TAK dipungkiri, di era modern saat ini gadget sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia. Kini, sasaran pasar dari gawai itu sudah tak lagi menyasar kalangan remaja dan orangtua, namun sudah merambah ke kelompok anak-anak usia dini.
Psikolog Anak, Ida Saidah menyayangkan sikap orangtua di zaman millenial yang begitu mudah membekali gadget berteknologi canggih kepada anaknya yang belum cukup umur. Padahal, saat itu merupakan fase tumbuh kembangnya otak seseorang.
"Jika masa perkembangan ini lebih dominan distimulasi oleh gadget yang bisa memberikan efek radiasi, bisa merusak (fungsi) otak bagian depan dan hilangkan kefokusan anak," kata Ida saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Menurut Ida, perkembangan otak seorang anak yang terganggu, maka kualitas pertumbuhannya juga tidak akan berjalan optimal.
Selain itu, masih banyak efek negatif yang ditimbulkan dari pemakaian gadget berlebihan. Anak di bawah umur ini sangat berisiko terpapar radiasi dari sinar ponsel yang berbahaya bagi kesehatannya.
Ketika anak bermain dengan gadget, mereka pasti hanya duduk. Alhasil, anak-anak akan kurang gerak dan menyebabkan syaraf motoriknya terganggu. Seharusnya, di usia dini seorang anak harus dibiasakan sering melakukan aktivitas fisik, seperti berlari ataupun berenang.
"Gadget juga bisa bikin susah tidur, karena semua layar mengeluarkan yang namanya blue loghy. Itu menyerupai cahaya pada siang hari. Cahaya ini dapat mengirimkan sinyal yang salah pada otak anak," gumam Ida.
Pemakaian gadget bagi anak-anak yang tanpa dibatasi, lanjut Ida, akan membuat mereka tidak pandai dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sebab, aktivitas mereka kebanyakan dihabiskan bersama beda mati seperti handphone dan tablet.
"Sementara anak perlu belajar membaca emosi orang lain, social skill dan socializm," ucapnya.
Bila sudah kecanduan gawai, bukan mustahil anak bisa mengalami depresi, sehingga otak tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Sehingga berimbas pada jiwanya yang terganggu dan menjadi lebih agresif.
"Seringnya anak-anak berinteraksi dengan gadget akan membuat kebiasaan dan bisa memunculkan kecanduan. Penelitian gentile menyebutkan 1 dari 11 anak yang berusia antara 8-18 tahun kecanduan teknologi gadget," ujarnya.
Cara Positif Gunakan Gadget
Ibu empat anak itu lantas memberi solusi terbaik bagi para orangtua yang kadung membekali anaknya dengan gadget. Mereka, kata Ida harus mampu mengatur jadwal pemakaian gadget oleh sang buah hati.
"Anak-anak diberi pijakan jika menggunakan gadget. Jaga jarak pandang antara mata dan layar, atur tingkat terang dan gelapnya. Harus beristirahat setiap 10-20 menit sekali," tutur Ida.
Baik ayah maupun ibu lanjut Ida, juga harus menjadi teladan bagi anaknya, yakni tidak sering memijat layar gadget saat sedang bersama anak-anak. Ketimbang bermain gadget, Ida menyarankan orangtua lebih baik mengajak anaknya membaca buku bersama sambil menceritakan hal-hal menarik dari dalam buku tersebut.
"Hanya hari-hari tertentu saja dibolehkan bermain gadget. Arahan dan pijakan disesuaikan dengan budaya, kebutuhan dan kepentingan keluarga masing-masing," katanya mengakhiri.
(Rizka Diputra)