ISTANBUL – Rakyat Turki memberikan suaranya untuk memilih presiden dan anggota parlemen baru dalam pemilihan pada Minggu. Pemilihan kali ini dinilai oleh banyak pihak sebagai tantangan terberat bagi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan partai AKP-nya sejak berkuasa satu setengah dekade lalu.
Pemilihan ini juga akan mengawali masa sistem presidensial baru yang didukung oleh sejumlah kecil mayoritas rakyat Turki pada referendum 2017. Undang-undang baru tersebut dikritik oleh sejumlah pihak, terutama negara-negara Barat sebagai aturan yang akan berdampak negatif pada demokrasi di Turki.
BACA JUGA: Erdogan Umumkan Pemilihan Presiden dan Parlemen Turki Digelar pada 24 Juni
Erdogan yang merupakan salah satu pemimpin paling berpengaruh di Turki dalam beberapa tahun terakhir dalam pemilihan umum ini akan menghadapi calon presiden dari Partai Rakyat Republikan (CPR) yang beraliran sekuler, Muharrem Ince. Penampilan Ince selama kampanyenya dipandang telah berhasil menumbuhkan harapan dan menyatukan kubu oposisi yang selama ini terpecah dan melemah.
Kandidat Presiden Turki, Muharrem Ince. (Foto: Reuters)
Dalam kampanyenya yang dihadiri sedikitnya satu juta orang di Istanbul pada Sabtu, Ince berjanji untuk mengubah apa yang dia dan partai oposisi lihat sebagai pergeseran ke arah pemerintahan otoriter di bawah kekuasaan Erdogan.
"Jika Erdogan menang, ponsel Anda akan terus didengarkan ... Ketakutan akan terus berkuasa ... Jika Ince menang, pengadilan akan independen," ujarnya sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (24/5/2018).
Pemunguntan suara akan dimulai pada Minggu dimulai pukul 8 pagi waktu setempat dan berakhir pada pukul 5 sore. Hampir 60 juta warga Turki memenuhi syarat untuk memilih, dari total populasi 81 juta.
BACA JUGA: Tak Terima Dipanggil 'Diktator', Erdogan Ambil Langkah Hukum terhadap Politikus Turki
Jajak pendapat menunjukkan Erdogan akan gagal mengunci kemenangannya dalam satu putaran. Namun, dia diperkirakan akan tetap memenangi putaran kedua pada yang rencananya digelar pada 8 Juli. Partai AKP yang berkuasa diprediksi akan kehilangan posisi mayoritasnya di parlemen yang mungkin akan meningkatkan ketegangan antara presiden dengan parlemen pada pemerintahan mendatang.
Selain Ince dan Erdogan, kandidat lain yang maju dalam pemilihan presiden kali ini di antaranya adalah pimpinan Partai Demokrasi Kurdi (HDP), Selahattin Demirtas yang kini berada di dalam penjara. Jika HDP melebihi ambang batas 10 persen suara yang diperlukan untuk memasuki parlemen, akan lebih sulit bagi AKP untuk mendapatkan suara mayoritas.
(Rahman Asmardika)