Minum-Minum di Tengah Hujan Peluru dan Dentuman Bom di Suriah

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 08 September 2018 11:23 WIB
Somar Hazim (Foto: BBC)
Share :

SURIAH - Ketika perang saudara pecah di Suriah pada tahun 2011, pariwisata langsung ambruk, tentu saja. Jutaan warga Suriah kemudian melarikan diri dari negara mereka, menyelamatkan diri. Namun seorang warga bernama Somar Hazim memutuskan untuk tetap tinggal meskipun usaha bisnisnya musnah. Ia terpaksa menutup hotel butik miliknya di Damaskus.

Siapa nyana, tiga tahun lalu ia bisa mendirikan sebuah perusahaan baru dan membuka salah satu bar pertama di kawasan kota tua Damaskus yang dikuasai oleh pemerintah Suriah tersebut. Somar mengatakan kehidupan malam di ibukota mulai berkembang, meskipun Damaskus berada di peringkat kota yang paling tidak layak untuk dihuni di dunia menurut survey awal Agustus.

Dia bercerita jika terpaksa menutup hotelnya di damaskus tahun 2013 akibat perang, namun ia tak mau meninggalkan negerinya, dan kini mulai membuka sebuah bar. Somar mengakui bahwa ketika ia membuka bar pertamanya pada tahun 2015 -saat perang saudara Suriah memasuki empat tahun- merupakan masa yang sangat berat untuk memulai suatu usaha.

"Semua orang datang untuk melihat tempat kami ini, untuk melihat siapa orang-orang yang membuka tempat ini di tengah perang," katanya.

 Banyak sahabat Somar yang menyebut bahwa dia sudah gila karena menanamkan uang untuk membuka bar di saat genting-gentingnya peperangan. Dia mengakui bahwa hal itu mrupakan pertaruhan - tetapi pada akhirnya semua itu trnyata membuahkan hasil.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya