3. Puisi Sri Mulyani vs Prabowo
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan pernyataan mengejutkan dalam pidatonya di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Sabtu 25 Januari 2019 lalu. Ia menyebut pemimpin di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai Menteri Pencetak Utang.
"Menurut saya, jangan disebut lagi Menteri Keuangan, tapi mungkin Menteri Pencetak Utang,” ungkapnya.
Sontak, pernyataan tersebut membuat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati geram dan menulis sebuah puisi di akun Facebook-nya, Jumat 1 Februari 2019.
Berikut puisi karya Sri Mulyani:
Kami menyelesaikan
Ribuan kilometer jalan raya, tol, jembatan untuk rakyat, untuk kesejahteraan
Kami menyelesaikan
Puluhan embung dan air bersih bagi jutaan saudara kita yang kekeringan
Puluhan ribu rumah, untuk mereka yang memerlukan tempat berteduh
Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang, kami bekerja menyediakan subsidi
Jutaan sambungan listrik untuk rakyat untuk menerangi kehidupan, hingga pelosok
Kami terus bekerja
Meringankan beban hidup 10 juta keluarga miskin
Menyediakan bantuan pangan 15 juta keluarga miskin
Menyekolahkan 20 Juta anak miskin untuk tetap dapat belajar menjadi pintar
Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,
Kami bekerja siang malam
Menyediakan jaminan, agar 96.8 Juta rakyat terlindungi dan tetap sehat.
Merawat Ratusan ribu sekolah dan madrasah, agar mampu memberi bekal ilmu dan taqwa, bagi puluhan juta anak-anak kita untuk membangun masa depannya
Kami tak pernah berhenti, agar 472 000 mahasiswa menerima beasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan 20.000 generasi muda dan dosen berkesempatan belajar di universitas terkemuka dunia untuk jadi pemimpin harapan bangsa.
Puluhan juta petani mendapat subsidi pupuk, benih dan alat pertanian, 170.400 hektar sawah beririgasi untuk petani
Jutaan usaha kecil mikro memiliki akses modal yang murah
Jutaan penumpang kereta dan kapal yang menikmati subsidi tiket
Jutaan keluarga menikmati bahan bakar murah
Jutaan pegawai negeri, guru, prajurit, polisi, dokter, bidan, dosen hingga peneliti mendapat gaji dan tunjangan untuk mengabdi negeri
Terus, Kami terus bekerja, agar 74.953 desa mampu membangun, membasmi kemiskinan. 8.212 kelurahan terbantu untuk melayani rakyat lebih baik
Triliunan rupiah tersedia
Membantu saudara kita yang terkena bencana membangun kembali kehidupannya
Dan masih banyak lagi yang aku mau ceritakan padamu
Agar engkau TIDAK LUPA
Karena itu adalah cerita tentang kita MEMBANGUN INDONESIA
Aku tak ingin engkau lupa itu.
sama seperti aku tak ingin engkau lupa akan sejarah negeri kita.
5. Doa yang Ditukar vs Puisi Romahurmuzy
Fadli Zon menulis puisi yang berjudul ‘Doa Yang Ditukar’ dalam akun Twitter-nya pada Minggu, 3 Februari 2019. Puisi tersebut ditulis setelah terjadinya momen KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen mengucap nama Jokowi menjadi Prabowo dalam doanya.
Puisi Fadli pun mendapat balasan dari Romahurmuzy. Ia turut menulis puisi di akun Twitter-nya pada tanggal yang sama. Menurutnya, puisi tersebut ditujukan kepada pihak yang mempermainkan doa Mbah Moen.
Berikut puisi karya Fadli Zon:
DOA YANG DITUKAR
Doa sakral
Seenaknya kau begal
Disulam tambal
Tak punya moral
Agama diobral
Doa sakral
Kenapa kau tukar
Direvisi sang bandar
Dibisiki kacung makelar
Skenario berantakan bubar
Pertunjukan dagelan vulgar
Doa yang ditukar
Bukan doa otentik
Produk rezim intrik
Penuh cara-cara licik
Kau penguasa tengik
Ya Allah
Dengarlah doa-doa kami
Dari hati pasrah berserah
Memohon pertolonganMu
Kuatkanlah para pejuang istiqomah
Di jalan amanah.
Berikut puisi karya Romahurmuzy:
KATANYA BELA ULAMA
Kyai paling sepuh pun kau nista
Dengan aneka meme dan cela
Katanya bela agama
Tapi kau halalkan semua
Tuk gelapkan siang sebelum waktunya
Katanya hasil ijtima'
Baca qur'an pun kau hindari dengan berbagai cara
Jadi sebenarnya kau makhluk apa?
Editan atau manusia
Sungguh kasihan umat Islam Indonesia
Di atas namai bela agama
Tuk dukung kelompoknya
Umat dibuat tak tahu dengan sengaja
Bahwa syariat Islam pun dinista
Karena salat dan puasa Ramadhan pun tak dijalaninya
Kukatakan karena aku menyaksikannya
Semoga tobat dipilihnya
Meski politik sebabnya
(Arief Setyadi )