DIWARNAI kontroversi karena masa lalunya yang anti-Jokowi, politikus Ali Mochtar Ngabalin mengakui peran barunya sebagai 'orang dekat' Jokowi dapat mendekatkan umat Islam dengan Istana Kepresidenan.
Sempat dicap sebagai 'kutu loncat', Ali Mochtar Ngabalin mengaku kesediaannya mengiyakan ajakan Presiden Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi di Kantor staf kepresidenan (KSP) adalah pilihan politik.
"Ini politik," tukas politikus Partai Golkar, kelahiran 1968, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Jakarta, Rabu (6/7).
Empat tahun silam, saat pilpres, pria yang selalu tampil bersurban ini bergabung dalam barisan pendukung capres Prabowo Subianto. Ali Mochtar mengklaim tidak ada yang salah dengan pilihan politiknya, apalagi menurutnya partai-partai pendukung Prabowo Subianto-yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih-membubarkan diri setelah kalah dalam Pilpres 2014 lalu.
"Perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis," katanya, dengan mencontohkan sikap partainya, Partai Golkar, yang kemudian mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
"Sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar," tambah Ali Mochtar yang pernah berlabuh di Partai Bulan Bintang sebelum loncat ke Partai Golkar.
Sejumlah analis menyebutkan pria bersurban ini dipilih oleh Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi politik di Kantor Staf Kepresidenan, karena kedekatannya dengan kelompok Islam politik.
Walau menepis tuduhan yang menyebut pemerintahan Jokowi alergi terhadap kelompok Islam politik, Ali Mochtar tak memungkiri bahwa perannya saat ini dapat 'mendekatkan' umat Islam dengan pemerintah.
"Hari ini saya bisa berbisik kepada presiden," ungkapnya.
Apa komentar Ngabalin atas tuduhan 'kutu loncat' yang diarahkan kepadanya? Bagaimana hubungannya dengan Prabowo Subianto setelah dia 'membelot' mendukung Joko Widodo? Mengapa dia mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo memiliki "kualitas keimanan dan ibadah yang dahsyat"?
Berikut petikan wawancara khusus Heyder Affan dan Oki Budhi dengan Ali Mochtar Ngabalin untuk rubrik Bincang BBC News Indonesia:
Apa yang bisa Anda katakan ketika sebagian orang menganggap Anda sebagai'kutu loncat', karena dulu Anda mendukung kubu Prabowo Subianto dan sekarang masuk Kantor Staf Presiden?
Ketika orang berbicara kepentingan bangsa, negara dan masa depan rakyat Indonesia, dan umat di negeri ini, maka sehebat apapun Anda dengan sebuah ideologi besar yang Anda bawa, maka keinginan dan cita-cita itu harus segera dikuburkan.
Mungkin orang boleh bilang, bahwa saya kemarin bersama-sama dengan mas Bowo (Prabowo Subianto) di Koalisi Merah Putih.
Tapi seiring dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final, yang menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden, maka dengan perkembangan dinamika politik di parlemen dan politik secara umum di Indonesia, seiring sejalan, makin hari Koalisi Merah Putih (partai-partai pendukung calon presiden Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014) makin tidak solid, kemudian bubar.
Kemudian ada partai (dari Koalisi Merah Putih) yang memilih mendukung pemerintah. Karena itu, komitmen-komitmen terhadap koalisi itu -seperti yang terjadi di negara demokrasi- mulai terpecah.
Harus Anda ketahui, perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis. Sebagai kader Partai Golkar, saya kira, banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, bahwa fatsun politik itu merujuk kepada keputusan partai.
Ke mana partai memiliki pandangan dalam langkah-langkah politik eksternal dan internal, maka pada saat itulah sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar.
Itulah sebabnya, kenapa hari ini saya harus berada, bersama-sama dengan jajaran pemerintah, berada di dalam pemerintahan, untuk membackup (mendukung) pemerintah atas capaian-capaian kerja yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, yang saya menyaksikan, dan saya tahu, itu hampir tidak terdengar kerja-kerja dan sukses mereka kepada publik.
