Menikmati Gemerlap Pasar Malam di Ibu Kota

Muhamad Rizky, Jurnalis
Sabtu 17 November 2018 09:01 WIB
Suasana Pasar Malam di Banjir Kanal Timur (Foto: Rizki/Okezone)
Share :

DENTUMAN suara musik dangdut terdengar keras dari dari arah tanah lapang di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Timur. Lampu warna warni terpasang menghiasi kawasan itu, tak jarang sejumlah warga pun terlihat menuju lokasi itu.

Padahal hujan baru saja mengguyur namun tak jarang diantara mereka tetap mau menikmati hiburan yang disuguhkan di pasar malam yang berada persis disamping BKT.

Ya, keberadaan pasar malam memang saat ini sedikit susah-susah gampang untuk di cari khususnya di ibukota Jakarta. Tempat hiburan yang pernah menjadi primadona warga pada tahun 1920-an itu perlahan mulai ditinggalkan seiring kemajuan zaman.

Walaupun sudah mulai ditinggalkan, peran pasar malam sangatlah penting. Wahana hiburan yang murah meriah itu menjadi magnet tersendiri bagi warga menengah kebawah, khususnya yang tinggal di Jakarta. Harganya yang relatif murah sangat membantu warga untuk sekadar meluangkan waktu bersama keluarga.

Ada berbagai macam wahana permainan yang tersedia di pasar malam BKT ini. Mulai dari 'komedi ombak' atau yang biasa dikenal dengan bianglala di Dunia Fantasi (Dufan Ancol), hingga komedi putar ada dilamnya. Harganya pun relatif murah dari Rp5 ribu hingga Rp 15 ribu sudah bisa menikmati aneka permainan.

Salah seorang pengelola pasar malam di BKT, Aji Mujiono (74) menceritakan pasar malam yang di kelolanya ini berbeda dengan yang lain, yang setiap waktu pindah lokasi melainkan tetap atau mangkal. Jam bukanya pun setiap hari namun hal itu tergantung dengan kondisi cuaca.

"Disini ramenya Sabtu malam Minggu dan Minggu malam Senin asal enggak ujan," tuturnya saat ditemui Okezone beberapa waktu lalu.

Di era milenial saat ini, kondisi pasar malam kerap di pandang sebelah mata. Tak banyak anak muda yang tertarik untuk bertandang ke tempat itu. Kehadiran mal bertingkat dan tempat hiburan lain yang menyuguhkan kenyamanan dan kemewahan, menjadikan posisi pasar malam semakin terpinggirkan. Terlebih pasar malam kerap identik dengan 'anak-anak kampung' dan kumuh.

Bagi Aji hal itu tidak berlaku di pasar malamnya. Tak ada sampah berserakan ataupun jalan yang becek. Ia sangat menjaga hal itu, bahkan seluruh lokasinya pun dipasang karpet sehingga terlihat rapi dan nyaman bagi pengunjung yang datang.

"Kebersihan disini terjamin, situ enggak pake sepatu aja aman enggak becek, disini yang nonton dari mana-mana karena disini rapi bersih ada karpet jadi orang seneng betah karena kebersihan," cerita Aji.

Untuk memastikan keamanan di tempatnya, sebulan sekali Aji meminta kepada pemilik wahana permainan untuk memeriksa setiap alat yang dioperasikan untuk pengunjung, hal itu untuk memastikan keamanan. Baginya kenyamanan dan ketertiban menjadi nomor satu.

Dirinya menceritakan terdapat 12 wahana yang berdiri di lokasi kurang dari setengah lapangan sepak bola itu. Masing-masing tempat permainan merupakan milik perseorangan. Total ada 5 pemilik dari 12 wahana yang ada dilokasinya itu. Namun demikian dirinya tak memungkiri bahwa hal itu dikembalikam kepada para pemilik permainan untuk melakukan perawatan peralatan.

"Perawatannya ya yang punya. Ini di pantau sendiri sama yang punya saya urus izin sewa lahan bayar asal jangan telat itu aja. Tapi saya pantau terus ini jangan sampai ada baut yang patah atau apa enggak boleh, bahkan kabel aja setiap satu bulan pemeriksaan takut ada yang kebakar apa sehingga jadi saya betah disini pengamannya terjamin," paparnya.

Aji mengungkapkan, posisi pasar malam baginya bukan hanya sebagai ladang mencari nafkah, namun hal itu juga memberikan hiburan bagi warga 'pinggiran' ibukota. Pasar malam menjadi satu-satunya yang tersisa disisi lain disaat tempat permainan anak yang semakin berkurang.

"Jadi buka semata-mata bisnis, tempat bermain sudah enggak ada, karena lahan semakin sempit," terangnya.

Namun begitu, kondisi cuaca yang belakangan tak menentu juga mengkhawatirkan. Pasar malam erat dengan kondisi cuaca, hujan yang turun bisa membuat tempatnya sepi pengunjung. Akibatnya dirinya sebagai pengelola dan karyawan harus gigit jari membayar tagihan sewa yang tak kenal waktu dan cuaca.

"Jadi itu kadang sedihnya, jiak cuaca tidak menentu penghasilan juga tidak tentu," terangnya.

Kisah Seorang Penjaga Komidi Ombak 

Kondisi cuaca itu tak hanya memengaruhi penghasilan Aji, Sugito (20) salah seorang mandor bianglala atau komidi ombak itu juga merasakan hal serupa. Meski setiap hari mendapat uang makan dari sang pemilik merasakan pahitnya bekerja di pasar malam.

Dalam seminggu dirinya bersama dengan beberapa karyawan lainnya harus menerima upah sebesar 25 persen dari penghasilan selama seminggu. 25 persen tersebut nantinya dibagi dengan seluruh karyawan yang bekerja.

Ia menceritakan, sebelum menjadi mandor atau operator bianglala pria asal Jawa Tengah itu pernah menjadi karyawan pasar malam keliling. Sugito rela terlantar karena sepi pengunjung. Namun bersama dengan temannya yang sudah dirasa sebagai keluarga hal itu dihadapi dengan keyakinan hal itu pasti berlalu.

"Dulu saya ikut kelilingan kaga dapet duit terlantar setiap musim hujan udah (sepi)," kenangnya.

Untuk itu, dirinya pun kerap prihatin setiap melihat rekannya yang ikut pasar malam keliling ditengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Sebab Ia merasakan betul bagaimana hal itu sangat memengaruhi penghasilan. Namun dirinya sangat bersyukur sekarang berada di pasar malam yang mangkal dan dibuka setiap hari sehingga hal itu masih lebih baik dibanding mereka yang keliling.

Disisi lain katanya, pasar malam yang kerap berpindah lokasi lebih beresiko. Ia mengakui bahwa kemungkinan untuk mengontrol keamanan permainan agak kurang. Seperti mengencangkan baut dan lainnya sehingga hal itu bisa membahayakan pengunjung. Namun demikian, Ia juga tak memungkiri hal itu bisa terjadi oada pasar malam yang mangkal, untuk itu dirinya memastikan untuk menjaga kualitas bianglala agar tetap aman bagi pengunjung.

Setiap hari Sugito bersama empat orang rekannya rela tidur di dalam kotak berukuran 3x1 meter sementara yang lain tidur seadanya di dalam wahana. Setiap mau membuka permainan dirinya selalu memastikan agar setiap baut terpasang dengan baik. Bahkan setiap akhir pekan pengecekan sedikit ditambah untuk memastikan keamanan.

"Kalau diliat itu paling baut. Kalo kincir gini yang harus di cek baut kalo enggak dicek enggak dikasih solar bahaya patah dia. Seminggu sekali kita kasih solar setiap mau malam Minggu biar enggak karat kalo enggak dia kering nanti pasti bunyi, itu bahaya," ceritanya.

Salah seorang pengunjung Fadlu (25) tak khawatir untuk menaiki setiap wahana yang ada di pasar malam BKT. Fadli mengaku sering beersama sanak saudara untuk menikmati hiburan di pasar malam. Harganya yang terjangkau menjadi pilihannya untuk memanjakan adik-adiknya itu.

