Mengupas Sejarah Masjid Agung Al-Barkah sebagai Ikon Kota Bekasi

Wijayakusuma, Jurnalis
Sabtu 08 Desember 2018 13:28 WIB
Masjid Al-Barkah jadi Ikon Kota Bekasi (Foto: Wijayakusuma/Okezone)
Share :

Seiring berakhirnya pemugaran serta berdasarkan surat keputusan Wali Kota tahun 2005, Masjid Agung Al-Barkah kemudian diputuskan menjadi masjid pemerintah. Agar terkelola dengan baik dan terarah, maka dibuatlah struktur kepengurusan masjid di tahun 2008.

"Katakanlah pembangunannya sudah bagus, kemudian dibentuklah struktur kepengurusannya agar terkelola dengan baik. SK kepengurusan DKM dikeluarkan oleh Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi. Dan sampai sekarang saya terpilih sebagai ketuanya," akunya.

Hadie mengaku, pengelolaan manajemen masjid oleh pihaknya dilakukan dengan sangat profesional. Mulai dari laporan keuangan yang bisa dipertanggungjawabkan, hingga mendatangkan konsultan audit.

"Alhamdullilah kita kelola dengan manejemen profesional. Misalnya, tentang laporan keuangannya itu kita datangkan konsultan audit, yang sampai sekarang menggunakan manejemen audit profesional, itu salah satunya," paparnya.

"Kita juga datangkan para imam masjid yang membaca Alquran surat-surat pendek. Dan sampai sekarang ini imamnya ada 5 orang. Inilah salah satu faktor yang menyedot banyaknya jamaah Masjid Agung Al-Barkah, terkenalnya pada saat tarawih itu satu malam satu jus," ungkapnya.

Tak hanya itu, di halaman masjid juga terdapat pohon kurma yang cukup populer dan menjadi daya tarik di kalangan masyarakat, lantaran selalu berbuah di bulan Ramadhan. Sedikitnya ada 13 pohon kurma yang saat ini tumbuh subur di halaman masjid, bersamaan dengan beragam tanaman lain.

"Pohon kurma ini sudah ada sejak 2005. Dari 13 pohon, hanya empat saja yang berbuah. Baru diketahui ada tiga pohon yang berjenis jantan dan empat pohon kurma jenis betina," paparnya.

Meski awalnya awam dengan cara perawatan pohon kurma yang benar, lama kelamaan Hadie pun semakin paham. Ia mengaku, rasa kurma yang dihasilkan berbeda dengan yang biasa dijual di pasaran. Karena itu, banyak jamaah masjid yang kerap menanti-nantikan panen buah kurma yang berlangsung setahun sekali itu.

"Rasanya manis, cuma kalau lebih keriput, lebih tambah enak lagi. Kalau panen kita selalu bagi-bagikan ke jamaah masjid yang datang," tandasnya.

Sementara itu, Budayawan Bekasi, Komarudin Ibnu Mikam mengatakan, selama ini pemerintah daerah kurang berperan dalam pemberitaan sejarah Masjid Agung Al-Barkah kepada masyarakat luas. Pemerintah dinilai hanya fokus kepada fisik bangunan, sehingga minim sosialisasi terkait sejarah masjid yang penuh nilai-nilai perjuangan.

"Ini juga menjadi auto-kritik, bahwa sosialisasi dengan sejarah masjid itu yang penting. Sosialisasi sejarah masjid itu harus dilakukan dalam perspektif untuk membangun kesadaran sejarah, membangun kesadaran kebudayaan, sehingga masyarakat punya pengetahuan tentang masa lalu Bekasi," tegasnya.

Menurutnya, apa yang telah dikorbankan para pejuang kemerdekaan, harus terus digaungkan kepada rakyat. Karena sejatinya, keberadaan masyarakat saat ini khususnya Kota Bekasi, tak lepas dari sejarah yang ditorehkan para pejuang di masa lalu.

"Kemudian perjuangan KH Noer Alie semasa revolusi fisik hingga beliau diangkat menjadi pahlawan nasional, ini juga menjadi pikiran bahwa pengelolaan masjid selama ini agak berkurang atau minim dalam konteks sosialisasi tentang sejarah masjid," pungkasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya