Berbahasa Inggris dan Baca Alquran saat Debat, Ini 6 Hal yang Perlu Diketahui

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 14 September 2018 21:04 WIB
Prabowo dan Jokowi kembali bertarung di Pilpres. (Getty Images)
Share :

Kubu Prabowo-Sandi menginginkan debat capres-cawapres dalam bahasa Inggris, sementara kubu Jokowi-Ma'ruf Amin, menantang balik agar masing-masing capres dan cawapres, membaca Alquran.

Bisakah kedua permintaan kedua kubu itu diakomodir dan diloloskan?

Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui seputar usulan debat dalam bahasa Inggris dan kemampuan membaca Alquran:

1. Debat Berbahasa Inggris dan Kemampuan Membaca Alquran: Langkah Tepat?

Pada debat Pilpres 2014, format debat antara capres-cawapres merupakan hasil kesepakatan KPU, stasiun televisi yang menyiarkan, dan masing-masing tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Dalam tahap ini, ada kemungkinan permintaan kedua kubu diakomodir pada debat pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini kepada BBC News Indonesia, Jumat (14/09), mengatakan debat merupakan bagian dari pendidikan politik untuk masyarakat dan medium bagi calon presiden dan wakil presiden menyampaikan visi, misi, dan citra diri.

"Penggunaan bahasa Inggris dalam debat tidak tepat, karena bukan bahasa resmi," kata Titi.

Menurutnya, tujuan debat antara calon presiden dan wakil presiden diatur dalam metoda kampanye seperti tertuang di Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Bahasa Inggris bukanlah bahasa resmi, seperti tertuang dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara.

Undang-undang itu juga jadi pedoman bagi KPU dalam mengadakan debat calon presiden dan wakil presiden.

Bagaimana dengan pembacaan Alquran dalam debat?

"Ada 187 juta pemilih di Indonesia, tidak semuanya Muslim, presiden dan wakilnya adalah untuk seluruh pemeluk agama di Indonesia, bukan satu agama saja," tegas Titi Anggraini dari Perludem.

2. Motivasi Politik di Balik Usulan Debat Berbahasa Inggris dan Pembacaan Alquran

Pembacaan Alquran dan penggunaan bahasa Inggris dalam debat calon presiden dan wakil presiden, bagi Perludem, tidak efektif jika dilihat dari tujuan debatnya.

"Isu ini sengaja dibangun untuk melihat titik lemah antar calon presiden dan wakil presiden," kata Titi Anggraini.

"Belum lagi pemilih Indonesia saat ini terpolarisasi, celah yang tidak relevan pun jadi bahan diskusi," tambahnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya