JAKARTA - Praktik prostitusi dewasa ini telah bermigrasi dari prostitusi jalanan ke berbasis online sejak lima tahun terakhir. Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati lantas memaparkan sejumlah faktor yang melatari prostitusi jalanan bertransformasi menjadi prostitusi daring.
“Karena online ini menyediakan kemudahan-kemudahan, salah satunya adalah identitas yang tersamarkan,” ujar Devie kepada Okezone, Selasa (8/1/2019).
Jika dulu orang berada di jalanan takut dengan stigma, namun sekarang lanjut Devie, dengan semua serba online, mereka lagi takut dengan stigma di masyarakat. "Sedangkan kedua, Anda betul-betul bisa mengelola diri Anda tanpa perlu bantuan marketing atau mucikari," katanya.
Menurutnya, para pelaku prostitusi mempunyai latar belakang pekerjaan dan usia yang beragam. Dengan begitu, seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap pun bisa saja menjadi bagian dari prostitusi online, bilamana ia memiliki kebutuhan yang urgent dipenuhi.
"Karena berdasarkan data studi di global khususnya di barat, sekarang orang yang praktik ekonomi bawah tanah, pekerja seks komersial sangat beragam latar belakang usia dan pekerjaannya," papar Devie.
"Karena banyak sekali orang part-timer dari PSK, artinya dia punya pekerjaan lain tapi ketika dia membutuhkan dana atau apa, kemudian dia menjajakan diri secara mandiri seperti tadi, mendapatkan uang dan kemudian dia kembali ke profesinya," tambahnya lagi.
Oleh karenanya, Devie menyimpulkan jika praktik prostitusi online tidak bisa dilekatkan pada satu profesi semata, seperti artis misalnya, yang sedang ramai disorot publik.
"Berdasarkan studi ilmiahnya, ini tidak hanya melekat kepada satu atau dua profesi, semua profesi bisa melakukan hal itu. Jadi artinya, tidak boleh dilekatkan kepada satu profesi, isu yang lebih besar sekarang bisa melakukan itu. Dan ini yang menjadi problem, karena akan merusak tatanan kita,“ ucap Devie memungkasi.
(Rizka Diputra)