"Dibanding ke Dufan kan mahal kalau disini kan murah saya biasa sama adik saudara kesini," tuturnya.

Menurutnya, wahana di pasar malam tak kalah seru dibanding di Dufan, Ancol. Aneka makanan dan minuman yang dijual murah meriah, permainan yang beragam menjadi satu hal yang menarik dan tak bisa disamakan dengan Dufan. Meski merasa sedikit khawatir dengan beberapa kejadian yang sering terjadi di pasar malam, Ia tidak terlalu khawatir. Sebab hal itu bisa diantisipasi dengan melakukan pengawasan yang lebih baik.

"Khawatir ada tapi kita hati-hati, kalo ajak adek juga saya pantau betul-betul," terangnya.

Hal senada juga dikatakan, Lidya. Bersama sang suami dan anak semata wayangnya bermain disalah satu permainan yakni mobil-mobilan. Dengan merogoh kocek Rp15 ribu sang anak sudah dimanjakan dengan menaiki sebuah mobil yang bisa dikendarai langsung oleh putranya.

"Enak mas seru kan murah juga, jadi ya enggak berat," tukasnya.

Pasar Malam yang Harus Dipertahankan

Sejarawan Mona Lohanda menilai keberadaan pasar malam yang kian terkikis harus dipertahankan. Menurutnya pasar malam menjadi pengingat dan untuk mengenalkan kepada anak-anak Indonesia akan permainan yang pernah dimiliki. Meski sudah sedikit bergeser keberadaan pasar malam sangat penting untuk dijaga dan dikembangkan.

"Pasar malam model dulu ada permainan rakyat seperti mancing pake ikan kayu atau lempar gelang entar dikasih gulali lebih permainan rakyat dan hiburan kalau sekarang pasar malem di kampung itu banyak yang tidak tertarik," terangnya.

Saat dirinya masih kecil Mona menceritakan dirinya kerap datang ke pasar malam bersama 'babe' sebutan untuk orang tuanya. Ia mengatakan pasar malam dulu sangat menghibur, keberadannya kerap ditunggu oleh warga setempat.

"Dulu pasar malem itu ada musimnya sama aja tanjidor hampir sama kaya sekarang kalau pasar malam dulu engga ada jualan baju dulu ada rumah hantu, orang makan ayam mentah terus mancing itu tahun 1955 aku udah sekolah dulu ada dagangan tapi enggak kaya sekarang orang kaki lima gulali, baju engga umum dulu kaki lima itu dulu makanan dan hiburan kalo baju enggak," tambahnya.

Untuk itu, penting hal itu mengembalikan kebiasaan traditional kita yang tidak terpengaruh pada hal meterialistis. Anak sekarang kata Mona, harus dikembalikan ke tradisional. 

"Mana ada yang main gasing saya dulu main bekel sekarang mana ada yang mau main dulu saya main congklak, grobak sodor main taplak gunung itu udah enggak ada, terus cublak cublak suang malah di upin ipin mereka masih maen itu," terangnya.

Ia menambahkan, tingginya kemajuan zaman sehingga membuat anak muda terutama anak anak terkontaminasi dengan pengaruh barat. Sehingga hal itu mamou menggeser kebiasaan anak-anak yang sebelumnya mimiliki permainan yang unik di Indonesia.

"Kita sok kebarat-baratan harusnya dikembalikan ke tradisional main gasing, gundu sekarang enggak ada," tuturnya.

Namun begitu, keberadaan pasar malam meski sedikit bergeser tetap sama seperti dulu. Hal itu kembali mengenang masa-masa dirinya saat masih kecil.

"Kalau dulu komedi ombaknya nyamping dijaga sama penjaganya engga ngeri kaya sekarang dia muternya bergelombang kaya ombak beda sama sekarang itu ngeri keatas," terangnya.

"Dia terpengaruh gaya eropa kalo kita muter aja nyamping. Saya dulu naiknya yang muternya ke samping jadi kita enggak duduk di atas bangkunya di bawah di gantung," tukasnya.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya