BEKASI - Indonesia dengan beragam kebudayaannya, merupakan cerminan sebuah bangsa. Budaya itulah yang menjadi jati diri sebuah bangsa. Bangsa tanpa budaya, tentu tidak bisa disebut sebuah bangsa. Bahkan Indonesia bisa tersohor hingga ke mancanegara, dikarenakan memiliki kebudayaan yang dinobatkan sebagai yang terbanyak di dunia.
Pelestarian budaya sejatinya merupakan tanggung jawab bangsa. Namun sayang, di era modernisasi saat ini, di mana perkembangan teknologi yang pesat serta pengaruh kebudayaan bangsa lain, berdampak pada tergerusnya budaya yang ada di tiap-tiap daerah. Indonesia saat ini seolah dalam kondisi krisis budaya. Ironisnya, banyak masyarakat yang seakan tidak peduli dan membiarkan kondisi ini terus berlanjut.
(Baca Juga: Hikayat Palang Pintu, Tradisi Betawi yang Sarat Makna)
Dari sekian banyak budaya yang tergerus, palang pintu menjadi salah satu budaya yang terbilang masih terbilang eksis meski tak lagi sesering dulu. Masih ada sejumlah komunitas yang dengan tulus berupaya melestarikan budaya asli Betawi ini.
Tokoh Betawi senior dari Jawara Betawi di Kampung Gabus, Babeh HK Damin Sada mengatakan, palang pintu diperkirakan sudah berusia lebih dari ratusan tahun. Tradisi yang biasa ditemui di pernikahan adat Betawi ini, kini memang sudah jarang ditemui. Hanya segelintir kalangan yang masih setia menyewa jasa palang pintu, sekaligus untuk hiburan warga setempat.
Menurut cerita yang tersebar di kalangan masyarakat Betawi, tradisi palang pintu bermula dari seorang tuan tanah yang memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuan tuan tanah tersebut memiliki seorang kekasih yang hendak melamarnya. Sang tuan tanah pun tak langsung menerima pinangan kekasih putrinya. Ia mengajukan sebuah syarat yang harus dilalui agar pinangan kekasih putrinya diterima.
"Nah menurut cerita, jadi di situ tuan tanah ini menerima dia tapi dengan syarat, dia harus bisa menjatuhkan centeng-centeng yang ada di rumah tuan tanah itu. Makanya kalau seseorang mau mengawini anaknya tuan tanah, itu harus diadu dulu sama centeng dia. Kalau kalah berarti tidak jadi, kalau menang lawan centengnya, berarti dia bisa nyunting anaknya," kata Babeh Damin kepada Okezone di Bekasi, Jum'at (15/2/2019).
Pria berbadan tambun yang juga Ketua Umum Jejaka Nusantara itu menyebutkan, dari cerita itu lambat laun akhirnya menjadi sebuah tradisi atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat Betawi secara turun temurun, bilamana ingin menikahkan anak perempuannya. Namun seiring waktu, ada beberapa perubahan yang terjadi dalam tradisi tersebut.
"Kita tahu kan bukan hanya diajak berantem, ya itu pun sebenarnya berkelahinya hanya bohong-bohongan aja. Pasti yang kalah itu yang punya rumah, karena kalau sampai yang punya rumah nggak kalah, berarti nggak bisa kawin. Bahkan dicampur dengan pantun kan gitu, antara yang mau nyunting dan yang mau disunting. Keluarganya jadi saling balas pantun," ujarnya.
Berdasarkan awal mula cerita, kata dia, palang pintu diyakini memiliki filosofi, bahwa segala sesuatu butuh perjuangan yang tentunya tidak mudah untuk dilalui.
"Jadi kita berjuang nggak semudah itu, pasti ada tantangannya kan. Itu kalau filosofi saya mengartikan palang pintu itu seperti itu. Jadi kita nggak gampang masuk rumah orang, tapi harus melalui tahapan-tahapan yang memang harus kita lalui. Jadi perjuangan namanya itu, palang pintu salah satunya," paparnya.
Menurutnya, saat ini palang pintu sudah mengalami pergeseran. Tradisi ini kini tak hanya digunakan untuk acara pernikahan saja, tapi bisa juga untuk acara lain yang menginginkan adanya pertunjukan komunitas ini.
"Kalau soal terjadinya pergeseran itu sudah pasti, namanya zaman ya. Jadi memang sekarang ini dipakai bukan hanya dalam rangka perkawinan, dalam rangka pergantian pejabat pun memang bisa, dari yang baru ke yang lama gitu ya. Perkembangannya memang seperti itu. Khususnya di DKI memang dipakai palang pintu," ujarnya.
Ia mengaku para pemain palang pintu merupakan orang-orang yang memang memiliki keahlian silat. Sedangkan untuk masalah tarif, komunitas palang pintu tidak pernah mematok harga khusus.
"Soal tarif itu tergantung. Katakanlah begini, kalau ada orang yang peduli seni, ada jiwa seninya, dia nggak harus matok berapa. Yang penting sudah menghibur orang, dia udah senang. Apalagi kalau dikasih lebih banyak, pasti lebih senang lagi," jelasnya.
Damin juga sangat menyayangkan kondisi budaya daerah saat ini yang sudah mulai tergerus perkembangan zaman. Namun di sisi lain ia masih bersyukur, bahwa masih banyak komunitas palang pintu yang masih eksis mengupayakan pelestarian budaya ini.
"Ya kita prihatin. Tapi ya alhamdulilah dengan banyaknya komunitas, insyaallah budaya Bekasi, budaya Betawi khususnya palang pintu, nanti akan semakin banyak komunitasnya. Dan salah satunya adalah kami di Jejaka akan siap mengawal, mengamankan dan melestarikan budaya itu," tegasnya.
(Baca Juga: Ini Makna Petasan dalam Tradisi Palang Pintu Betawi)
Ia pun berharap pemerintah daerah beserta stakeholder terkait bisa lebih berperan dalam pelestarian sebuah budaya. Karena menurutnya, negara bukanlah sebuah negara tanpa budaya di dalamnya.
"Pemerintah setempat harus punya peran, karena budaya itu merupakan salah satu bukti kita punya bangsa punya negara. Tanpa budaya nanti kita dianggapnya bangsa apa gitu. Karena budaya itu penting. Jadi tanpa budaya saya yakin kita mungkin akan jadi bangsa gelandangan, karena apa sih tanda-tandanya orang yang punya negara, kan gitu. Budaya itulah tandanya kita punya negara atau punya bangsa Indonesia seperti ini," tutupnya.
(Fiddy Anggriawan )