak Jusuf Kalla. Bagaimana mungkin pemerintah anti kepada Islam. Saya tidak percaya. Ini adalah data yang bulshit, bohong, sesat dan menyesatkan.

Kalau saya, memang saya ini punya latar belakang yang panjang. Selain saya dari Pelajar Islam Indonesia (PII), saya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Dan hari ini, saya menjadi ketua umum Badan Koordinasi mubalig seluruh Indonesia (Bakomubin).

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya