Mochtar Ngabalin soal 'Kutu Loncat' dan Tugasnya 'Membisiki Presiden'

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 15 Juni 2018 20:01 WIB
(Foto: BBC Indonesia)
Share :

Di depan beliau saya ngomong. Wallahi (atas nama Tuhan)! Saya tidak bercanda. Bung, ini Ali Muchtar, saya tidak main-main dengan urusan kehidupan, karena saya percaya selesaikan urusanmu, dan sempurnakan urusanmua dengan Allah SWT. Duniamu nanti Allah yang urus. Saya tidak pernah ragu tentang kebenaran yang saya ambil. Itulah, makanya saya tidak pernah bimbang.

Semua orang boleh membully saya, tapi saya punya komunikasi dengan Tuhan, dengan Allah SWT. Saya tahu langkah saya ini sebuah langkah yang saya tidak pernah ragu.

Anda identik dengan surban yang selalu Anda kenakan di hadapan umum. Sejak kapan Anda mengenakannya?

Sudah lama. Topi ini menjadi gambaran dari orang tua saya, bahwa dia punya harapan agar saya bisa menjadi ulama, menjadi seorang mubalig, karena ketika saya keluar dari Fakfak, Papua Barat, kami dari keluarga bangsawan. Kami dari keluarga punya nilai spiritual yang tinggi.

Saya dibesarkan dalam kultur yang penuh hukum adat dan hukum Islam di Papua Barat dan di Pulau Key, Maluku Tenggara. Dan kami berasal dari latar belakang keluarga yang jauh dari Seririt, Singaraja, dari Seram, dari Maluku, dari Buton, Sulawesi, Makasar, Bugis. Seluruh orang melekat darahnya pada saya.

Mengapa harus mengenakan surban. Bukankah untuk menjadi ulama tidak harus bersurban?

Oh, ulama itu yang dinilai seberapa jauh ketajaman ilmunya, akhlak dan moralnya. Dan kedua, seberapa jauh mereka bisa melakukan sosialisasi, menyebarkan pengetahuan yang mereka miliki.

Banyak orang menggunakan surban, jambang, jenggot, cukur kumis, tapi kalau tidak bisa menampakkan dirinya sebagai orang yang mempertanggungjawabkan keilmuannya, ilmunya dipakai untuk membohongi orang, ilmunya dipakai untuk menghalalkan segala cara, itu namanya ulama sesat dan menyesatkan umat.

Ada yang disebut ulama su', ulama yang memakai segala atribut keilmuannya untuk kepentingan dunia. Insya Allah, saya tidak masuk dalam wilayah itu.

Dan ketika Anda mendapatkan gelar Doktor di sebuah perguruan tinggi, Anda bersedia membuka surban?

Saya membuka itu agar mereka melihat apakah kepala saya itu botak atau tidak. Dan saya tunjukkan kepada mereka, ini kepala saya (Ali Mochtar kemudian melepaskan surbannya dan menunjukkan rambutnya), rambut saya masih bagus.

Kalau saya buka, dan semua orang histeris, ternyata saya ganteng 'kan... ha, ha, ha.

(Qur'anul Hidayat)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya