Geliat Pasar Malam di Pinggiran Kota

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis
Sabtu 17 November 2018 11:02 WIB
Pasar malam di Ciluar, Bogor Utara, Bogor, Jawa Barat (Putra RA/Okezone)
Share :

TAK ada Dunia Fantasi, pasar malam pun jadi. Ya, begitulah ungkapan warga di pinggiran kota besar yang mencari hiburan murah meriah. Pasar malam jadi ajang mereka menikmati segala keseruan; permainan, keramaian hingga aneka dagangan tersedia.

Pasar menawarkan kemeriahan dengan berbagai macam permainan mulai dari bianglala, kora-kora dan kereta-keretaan yang berhias lampu warna-warni. Tak kalah dibandingkan wahana semacam di Dunia Fantasi.

Seperti terlihat saat pasar malam digelar di sebuah tanah lapang di Keluarhan Ciluar, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, awal pekan ini. Aneka permainan dan jajanan yang ada di sana diserbu warga yang datang dari berbagai desa.

Antusiasme warga yang tinggi membuat pasar malam terus ekses. Penyedia fasilitas memanfaatkan ini untuk bisnis. Mereka bergerak dari satu kawasan ke kawasan lain menghadirkan pasar malam untuk masyarakat.

 

Pasar malam di Ciluar, Bogor Utara (Putra/Okezone)

Purwanto (57) misalnya. Pria asal Jawa Tengah ini rela menghabiskan ratusan juta rupiah untuk bisa membuat hiburan pasar malam.

"Saya sudah usaha ini dari tahun 1994. Untuk membuat pasar malam dengan 7 wahana seperti ini bisa habis sekitar Rp 400 jutaan," kata Purwanto saat ditemui Okezone di Keluarhan Ciluar, Bogor Utara, Selasa 14 November 2018.

Berbagai wahana yang dimilikinya itu tidak serta merta dibuat sendiri, melainkan dibeli dari produsen di berbagai daerah. Purwanto hanya mengelolanya dengan cara berpindah-pindah tempat di Jawa Barat.

Ia mengincar kampung-kampung yang dinilai ramai dan mampu menarik perhatian warganya. Dia menawarkan tiket masuk menikmati wahana itu Rp5 ribu-10 ribu.

Purwanto dapat meraup keuntungan hingga Rp60 juta hanya dalam satu malam, jika pengunjungnya ramai. "Itu pernah sekali, pas momen Lebaran. Tapi pernah juga tidak ada yang datang sama sekali, biasanya musim hujan seperti sekarang," ungkapnya.

 

Tak jarang, sepinya pengunjung membuat dirinya terpaksa menanggung rugi untuk membayar 10 pegawainya dan perawatan wahana yang mencapai jutaan rupiah. Ia pun menyiasatinya dengan mencari pemodal untuk menutupi kerugiannya itu.

"Jadi nanti sistemnya bagi hasil. Ya ibaratnya hutang lah," cetusnya.

Bayar Sewa

Sebelum menggelar pasar malam, Purwanto biasanya mengajukan izin keramaian dulu ke kepolisian, pihak lingkungan setempat dan warga. Kemudian membayar sewa lahan selama pertunjukan.

Purwanto menyebut untuk menyewa lahan ke pemilik dirinya merogoh kocek Rp 1 juta- 3 juta per bulan. Sementara, perizinan menghabiskan sekitar Rp3 juta.

"Ya cukup mudahlah lah, yang penting izin ke lingkungan sama Muspika setempat. Nanti kita ajukannya izin keramaian," terang Purwanto.

Keamanan

Adanya berbagai wanaha permaianan di pasar malam menjadi tanggung jawab berat bagi Purwanto untuk menjamin keamanan dan keselematan pengunjung yang mayoritas anak-anak selama bermain.

 

Purwanto mengaku tidak ada asuransi yang mengikat terkait hal tersebut. Tetapi, jika sewaktu-waktu terjadi insiden yang memakan korban saat menaiki wahana Purwanto siap bertanggungjawab semampunya.

"Tidak ada asuransi ya, paling tanggungjawab pribadi aja. Kalau memang ada insiden atau kecelakaan apapun akan saya lakukan untuk tanggungjawab. Tapi, selama saya usaha ini tidak pernah ada insiden, karena faktor keselamatan saya utamakan," tegasnya.

Purwanto mencontohkan, setiap wahana di pasar malamnya ada pegawai yang berjaga. Selain itu, pengoprasian wahana tersebut disesuaikan dengan usia dan jumlah pengunjung yang menaikinya.

"Semua usia bebas naik, tapi misalkan kalau anak-anak kecil naik kora-kora ya ketinggian dan durasi kita sesuaikan. Semua sudah kita atur, ya memang tidak ada patokannya kita hanya menyesuaikan dan sudah diperhitungkan agar aman," papar Purwanto.

Purwanto menambahkan, inisiden wahana bianglala yang terbalik di pasar malam Yogyakarta, tidak mengurangi minat pengunjung menaiki hiburan tersebut. Menurutnya, itu merupakan kecelakaan yang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

"Tidak ada pengaruh sih, ini buktinya masih ada yang naik. Itu cuma kecelakaan saja, tidak hanya di pasar malam di tempat hiburan mahal juga bisa terjadi. Yang penting kita sudah antisipasi," tambahnya.

Aturan Khusus

Menanggapi keberadaan pasar malam, Kepala Bidang (Kabid) Dalops Satpol PP Kota Bogor Dimas Tiko mengaku belum ada peraturan daerah (perda) khusus yang mengaturnya. Dirinya hanya mengacu para Perda Nomor 8 Kota Bogor terkait ketertiban umum.

 

"Saya belum pernah menangani secara khusus pasar malam. Tapi selama itu tidak mengganggu dan memang disetujui oleh lingkungan setempat menurut saya tidak ada masalah. Tapi nanti kami akan pelajari lagi dengan instansi terkait lain," kata Dimas.

Dimas meyakini, berbagai pihak yang mengeluarkan izin pasar malam juga telah mempertimbangkannya secara matang. Terlebih, keberadaan pasar malam juga berdampak positif untuk hiburan dan ekonomi.

"Saya yakin, teman-teman kepolisian, kelurahan dan lain-lain sudah mempertimbangkan hal itu," tuturnya.

Tidak Masuk PAD

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor Shahlam Rasyidi tidak dapat berkomentar banyak terkait keberadaan pasar malam.

 

Ia hanya menegaskan bahwa keberadaan mereka bukan termasuk bagian dari pariwisata melainkan hiburan rakyat setempat karena tidak masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bogor.

"Saya juga tidak tahu mekanismenya seperti apa. Yang jelas itu bukan bagian dari pariwisata karena kan kunjungan wisatawan tidak ke situ, janya warga setempat saja. Juga tidak ada PAD yang masuk dari keberadaan pasar malam," singkat Shahlan.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya