JAKARTA - Menjelang Pemilu 2019, persaingan antara kedua kubu pasangan calon presiden semakin bergejolak. Berbagai upaya dilakukan untuk saling menyindir, menyerang, dan mengkritik. Mulai dari kritikan pedas hingga sindiran halus lewat puisi.
Baru-baru ini, sebuah puisi karya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menjadi polemik karena menuai pro-kontra. Puisi Wakil Ketua DPR RI itu menimbulkan kesan menyinggung warga Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur yang mendukung calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.
(Baca Juga: Potensi Politik Uang di Pemilu 2019)
Puisi Fadli Zon pun berbalas. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy yang ada di barisan koalisi Jokowi turut menulis puisi. Terjadilah perang puisi antara kubu petahana dan oposisi.
Berikut ini Okezone rangkum puisi yang dilontarkan dari masing-masing kubu, Jumat (8/2/2019):
1. Puisi Sontoloyo vs Semprul
Puisi Sontoloyo ditulis Fadli Zon di akunTwitternya pada 25 Oktober 2018. Puisi ini menyikapi kata ‘sontoloyo’ yang keluar dari mulut Jokowi saat berpidato. Disinyalir, puisi ini bentuk serangan ke pihak petahana. Kemudian, puisi tersebut mendapat balasan dari Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir, dengan judul 'Semprul'.
Berikut puisi karya Fadli Zon:
SONTOLOYO!
Kau bilang ekonomi meroket
Padahal nyungsep meleset
Sontoloyo!
Kau bilang produksi beras berlimpah
Tapi impor tidak kau cegah
Sontoloyo!
Kau bilang pengangguran turun
Orang cari kerja makin berjibun
Sontoloyo!
Utang numpuk bertambah
Rupiah anjlok melemah
Harga-harga naik merambah
Hidup rakyat makin susah
Kau jamu tuan asing bermewah-mewah
Rezim sontoloyo!
Fadli Zon, 25 Oktober 2018
Berikut puisi karya Inas:
SEMPRUL
Kau ini politikus semprul
Seringkali kau sok tahu
Padahal kau kura-kura dalam perahu
Kau berteriak agar nampak garang
Padahal kau mager keluar kandang
Kau ini politikus semprul
Kau bilang asing kuasai Indonesia
Padahal itu kerjaan mantan mertua
Kini direbut jadi milik bangsa
Tapi kau nyinyir bak kakek tua renta
Kau ini politikus semprul
Sontoloyo itu nasihat untukmu
Tapi kau suruh anak buahmu
Ngoceh beras, rupiah dan utang
Padahal dia berpikir pun agak kurang
2. Ada Genderuwo di Istana vs Ada Genderuwo di Senayan
Fadli Zon kembali membuat puisi guna menyerang kubu Jokowi. Puisi tersebut diunggah di akun Twitter-nya pada 11 November 2018. Alhasil, Sekretaris Jenderal PPP, Asrul Sani turut membuat puisi untuk membalas karya Fadli tersebut.
Berikut puisi karya Fadli Zon:
ADA GENDERUWO DI ISTANA
Ada genderuwo di istana
Tak semua orang bisa melihatnya
Kecuali yang punya indra istimewa
Makhluk halus rendah strata
Menakuti penghuni rumah penguasa
Berubah wujud kapan saja
Menjelma manusia
Ahli manipulasi
Tipu sana tipu sini
Ada genderuwo di istana
Seram berewokan mukanya
Kini sudah pandai berpolitik
Lincah manuver strategi dan taktik
Ada genderuwo di istana
Menyebar horor ke pelosok negeri
Meneror ibu pertiwi
Berikut puisi karya Arsul Sani:
ADA GENDERUWO DI SENAYAN
Ada genderuwo di Senayan....
Pretensinya menjadi wakil rakyat yang lumayan...
Tapi pretensinya mengundang tanya apa iya kesampaian....
Ada Genderuwo di Senayan....
Tak begitu jelas apa yang telah dikerjakan... selain seringnya keluar negeri jalan-jalan....
Ada Genderuwo di Senayan...
Suaranya selalu dibuat galak tapi tak sungguh menawan....
Tak jelas pula gagasan alternatifnya untuk rakyat ditawarkan...
Ada Genderuwo di Senayan...
Belajarnya dari dulu studi Russia-an...., sekarang-pun pakai jururus "Russian firehorse of falsehood" untuk kesenangan....
Ada gederuwo di Senayan....
Saya ingin mengajaknya ke jalan kontestasi yang mencerahkan....
Saya ingin genderuwo berubah jadi insan intelektual yang berpikiran menawan....
(Baca Juga: JK Nilai Prabowo "Lebay")
3. Puisi Sri Mulyani vs Prabowo
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan pernyataan mengejutkan dalam pidatonya di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Sabtu 25 Januari 2019 lalu. Ia menyebut pemimpin di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai Menteri Pencetak Utang.
"Menurut saya, jangan disebut lagi Menteri Keuangan, tapi mungkin Menteri Pencetak Utang,” ungkapnya.
Sontak, pernyataan tersebut membuat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati geram dan menulis sebuah puisi di akun Facebook-nya, Jumat 1 Februari 2019.
Berikut puisi karya Sri Mulyani:
Kami menyelesaikan
Ribuan kilometer jalan raya, tol, jembatan untuk rakyat, untuk kesejahteraan
Kami menyelesaikan
Puluhan embung dan air bersih bagi jutaan saudara kita yang kekeringan
Puluhan ribu rumah, untuk mereka yang memerlukan tempat berteduh
Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang, kami bekerja menyediakan subsidi
Jutaan sambungan listrik untuk rakyat untuk menerangi kehidupan, hingga pelosok
Kami terus bekerja
Meringankan beban hidup 10 juta keluarga miskin
Menyediakan bantuan pangan 15 juta keluarga miskin
Menyekolahkan 20 Juta anak miskin untuk tetap dapat belajar menjadi pintar
Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,
Kami bekerja siang malam
Menyediakan jaminan, agar 96.8 Juta rakyat terlindungi dan tetap sehat.
Merawat Ratusan ribu sekolah dan madrasah, agar mampu memberi bekal ilmu dan taqwa, bagi puluhan juta anak-anak kita untuk membangun masa depannya
Kami tak pernah berhenti, agar 472 000 mahasiswa menerima beasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan 20.000 generasi muda dan dosen berkesempatan belajar di universitas terkemuka dunia untuk jadi pemimpin harapan bangsa.
Puluhan juta petani mendapat subsidi pupuk, benih dan alat pertanian, 170.400 hektar sawah beririgasi untuk petani
Jutaan usaha kecil mikro memiliki akses modal yang murah
Jutaan penumpang kereta dan kapal yang menikmati subsidi tiket
Jutaan keluarga menikmati bahan bakar murah
Jutaan pegawai negeri, guru, prajurit, polisi, dokter, bidan, dosen hingga peneliti mendapat gaji dan tunjangan untuk mengabdi negeri
Terus, Kami terus bekerja, agar 74.953 desa mampu membangun, membasmi kemiskinan. 8.212 kelurahan terbantu untuk melayani rakyat lebih baik
Triliunan rupiah tersedia
Membantu saudara kita yang terkena bencana membangun kembali kehidupannya
Dan masih banyak lagi yang aku mau ceritakan padamu
Agar engkau TIDAK LUPA
Karena itu adalah cerita tentang kita MEMBANGUN INDONESIA
Aku tak ingin engkau lupa itu.
sama seperti aku tak ingin engkau lupa akan sejarah negeri kita.
5. Doa yang Ditukar vs Puisi Romahurmuzy
Fadli Zon menulis puisi yang berjudul ‘Doa Yang Ditukar’ dalam akun Twitter-nya pada Minggu, 3 Februari 2019. Puisi tersebut ditulis setelah terjadinya momen KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen mengucap nama Jokowi menjadi Prabowo dalam doanya.
Puisi Fadli pun mendapat balasan dari Romahurmuzy. Ia turut menulis puisi di akun Twitter-nya pada tanggal yang sama. Menurutnya, puisi tersebut ditujukan kepada pihak yang mempermainkan doa Mbah Moen.
Berikut puisi karya Fadli Zon:
DOA YANG DITUKAR
Doa sakral
Seenaknya kau begal
Disulam tambal
Tak punya moral
Agama diobral
Doa sakral
Kenapa kau tukar
Direvisi sang bandar
Dibisiki kacung makelar
Skenario berantakan bubar
Pertunjukan dagelan vulgar
Doa yang ditukar
Bukan doa otentik
Produk rezim intrik
Penuh cara-cara licik
Kau penguasa tengik
Ya Allah
Dengarlah doa-doa kami
Dari hati pasrah berserah
Memohon pertolonganMu
Kuatkanlah para pejuang istiqomah
Di jalan amanah.
Berikut puisi karya Romahurmuzy:
KATANYA BELA ULAMA
Kyai paling sepuh pun kau nista
Dengan aneka meme dan cela
Katanya bela agama
Tapi kau halalkan semua
Tuk gelapkan siang sebelum waktunya
Katanya hasil ijtima'
Baca qur'an pun kau hindari dengan berbagai cara
Jadi sebenarnya kau makhluk apa?
Editan atau manusia
Sungguh kasihan umat Islam Indonesia
Di atas namai bela agama
Tuk dukung kelompoknya
Umat dibuat tak tahu dengan sengaja
Bahwa syariat Islam pun dinista
Karena salat dan puasa Ramadhan pun tak dijalaninya
Kukatakan karena aku menyaksikannya
Semoga tobat dipilihnya
Meski politik sebabnya
(Arief Setyadi )