"Meski data KPU menunjukkan bahwa secara umum tingkat partisipasi publik dalam pemilu beberapa tahun terakhir berada dalam tataran baik, 70%. Namun, kemunculan hoaks, berita bohong, dan ujaran kebencian penting untuk diantisipasi," ujarnya.
Oleh sebab itu, KSP menuturkan, antisipasi kabar hoaks penting untuk masyarakat agar tidak terjebak dalam berita-berita politik yang tidak benar dan berpotensi menjatuhkan kandidat-kandidat peserta Pemilu baik legislatif maupun eksekutif.
Baca juga: Bawaslu Putuskan Pose 1 Jari Walkot Bima Arya Bukan Kampanye Jokowi-Ma'ruf
"Pada saat masyarakat dihadapkan pada perkembangan teknologi yang sangat masif, penyebaran hoaks menjadi bukan hanya hambatan dalam berdemokrasi melainkan juga tantangan dalam peningkatan literasi digital masyarakat kita," tutup Jaleswari.
(Fakhri Rezy)