Dengan latar belakang dan pengalaman sedikit ilmu yang saya miliki, saya kira, menurut ketentuan ajaran agama, menjadi wajib untuk saya harus berada bersama-sama dengan pemerintah untuk menyampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa apa yang telah dilakukan, apa yang dipikirkan, apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah, itu menjadi sesuatu yang wajib hukumnya bagi saya.
Sebagian pendukung Jokowi menyambut keputusan Anda bergabung dalam Kantor staf Kepresidenan (KSP)...
Ya, Alhamdulillah.
Tapi ada pula yang mengkritik karena Anda dianggap kutu loncat dan mereka mempertanyakan kredibilitas Anda?
Saya sudah bertemu (mereka) dalam beberapa forum. Dan saya sampaikan kepada kawan-kawan, bahwa Anda boleh merasa 'marah' kepada saya, it's OK. No problem. Ini politik.
Saya harus bilang kepada mereka 'hari saya lakukan sesuatu, tidak mustahil besok Anda akan melakukan hal yang sama'. Tapi ingat, dalam tujuan dan pikiran yang sama, yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Jadi, apa yang salah dengan langkah saya. Apa yang membuat kalian marah dengan saya.
Tidak lama setelah nama Anda disebut masuk sebagai staf ahli bidang komunikasi politik, Anda langsung melakukan semacam counter terhadap narasi-narasi yang Anda anggap sebagai fitnah terhadap Presiden Joko Widodo, dan bahkan Anda menyebut nama Amien Rais. Apakah tugas-tugas seperti itu yang akan Anda lakukan?
Saya bertugas di bagian komunikasi politik. Jadi selain membuat analisa tentang sejumlah kebijakan politik, kemudian bagaimana membangun narasi politik dan komunikasi politik.
Tentu saja, saya ditugaskan bersama kawan-kawan yang lain lagi. Saya ditunjuk oleh bapak Presiden untuk dan atas nama pemerintah, untuk menyampaikan kepada publik tentang hasil capaian-capaian pemerintah.
Karena itulah ketika saya mendengar sejumlah pernyataan-pernyataan dari siapa saja, yang tidak sesuai dengan fakta dan data, maka sebagai orang yang diamanahkan untuk melakukan kerja-kerja komunikasi-komunikasi politik itu, saya ingin mengatakan bahwa harus meluruskan, dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan itu.
Karena, kalau melakukan kritik terhadap pemangku kekuasaan negara itu tanpa data dan fakta, itu adalah fitnah, itu bisa membuat penyesatan.
Jadi sebagai pejabat publik yang diangkat dari proses politik, apa yang salah kalau saya menyampaikan counter atau meluruskan, atau meminta fakta dan data.
Kembali lagi ke soal pemilihan Anda menjadi staf ahli KSP. Sebagian analis mengatakan pilihan jatuh kepada Anda karena latar belakang Anda dianggap sebagai simbol dari kelompok Islam. Apakah Anda tidak membantah kalau ada yang menilai Anda dipilih untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak memusuhi kelompok-kelompok Islam?
Tidak. Itu tidak benar. Karena pak Jusuf Kalla (Wakil Presiden) sendiri adalah simbol keberadaan umat (Islam) yang luar biasa. Pak Jusuf Kalla itu dari Pelajar Islam Indonesia (PII).
Pak Jusuf Kalla itu tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pak Jusuf Kalla itu ibunya dari Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ayahnya dari Nahdlatul Ulama (NU). Kurang apa Pak Jusuf Kalla. Bagaimana mungkin pemerintah anti kepada Islam. Saya tidak percaya. Ini adalah data yang bulshit, bohong, sesat dan menyesatkan.
Kalau saya, memang saya ini punya latar belakang yang panjang. Selain saya dari Pelajar Islam Indonesia (PII), saya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Dan hari ini, saya menjadi ketua umum Badan Koordinasi mubalig seluruh Indonesia (Bakomubin).
Bakomubin, yang saya pimpin, jadi media pertemuan antara pemangku kuasa negara (umarah), ulama dan umat. Selama ini kita dari mimbar ke mimbar, berteriak, mengontrol, kemudian membicarakan mengenai kepentingan umat dan negara, tapi dia terbentur sampai dinding-dinding masjid dan halaman masjid.
Kalau hari ini saya bisa bisik kepada presiden. Ketika Profesor Doktor Dawam Rahardjo meninggal dunia, pagi-pagi saya datang ke Istana, kemudian saya minta izin 'bapak, kalau bapak berkenan, dan ada waktu, saya merasa bapak layak untuk bisa melayat beliau'.
Banyak lagi agenda keumatan yang saya kira selama ini tidak sampai atau selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan baik kepada beliau, atau selama ini hanya dihadiri oleh wakil presiden, beliau bisa hadiri.
Dengan lebih tegas, berarti kehadiran Anda bisa dikatakan untuk menjembatani antara apa yang disebut umat Islam dengan pemerintah atau Presiden?
Yang lebih tepat, menjadi penyambung lidah umat. Paling tidak penyambung lidah mubalig. Saya meneruskan pesan-pesan umat kepada presiden.
Kalau berangkat dari pernyataan Anda bahwa selama ini suara umat Islam terbentur dinding masjid, dan Anda berusaha memerankan tanggungjawab itu, berarti memang benar ada anggapan bahwa pemerintah kurang dekat dengan kelompok Islam?
Tidak, tapi kalau pemerintah itu anti umat Islam, itu pasti tidak benar. Itu narasi yang menyesatkan. Karena...
Anda mengatakan seperti itu karena Anda saat ini menjadi staf ahli Presiden?
Oh, tidak. Sejak awal saya mempunyai pandangan seperti itu. Dan, kalau orang bicara tentang umat, memang Jokowi itu umat nabi siapa? Dia umat nabi Muhammad SAW. Dia bersyahadat sama dengan kita. Beliau ruku' dan sujud, berpuasa. Kualitas keimanannya dan ibadahnya, tidak kalah dahsyat daripada kita-kita.
Karena itu saya selalu mengatakan ketika kita menggunakan idiom umat itu, maka tidak boleh ada orang yang melahirkan kebencian, permusuhan dan adu domba terkait pemerintah.
Pemimpin, pemerintah itu tidak boleh dibenci. Enggak boleh dimusuhi. Sebaliknya pemerintah itu tidak boleh memusuhi rakyatnya. Dan hari ini seperti ditunjukkan oleh Presiden Joko Widodo adalah bagaimana mendatangi umat.
Karena itu, pemerintah harus diajak bicara. Kalau dia tidak bisa mendatangi rakyat dan umat, maka umat berbondong-bondong, Boleh pilih beberapa orang untuk representasinya, datang dan bicara dengan presiden.
Tetapi kalau dari luar, kemudian difitnah, kemudian dia dihujat, dicaci maki, dia dibully, beliau 'kan manusia biasa.
Saya, Alhamdullilah, diamanahkan sebagai orang di sekitar beliau, ada di sekitar istana, hari-hari, saya bisa mendengarkan dan merasakan apa yang beliau sampaikan kepada publik.
Jadi, jika dikatakan pemerintah tidak memusuhi umat Islam, menurut Anda, siapa yang membuat dan menggulirkan isu itu?
Saya kira kita tidak bisa membendung kemajuan media sosial hari ini.
Orang membuat berita viral di mana-mana, dengan mengaitkan data-data yang akurasinya lemah, tidak ada bukti-bukti autentik, kemudian menuduh presiden dengan komunis, dan lain-lain, mengangkat sejumlah orang yang mereka menyebutkan tidak memiliki keberpihakan kepada Islam.
Saya kira kalau bangsa dan umat ini masih terus membicarakan mengenai persoalan-persoalan yang terkesan mengotak-ngotakkan, membuat kotak-kotak, yang memisahkan antara umat yang satu dengan yang lain, bangsa ini tidak akan maju.
Sementara bangsa ini besar, layak dan dibesarkan, karena banyak saudara-saudara kita dari Katolik, Protestan, Hindhu, Buddha dan Konghucu, suku bangsa yang luar biasa banyaknya. Kekuataan itulah yang menjadi pengayaan bangsa Indonesia.
Apakah kubu oposisi yang melontarkan isu tersebut untuk memelihara sekaligus mendapat suara dari kelompok Islam?
Hebat! Anda paten sudah punya bayangan seperti itu. Bagus! Karena menuju 2019, segala macam orang bisa melakukan cara.
Dari #gantipresiden di acara car free day. Bayangkan orang buka puasa dengan takjil sticker ganti presiden 2019. Ini sekarang mudik lagi, dengan #mudikgantipresiden2019. Mungkin nanti bikin lagi tarawih #gantipresiden, seterusnya dan seterusnya.
Sabar dong, sabar. Memang ada batas waktu di mana orang mendaftar jadi calon presiden, sampai batas mana orang boleh kampanye, dan dari batas mana orang mulai boleh berteriak. Kalau ini, rakyat atau umat sudah mengetahuinya.
Kita umat mayoritas di republik ini. Bisa bapak bayangkan ada orang buka puasa, takjilnya ditempelin dengan sticker #gantipresiden2019. Apa ini? Bangsa ini kan dibangun dengan tata krama yang luar biasa.
Orang Jawa menyebutkan toto kromo. Kita menyebutkan ahlakul karimah yang bagus. Sabar. Kenapa mau berkuasa kok kebelet banget.
Kalau ada yang mengatakan upaya itu dilakukan karena Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik, dalam rangka untuk mengkritik pemerintah. Bukankah itu wajar saja?
Ya, saya setuju, Islam, politik dan negara tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Tapi Anda harus jujur, Anda tidak boleh fitnah. Anda tidak boleh menyebarkan berita-berita bohong, berita-berita dengan penuh kebencian.
Siapapun Anda, yang mau berdiri dan mau jadi calon presiden, atau tim manapun, silakan saja. Tapi Anda tidak boleh membuat fitnah di kalangan umat dan rakyat Indonesia.
Anda yang pernah bergabung dengan tim sukses capres Prabowo Subianto, apakah Anda mengakui kalau isu seperti itu sengaja diembuskan atau dibesarkan untuk menyudutkan lawan politik?
Kalau dulu ada saya dan beberapa kawan-kawan, kita bisa melakukan dengan langkah-langkah dan kerja-kerja untuk menghentikan permusuhan, hentikan kebencian, hentikan menyebarkan fitrnah dan cara-cara bohong. Saya tidak tahu kalau sekarang. karena banyak anak muda yang paham tentang IT dan medsos.
Tapi saya mau bilang, bahwa cara-cara kerja ini, saya mengerti, saya tahu. Bukan berarti kami tidak tahu, bukan berarti kami tidak bisa. Kami bisa. Tapi kami orang-orang yang memiliki peradaban, punya agama, punya pengetahuan, punya sistem nilai.
Saya kira tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa meninggalkan legacy yang buruk, meninggalkan kesan-kesan yang tidak benar, memberikan pendidikan yang buruk bagi generasi kita dalam tata cara menyampaikan aspirasi dan memberikan sokongan kepada siapa yang kita calonkan.
Cara-cara yang penuh fitnah dan kebohongan, data-data palsu, data-data tentang menyudutkan yang satu dan mengangkat yang lain, itu data-data yang penuh kebencian. Itu tidak boleh terjadi di negeri ini.
Setelah Anda dipilih sebagai staf ahli komunikasi politik di Kantor staf kepresidenan, apakah Anda menempatkan diri Anda dalam kubu oposisi yang dulu Anda dukung?
Ah, saya berkali-kali datang buka puasa dengan mereka. Saya berkali-kali duduk baik-baik dan berbicara dengan mereka. Saya bertelepon, saya bertemu mas Bowo (Prabowo Subianto)...
Apa yang Anda katakan kepada Prabowo Subianto?
'Apa kabar, mas?' 'Sehat?' 'Sehat'. 'Gimana Li?' 'Baik'. Boleh tanya (ke Prabowo Subianto), boleh interviu. Saya ketemu dalam forum-forum yang juga bermartabat. Dengan kawan-kawan semua, tidak ada masalah. Karena yang mereka pikirkan adalah masa depan bangsa dan Indonesia.
Saya berpikir tentang masa depan bangsa dan Indonesia. Mereka mempersiapkan calon presiden yang mungkin mereka anggap baik untuk kepentingan masa depan bangsa, dan saya pun mengatakan: Presiden Jokowi telah melaksanakan banyak, banyak, banyak agenda penting.
Infrastruktur itu adalah mimpi rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun yang baru terlaksana pada periode presiden Joko Widodo. Dan itu saya cerita pada mereka.
Usai memberikan jawaban pertanyaan ini, Ali Mochtar Ngabalin mengemukan pernyataan sebagai berikut:
Bung Heyder Affan, Anda ingat baik-baik, dan catat dengan sejujur-jujurnya. Saya datang ke istana bukan pakai surat, bukan saya datang dengan mengajukan permohonan. No way! Saya ditelpon oleh Presiden Joko Widodo.
Presiden langsung menelpon Anda?
Saya ditelpon. Saya bicara dengan Menteri Sekretaris Negara, saya diundang ke istana...
Apa yang dinyatakan Presiden dalam telpon itu?
Ya, saya diminta untuk 'tolong bantu saya Pak Ngabalin'. Kepala negara yang minta, bung Heyder! Tentu dia butuh orang mungkin untuk mengkomunikasikan, menyampaikan capaian-capaian hasil pekerjaannya kepada publik, kepada umat dan lain-lain.
Dan Anda ingat baik-baik, beliau menelpon saat puasa tahun lalu (2017). Saya beberapa kali ketemu dulu, berbicara dulu. Nanti pada tahun 1439 Hijriyah (2018 Masehi), baru saya terima. Bukan ujuk-ujuk seperti orang tidak punya apa-apa, kemudian langsung datang. Saya tidak seperti itu.
Kalau beliau-beliau mensearching siapa Ali Mochtar Ngabalin, latar belakangnya, keluarganya, semuanya. Saya pun juga meminta pertolongan kepada Allah, berdiskusi dengan teman-teman di Badan Koordinasi Mubalig seluruh Indonesia, dengan keluarga, dengan sahabat, dengan semua.
Saya mesti bertanya. Kalau suatu waktu saya begini, 'emang ente mimpi?' Oh, enggak. Saya sudah begini, saya sudah membangun komunikasi. Siapa tahu saya sewaktu-waktu saya diminta, saya sudah bicarakan dengan antum, saya sudah bicarakan dengan antum.
Tahun lalu yang menelpon Anda, juga Presiden Joko Widodo secara langsung?
Ya, beliau telepon saya.
Dan mengapa Anda membutuhkan sekitar satu tahun untuk mengiyakan permintaan presiden?
Sebagai orang beragama, sebagai orang Islam, sebagai orang beriman, saya harus meminta petunjuk dari Allah. Saya harus beristiharah. Saya harus berkomunikasi dengan banyak orang yang saya rasa dekat. Dengan komunitas yang saya pimpin, badan koordinasi mubalig seluruh Indonesia. Tiga kali mereka memutuskan 'pergilah wahai saudaraku'.
Tentu Anda berkomunikasi dengan Partai Golkar juga?
Saya bicara dengan Partai Golkar. Saya bicara dengan pimpinan partai Golkar. Saya ngomong dengan pak Novanto (eks Ketum Partai Golkar, kini narapidana kasus korupsi e-KTP). Presiden meminta pandangan Pak Novanto, Presiden meminta keterangan Sekjen partai Golkar (waktu itu) Idrus Marham.
Bukan ujuk-ujuk. Bukan seperti orang yang kaget dengan mimpi dengan sebuah kekuasaan, kemudian datang.
Di depan bapak Presiden, saya bilang: 'Nyawa saya pertaruhkan kepada bapak sepanjang kebenaran dan kejujuran yang bapak laksanakan'. Anda boleh tanya, boleh interviu beliau, tentang pernyataan saya tersebut.
Di depan beliau saya ngomong. Wallahi (atas nama Tuhan)! Saya tidak bercanda. Bung, ini Ali Muchtar, saya tidak main-main dengan urusan kehidupan, karena saya percaya selesaikan urusanmu, dan sempurnakan urusanmua dengan Allah SWT. Duniamu nanti Allah yang urus. Saya tidak pernah ragu tentang kebenaran yang saya ambil. Itulah, makanya saya tidak pernah bimbang.
Semua orang boleh membully saya, tapi saya punya komunikasi dengan Tuhan, dengan Allah SWT. Saya tahu langkah saya ini sebuah langkah yang saya tidak pernah ragu.
Anda identik dengan surban yang selalu Anda kenakan di hadapan umum. Sejak kapan Anda mengenakannya?
Sudah lama. Topi ini menjadi gambaran dari orang tua saya, bahwa dia punya harapan agar saya bisa menjadi ulama, menjadi seorang mubalig, karena ketika saya keluar dari Fakfak, Papua Barat, kami dari keluarga bangsawan. Kami dari keluarga punya nilai spiritual yang tinggi.
Saya dibesarkan dalam kultur yang penuh hukum adat dan hukum Islam di Papua Barat dan di Pulau Key, Maluku Tenggara. Dan kami berasal dari latar belakang keluarga yang jauh dari Seririt, Singaraja, dari Seram, dari Maluku, dari Buton, Sulawesi, Makasar, Bugis. Seluruh orang melekat darahnya pada saya.
Mengapa harus mengenakan surban. Bukankah untuk menjadi ulama tidak harus bersurban?
Oh, ulama itu yang dinilai seberapa jauh ketajaman ilmunya, akhlak dan moralnya. Dan kedua, seberapa jauh mereka bisa melakukan sosialisasi, menyebarkan pengetahuan yang mereka miliki.
Banyak orang menggunakan surban, jambang, jenggot, cukur kumis, tapi kalau tidak bisa menampakkan dirinya sebagai orang yang mempertanggungjawabkan keilmuannya, ilmunya dipakai untuk membohongi orang, ilmunya dipakai untuk menghalalkan segala cara, itu namanya ulama sesat dan menyesatkan umat.
Ada yang disebut ulama su', ulama yang memakai segala atribut keilmuannya untuk kepentingan dunia. Insya Allah, saya tidak masuk dalam wilayah itu.
Dan ketika Anda mendapatkan gelar Doktor di sebuah perguruan tinggi, Anda bersedia membuka surban?
Saya membuka itu agar mereka melihat apakah kepala saya itu botak atau tidak. Dan saya tunjukkan kepada mereka, ini kepala saya (Ali Mochtar kemudian melepaskan surbannya dan menunjukkan rambutnya), rambut saya masih bagus.
Kalau saya buka, dan semua orang histeris, ternyata saya ganteng 'kan... ha, ha, ha.
(Qur'anul Hidayat)