JAKARTA - "Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia,"
Tepat hari ini, 90 tahun yang lalu para pemuda/pemudi dari seluruh pelosok Indonesia mengikrarkan tiga sumpah diatas untuk menyerukan persatuan dan kesatuan guna merebut kemerdekaan NKRI. Peristiwa itu dikenal dengan peringatan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 silam.
(Baca Juga: Kaum Milenial Diajak Selalu Memperkuat Sumpah Pemuda)
Refleksi 90 tahun dari salah satu peristiwa tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia itu, pemuda yang kini sebagai generasi penerus dan pelurus bangsa diharapkan sebagai pelopor yang mempertahankan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Anak muda dewasa ini harus menjadi garda terdepan apabila ada pihak yang berusaha memecah belah kesatuan NKRI.
"Para pemuda harus berani menjadi pelopor persatuan. Jangan karena beda partai kemudian bertengkar. Jangan karena beda pilihan Capres lalu tidak bisa rukun. Jangan karena beda suku, agama, ras, asal daerah lalu bikin berantem," kata Wasekjen Partai Hanura Tri Dianto saat berbincang dengan Okezone, Jakarta, Jumat 26 Oktober 2018 lalu.
Semangat pemuda 90 tahun silam harus bisa diteruskan hingga anak cucu. Kesadaran untuk bersatu sesama anak bangsa harus jauh lebih kuat dibandingkan para tokoh bangsa kala itu.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi pegangan pemuda millenial saat ini. Karena ditangan anak muda nasib bangsa Indonesia mau dibawa ke arah mana.
"Indonesia sudah makin modern dan rakyatnya juga sudah banyak menikmati hasil kemerdekaan, walaupun ada yang masih miskin dan tertinggal. Karena itulah harus terus dan makin bersatu," tutur Tri.
Sumpah Pemuda adalah bagaimana bersatu melawan dan menyusun strategi untuk melawan para penjajah kala itu di Indonesia. Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini adalah bagaimana merajut persatuan di seluruh Indonesia untuk lebih mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
"Indonesia itu bangsa yang majemuk, tetapi bersatu dalam semangat Pancasila. Para pemuda yang harus bisa menunjukkan persatuan dalam perbedaan itu. Jangan jadi pemuda yang suka bertengkar hanya karena beda bendera. Itu katrok dan bodoh," ucap Tri.
Selain persatuan, pemuda zaman now juga harus menjadi pelopor kemandirian perekonomian Bangsa Indonesia. Para pemuda yang jumlahnya besar adalah potensi kemandirian bangsa, karena bisa menjadi kekuatan ekonomi yang produktif.
"Para pemuda jangan berpikir mencari pekerjaan. Jangan hanya berpikir menjadi pegawai negeri dan karyawan. Jangan bergantung kepada pemerintah dan perusahaan swasta yang besar-besar. Para pemuda harus berani merintis usaha sendiri. Menjadi boss bagi dirinya sendiri, dan kalau berkembang bisa menyediakan lapangan kerja bagi orang lain," papar Tri.
Apabila 20 persen pemuda Indonesia mampu berdiri sendiri dalam perekonomian Indonesia, maka ,bangsa ini akan semakin maju, makmur dan sejahtera. Angka pengangguran akan makin sedikit dan kemiskinan juga akan berkurang.
"Kalau yang miskin dan tidak bekerja makin sedikit berarti rakyat makin menikmati hasil kemerdekaan dan pembangunan," kata Tri.
Selain itu, generasi zaman now harus memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi. Sebagai pihak generasi penerus dan pelurus bangsa, rasa saling membantu sesama rakyat Indonesia harus terus diasah.
"Para pemuda tidak boleh egois. Hanya berpikir kepentingan dirinya sendiri atau keluarganya sendiri. Hanya berpikir yang penting dirinya sukses. Itu tidak baik bagi Indonesia, juga tidak baik bagi dirinya sendiri. Karena peduli dan membantu sesama itu pada dasarnya sama dengan membantu dirinya sendiri. Itulah yang bisa membuat hidup rukun dan bahagia," jelas Tri.
(Arief Setyadi )