Perang Puisi Kubu Jokowi vs Prabowo

, Jurnalis
Jum'at 08 Februari 2019 20:34 WIB
Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Menjelang Pemilu 2019, persaingan antara kedua kubu pasangan calon presiden semakin bergejolak. Berbagai upaya dilakukan untuk saling menyindir, menyerang, dan mengkritik. Mulai dari kritikan pedas hingga sindiran halus lewat puisi.

Baru-baru ini, sebuah puisi karya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menjadi polemik karena menuai pro-kontra. Puisi Wakil Ketua DPR RI itu menimbulkan kesan menyinggung warga Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur yang mendukung calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

(Baca Juga: Potensi Politik Uang di Pemilu 2019)

Puisi Fadli Zon pun berbalas. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy yang ada di barisan koalisi Jokowi turut menulis puisi. Terjadilah perang puisi antara kubu petahana dan oposisi.

Berikut ini Okezone rangkum puisi yang dilontarkan dari masing-masing kubu, Jumat (8/2/2019):

1. Puisi Sontoloyo vs Semprul 

Puisi Sontoloyo ditulis Fadli Zon di akunTwitternya pada 25 Oktober 2018. Puisi ini menyikapi kata ‘sontoloyo’ yang keluar dari mulut Jokowi saat berpidato. Disinyalir, puisi ini bentuk serangan ke pihak petahana. Kemudian, puisi tersebut mendapat balasan dari Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir, dengan judul 'Semprul'.

Berikut puisi karya Fadli Zon:

SONTOLOYO!

Kau bilang ekonomi meroket

Padahal nyungsep meleset


Sontoloyo!

Kau bilang produksi beras berlimpah

Tapi impor tidak kau cegah

Sontoloyo!

 

Kau bilang pengangguran turun

Orang cari kerja makin berjibun

Sontoloyo!

 

Utang numpuk bertambah

Rupiah anjlok melemah

Harga-harga naik merambah

Hidup rakyat makin susah

Kau jamu tuan asing bermewah-mewah

 

Rezim sontoloyo!

 

Fadli Zon, 25 Oktober 2018

 

Berikut puisi karya Inas:

SEMPRUL 

Kau ini politikus semprul

Seringkali kau sok tahu

Padahal kau kura-kura dalam perahu

Kau berteriak agar nampak garang

Padahal kau mager keluar kandang


Kau ini politikus semprul

Kau bilang asing kuasai Indonesia

Padahal itu kerjaan mantan mertua

Kini direbut jadi milik bangsa

Tapi kau nyinyir bak kakek tua renta

 

Kau ini politikus semprul

Sontoloyo itu nasihat untukmu

Tapi kau suruh anak buahmu

Ngoceh beras, rupiah dan utang

Padahal dia berpikir pun agak kurang

2. Ada Genderuwo di Istana vs Ada Genderuwo di Senayan

Fadli Zon kembali membuat puisi guna menyerang kubu Jokowi. Puisi tersebut diunggah di akun Twitter-nya pada 11 November 2018. Alhasil, Sekretaris Jenderal PPP, Asrul Sani turut membuat puisi untuk membalas karya Fadli tersebut.

Berikut puisi karya Fadli Zon:

ADA GENDERUWO DI ISTANA 

Ada genderuwo di istana

Tak semua orang bisa melihatnya

Kecuali yang punya indra istimewa

 

Makhluk halus rendah strata

Menakuti penghuni rumah penguasa

Berubah wujud kapan saja

Menjelma manusia

Ahli manipulasi

Tipu sana tipu sini

 

Ada genderuwo di istana

Seram berewokan mukanya

Kini sudah pandai berpolitik

Lincah manuver strategi dan taktik

 

Ada genderuwo di istana

Menyebar horor ke pelosok negeri

Meneror ibu pertiwi


Berikut puisi karya Arsul Sani:

ADA GENDERUWO DI SENAYAN 

Ada genderuwo di Senayan....

Pretensinya menjadi wakil rakyat yang lumayan...

Tapi pretensinya mengundang tanya apa iya kesampaian....

 

Ada Genderuwo di Senayan....

Tak begitu jelas apa yang telah dikerjakan... selain seringnya keluar negeri jalan-jalan....

 

Ada Genderuwo di Senayan...

Suaranya selalu dibuat galak tapi tak sungguh menawan....

Tak jelas pula gagasan alternatifnya untuk rakyat ditawarkan...

 

Ada Genderuwo di Senayan...

Belajarnya dari dulu studi Russia-an...., sekarang-pun pakai jururus "Russian firehorse of falsehood" untuk kesenangan....

 

Ada gederuwo di Senayan....

Saya ingin mengajaknya ke jalan kontestasi yang mencerahkan....

Saya ingin genderuwo berubah jadi insan intelektual yang berpikiran menawan....

(Baca Juga: JK Nilai Prabowo "Lebay"

3. Puisi Sri Mulyani vs Prabowo

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan pernyataan mengejutkan dalam pidatonya di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Sabtu 25 Januari 2019 lalu. Ia menyebut pemimpin di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai Menteri Pencetak Utang.

"Menurut saya, jangan disebut lagi Menteri Keuangan, tapi mungkin Menteri Pencetak Utang,” ungkapnya.

Sontak, pernyataan tersebut membuat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati geram dan menulis sebuah puisi di akun Facebook-nya, Jumat 1 Februari 2019.

Berikut puisi karya Sri Mulyani:

Kami menyelesaikan

Ribuan kilometer jalan raya, tol, jembatan untuk rakyat, untuk kesejahteraan

Kami menyelesaikan

Puluhan embung dan air bersih bagi jutaan saudara kita yang kekeringan

Puluhan ribu rumah, untuk mereka yang memerlukan tempat berteduh

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang, kami bekerja menyediakan subsidi

Jutaan sambungan listrik untuk rakyat untuk menerangi kehidupan, hingga pelosok

Kami terus bekerja

Meringankan beban hidup 10 juta keluarga miskin

Menyediakan bantuan pangan 15 juta keluarga miskin

Menyekolahkan 20 Juta anak miskin untuk tetap dapat belajar menjadi pintar

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja siang malam

Menyediakan jaminan, agar 96.8 Juta rakyat terlindungi dan tetap sehat.

Merawat Ratusan ribu sekolah dan madrasah, agar mampu memberi bekal ilmu dan taqwa, bagi puluhan juta anak-anak kita untuk membangun masa depannya

Kami tak pernah berhenti, agar 472 000 mahasiswa menerima beasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan 20.000 generasi muda dan dosen berkesempatan belajar di universitas terkemuka dunia untuk jadi pemimpin harapan bangsa.

Puluhan juta petani mendapat subsidi pupuk, benih dan alat pertanian, 170.400 hektar sawah beririgasi untuk petani

Jutaan usaha kecil mikro memiliki akses modal yang murah

Jutaan penumpang kereta dan kapal yang menikmati subsidi tiket

Jutaan keluarga menikmati bahan bakar murah

Jutaan pegawai negeri, guru, prajurit, polisi, dokter, bidan, dosen hingga peneliti mendapat gaji dan tunjangan untuk mengabdi negeri

Terus, Kami terus bekerja, agar 74.953 desa mampu membangun, membasmi kemiskinan. 8.212 kelurahan terbantu untuk melayani rakyat lebih baik

Triliunan rupiah tersedia

Membantu saudara kita yang terkena bencana membangun kembali kehidupannya

Dan masih banyak lagi yang aku mau ceritakan padamu

Agar engkau TIDAK LUPA

Karena itu adalah cerita tentang kita MEMBANGUN INDONESIA

Aku tak ingin engkau lupa itu.

sama seperti aku tak ingin engkau lupa akan sejarah negeri kita.

5. Doa yang Ditukar vs Puisi Romahurmuzy

Fadli Zon menulis puisi yang berjudul ‘Doa Yang Ditukar’ dalam akun Twitter-nya pada Minggu, 3 Februari 2019. Puisi tersebut ditulis setelah terjadinya momen KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen mengucap nama Jokowi menjadi Prabowo dalam doanya.

Puisi Fadli pun mendapat balasan dari Romahurmuzy. Ia turut menulis puisi di akun Twitter-nya pada tanggal yang sama. Menurutnya, puisi tersebut ditujukan kepada pihak yang mempermainkan doa Mbah Moen.

Berikut puisi karya Fadli Zon:

DOA YANG DITUKAR 

Doa sakral

Seenaknya kau begal

Disulam tambal

Tak punya moral

Agama diobral

Doa sakral

Kenapa kau tukar

Direvisi sang bandar

Dibisiki kacung makelar

Skenario berantakan bubar

Pertunjukan dagelan vulgar

Doa yang ditukar

Bukan doa otentik

Produk rezim intrik

Penuh cara-cara licik

Kau penguasa tengik

Ya Allah

Dengarlah doa-doa kami

Dari hati pasrah berserah

Memohon pertolonganMu

Kuatkanlah para pejuang istiqomah

Di jalan amanah.

Berikut puisi karya Romahurmuzy:

KATANYA BELA ULAMA

Kyai paling sepuh pun kau nista

Dengan aneka meme dan cela

Katanya bela agama

Tapi kau halalkan semua

Tuk gelapkan siang sebelum waktunya

Katanya hasil ijtima' 

Baca qur'an pun kau hindari dengan berbagai cara

Jadi sebenarnya kau makhluk apa?

Editan atau manusia

Sungguh kasihan umat Islam Indonesia

Di atas namai bela agama

Tuk dukung kelompoknya

Umat dibuat tak tahu dengan sengaja

Bahwa syariat Islam pun dinista

Karena salat dan puasa Ramadhan pun tak dijalaninya

Kukatakan karena aku menyaksikannya

 

Semoga tobat dipilihnya

Meski politik sebabnya

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya