Bakomubin, yang saya pimpin, jadi media pertemuan antara pemangku kuasa negara (umarah), ulama dan umat. Selama ini kita dari mimbar ke mimbar, berteriak, mengontrol, kemudian membicarakan mengenai kepentingan umat dan negara, tapi dia terbentur sampai dinding-dinding masjid dan halaman masjid.
Kalau hari ini saya bisa bisik kepada presiden. Ketika Profesor Doktor Dawam Rahardjo meninggal dunia, pagi-pagi saya datang ke Istana, kemudian saya minta izin 'bapak, kalau bapak berkenan, dan ada waktu, saya merasa bapak layak untuk bisa melayat beliau'.
Banyak lagi agenda keumatan yang saya kira selama ini tidak sampai atau selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan baik kepada beliau, atau selama ini hanya dihadiri oleh wakil presiden, beliau bisa hadiri.
Dengan lebih tegas, berarti kehadiran Anda bisa dikatakan untuk menjembatani antara apa yang disebut umat Islam dengan pemerintah atau Presiden?
Yang lebih tepat, menjadi penyambung lidah umat. Paling tidak penyambung lidah mubalig. Saya meneruskan pesan-pesan umat kepada presiden.
Kalau berangkat dari pernyataan Anda bahwa selama ini suara umat Islam terbentur dinding masjid, dan Anda berusaha memerankan tanggungjawab itu, berarti memang benar ada anggapan bahwa pemerintah kurang dekat dengan kelompok Islam?
Tidak, tapi kalau pemerintah itu anti umat Islam, itu pasti tidak benar. Itu narasi yang menyesatkan. Karena...
Anda mengatakan seperti itu karena Anda saat ini menjadi staf ahli Presiden?
Oh, tidak. Sejak awal saya mempunyai pandangan seperti itu. Dan, kalau orang bicara tentang umat, memang Jokowi itu umat nabi siapa? Dia umat nabi Muhammad SAW. Dia bersyahadat sama dengan kita. Beliau ruku' dan sujud, berpuasa. Kualitas keimanannya dan ibadahnya, tidak kalah dahsyat daripada kita-kita.
Karena itu saya selalu mengatakan ketika kita menggunakan idiom umat itu, maka tidak boleh ada orang yang melahirkan kebencian, permusuhan dan adu domba terkait pemerintah.
Pemimpin, pemerintah itu tidak boleh dibenci. Enggak boleh dimusuhi. Sebaliknya pemerintah itu tidak boleh memusuhi rakyatnya. Dan hari ini seperti ditunjukkan oleh Presiden Joko Widodo adalah bagaimana mendatangi umat.
Karena itu, pemerintah harus diajak bicara. Kalau dia tidak bisa mendatangi rakyat dan umat, maka umat berbondong-bondong, Boleh pilih beberapa orang untuk representasinya, datang dan bicara dengan presiden.
Tetapi kalau dari luar, kemudian difitnah, kemudian dia dihujat, dicaci maki, dia dibully, beliau 'kan manusia biasa.
Saya, Alhamdullilah, diamanahkan sebagai orang di sekitar beliau, ada di sekitar istana, hari-hari, saya bisa mendengarkan dan merasakan apa yang beliau sampaikan kepada publik.
Jadi, jika dikatakan pemerintah tidak memusuhi umat Islam, menurut Anda, siapa yang membuat dan menggulirkan isu itu?
Saya kira kita tidak bisa membendung kemajuan media sosial hari ini.
Orang membuat berita viral di mana-mana, dengan mengaitkan data-data yang akurasinya lemah, tidak ada bukti-bukti autentik, kemudian menuduh presiden dengan komunis, dan lain-lain, mengangkat sejumlah orang yang mereka menyebutkan tidak memiliki keberpihakan kepada Islam.
Saya kira kalau bangsa dan umat ini masih terus membicarakan mengenai persoalan-persoalan yang terkesan mengotak-ngotakkan, membuat kotak-kotak, yang memisahkan antara umat yang satu dengan yang lain, bangsa ini tidak akan maju.
Sementara bangsa ini besar, layak dan dibesarkan, karena banyak saudara-saudara kita dari Katolik, Protestan, Hindhu, Buddha dan Konghucu, suku bangsa yang luar biasa banyaknya. Kekuataan itulah yang menjadi pengayaan bangsa Indonesia.
Apakah kubu oposisi yang melontarkan isu tersebut untuk memelihara sekaligus mendapat suara dari kelompok Islam?
Hebat! Anda paten sudah punya bayangan seperti itu. Bagus! Karena menuju 2019, segala macam orang bisa melakukan cara.
Dari #gantipresiden di acara car free day. Bayangkan orang buka puasa dengan takjil sticker ganti presiden 2019. Ini sekarang mudik lagi, dengan #mudikgantipresiden2019. Mungkin nanti bikin lagi tarawih #gantipresiden, seterusnya dan seterusnya.
Sabar dong, sabar. Memang ada batas waktu di mana orang mendaftar jadi calon presiden, sampai batas mana orang boleh kampanye, dan dari batas mana orang mulai boleh berteriak. Kalau ini, rakyat atau umat sudah mengetahuinya.
Kita umat mayoritas di republik ini. Bisa bapak bayangkan ada orang buka puasa, takjilnya ditempelin dengan sticker #gantipresiden2019. Apa ini? Bangsa ini kan dibangun dengan tata krama yang luar biasa.
Orang Jawa menyebutkan toto kromo. Kita menyebutkan ahlakul karimah yang bagus. Sabar. Kenapa mau berkuasa kok kebelet banget.
Kalau ada yang mengatakan upaya itu dilakukan karena Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik, dalam rangka untuk mengkritik pemerintah. Bukankah itu wajar saja?
Ya, saya setuju, Islam, politik dan negara tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Tapi Anda harus jujur, Anda tidak boleh fitnah. Anda tidak boleh menyebarkan berita-berita bohong, berita-berita dengan penuh kebencian.
Siapapun Anda, yang mau berdiri dan mau jadi calon presiden, atau tim manapun, silakan saja. Tapi Anda tidak boleh membuat fitnah di kalangan umat dan rakyat Indonesia.