JAKARTA - Psikolog asal Universitas Indonesia (UI) Mira Amir turut berkomentar terkait adanya seorang artis FTV berinisial VA yang diduga kuat adalah Vanessa Angel diamankan oleh jajaran Polda Jawa Timur (Jatim), pada Sabtu, 5 Januari 2019, kemarin.
Vanessa diamankan jajaran Polda Jatim karena diduga terlibat prostitusi online. Berdasarkan informasi dari Polda Jatim, untuk sekali kencan dengan Vanessa, seseorang harus mengeluarkan uang Rp80 juta.
Mirisnya, ada seorang pengusaha yang rela mengeluarkan uang Rp80 juta untuk sekali kencan dengan Vannesa. Pengusaha tersebut sempat diamankan namun dilepas kembali setelah dimintai keterangan oleh polisi.
Baca Juga: Selain Vanessa Angel, Ini Deretan Artis yang Pernah Terlibat Prostitusi Online
Menurut Mira, adanya fenomena artis terlibat bisnis 'esek-esek' via online tidak terlepas dari gaya kehidupan sebagai bintang sinetron. Harga Rp80 juta yang ditarifkan untuk sekali kencan dengan Vanessa bukanlah harga yang relatif mahal untuk para artis yang notabennya high class.
Sebab, sepengetahuan Mira, biaya hidup seorang artis yang notabennya high class juga cukup mahal. Misalnya, untuk melakukan perawatan kukunya, ada beberapa artis yang harus mengeluarkan uang sebesar Rp1 juta.
"Beberapa orang dalam kasus tersebut merasa bahwa dia harus tampil dengan harga tertentu,kalau dari kacamata awam juga ya, waduh banyak banget ya, harga segitu (Rp80 juta) cuma bisa buat gitu doang, padahal dengan uang segitu sudah bisa beli rumah," papar Mira saat berbincang dengan Okezone, Minggu (6/1/2019).
"Tapi kita kan enggak tahu, bagi si para artis tersebut, enggak bisa nih (harga kecil), 'Gue gunting kuku saja, enggak cukup sejuta' padahal mah gunting kuku mah gunting saja, beli gunting kuku 5 ribuan," sambungnya.
Mira menjelaskan gaya hidup beberapa artis menjadi sumber tingginya harga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya, dalam kasus Vanessa Angel, seorang artis harus mencari jalan pintas untuk menutupi kebutuhan hidupnya yang dapat dikatakan mahal.
"Nah, itulah akhirnya untuk memenuhi hal tersebut dicarilah jalan pintas dan ternyata ada supply karena ada demand. Kalau sudah kaya gitu bukan hanya psikologi apa namanya, Ilmu ekonomi juga berbicara," terang Mira.